Lompat ke isi

Akhilles

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Achilles)
Akhilles
Lukisan tembikar polikromatik Yunani Kuno yang menggambarkan Akhilles selama Perang Troya (berasal dari ca300 SM)
KediamanPhthia
Keluarga
Orang tuaPeleus dan Thetis
SaudaraPolimelos
PasanganDeidamia, Briseis
AnakNeoptolemos, Oneiros
Khiron sedang mengajari Akhilles, James Barry, 1772.

Dalam mitologi Yunani, Akhilles (/əˈkɪlz/ simak ə-KIL-eez) atau Akhilleus (Yunani Kuno: Ἀχιλλεύς, romanized: Achilleús) adalah tokoh pahlawan dalam Perang Troya yang dikenal sebagai pejuang Yunani terhebat. Ia adalah tokoh sentral dalam Ilias karya Homer serta putra dari Nereid Thetis dan Peleus, raja Phthia dan seorang Argonaut terkenal. Akhilles dibesarkan di Phthia bersama teman masa kecilnya, Patroklos, dan menerima pendidikan dari kentaur bernama Kheiron. Dalam Ilias, ia diceritakan sebagai komandan suku mitologis Mirmidon.

Pencapaian Akhilles yang paling terkemuka dalam Perang Troya adalah saat ia membunuh pangeran Troya, Hektor, di luar gerbang Troya. Meskipun kematian Akhilles tidak diceritakan dalam Ilias, sumber-sumber lain menyebutkan bahwa ia dibunuh menjelang akhir Perang Troya oleh Paris, yang menembaknya dengan panah. Legenda-legenda yang muncul di kemudian hari (dimulai dari Achilleid, sebuah wiracarita karya Statius dari abad pertama Masehi yang tidak selesai ditulis) menyatakan bahwa seluruh tubuh Akhilles kebal, kecuali di salah satu tumitnya. Menurut legenda tersebut, ketika ibunya, Thetis, mencelupkannya ke Sungai Stiks saat ia masih bayi, Thetis memeganginya pada salah satu tumit, sehingga bagian tersebut tidak tersentuh air dan menjadi satu-satunya bagian tubuh Akhilles yang tidak kebal.

Merujuk pada legenda-legenda tersebut, istilah tumit Akhilles kemudian digunakan untuk menyebut titik kelemahan yang dapat mengakibatkan kejatuhan, khususnya pada seseorang atau sesuatu yang memiliki fondasi kuat. Nama tendon Achilles juga bersumber dari legenda yang sama.

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Tablet Linear B mencatat nama pribadi Achilleus dalam bentuk a-ki-re-u dan a-ki-re-we,[1] dengan a-ki-re-we merupakan bentuk dativus dari a-ki-re-u.[2] Nama tersebut semakin populer dan menjadi umum tidak lama setelah abad ketujuh SM[3] dan juga memiliki bentuk feminin Ἀχιλλεία (Achilleía), yang tercatat di Attika pada abad keempat SM (IG II² 1617) dan, dalam bentuk Achillia, pada stela di Halikarnassos sebagai nama seorang gladiator perempuan yang bertarung melawan seorang "Amazon".

Nama Akhilles dapat dianalisis sebagai kombinasi dari ἄχος (áchos), yang berarti 'kesusahan, rasa sakit, kesedihan, kedukaan',[4][5] dan λαός (laós), yang berarti 'rakyat, prajurit, bangsa'. Gabungan tersebut menghasilkan bentuk proto *Akhí-lāu̯os, yang dapat diartikan sebagai 'ia yang menyebabkan rakyatnya mengalami kesusahan' atau 'ia yang rakyatnya mengalami kesusahan'.[6][7][8] Kesedihan atau kesusahan yang dialami rakyat adalah tema yang berulang kali muncul dalam Ilias dan kerap pula dikaitkan dengan Akhilles sendiri. Peran Akhilles sebagai pahlawan kedukaan atau kesusahan membentuk pertentangan yang ironis dengan pandangan konvensional tentang dirinya sebagai pahlawan κλέος kléos ('kejayaan', biasanya dalam peperangan). Selain itu, Gregory Nagy, seorang profesor di bidang klasik, mengikuti filolog Leonard Palmer, menafsirkan laós sebagai 'sekelompok prajurit' atau suatu pengerahan pasukan.[7] Berdasarkan penafsiran ini, nama tersebut memperoleh makna ganda dalam puisi: ketika seorang pahlawan menjalankan perannya dengan benar, pasukannya menimbulkan kesusahan bagi pihak lawan, tetapi ketika ia menjalankan perannya dengan keliru, pasukannya sendiri mengalami penderitaan akibat perang. Puisi tersebut sebagian membahas pelampiasan amarah yang salah arah dari pihak pemimpin.

Beberapa peneliti menganggap nama tersebut sebagai sebuah kata serapan yang kemungkinan berasal dari bahasa pra-Yunani.[1] Kenyataan bahwa Akhilles merupakan putra Nereid Thetis, serta kemiripan namanya dengan nama-nama dewa sungai seperti Akheron dan Acheloios, telah menimbulkan spekulasi bahwa ia sesungguhnya merupakan dewa air kuno.[9] Robert S. P. Beekes, seorang ahli bahasa, berpendapat bahwa nama tersebut berasal dari bahasa pra-Yunani, antara lain berdasarkan keberadaan -λλ- dan -λ- secara berdampingan dalam bahasa wiracarita, yang mungkin mencerminkan fonem terpalatalisasi /ly/ dalam bahasa aslinya.[2]

Nama-nama lainnya

[sunting | sunting sumber]

Beberapa julukan yang umumnya digunakan untuk menyebut Akhilles antara lain sebagai berikut:[10]

  • Pyrisous, "diselamatkan dari api", merupakan nama pertamanya dan tampaknya mendukung tradisi yang menyatakan bahwa bagian tubuhnya yang fana dibakar oleh ibunya, Thetis
  • Aeacides, berasal dari nama kakeknya, Aiakos
  • 'Aemonius, berasal dari Aemonia, sebuah wilayah yang kemudian dikenal dengan nama Thessalia
  • Aspetos, "tak tertandingi" atau "luas", merupakan nama Akhilles di Epiros
  • Larissaeus, berasal dari Larissa (juga disebut Cremaste), sebuah kota di Akhaya Ftiotis di Thessalia
  • Ligyron, merupakan nama aslinya
  • Nereius, berasal dari ibunya, Thetis, salah satu Nereid
  • Pelides, berasal dari ayahnya, Peleus
  • Phthius, berasal dari tempat kelahirannya, Phthia
  • Podarkes, "berkaki cepat", berasal dari sayap Arke (Ἄρκη, 'tangkas') yang dipasangkan pada kakinya (πόδες, podes)[11]

Kelahiran dan masa kecil

[sunting | sunting sumber]
Thetis Mencelupkan Bayi Akhilles ke Sungai Stiks karya Peter Paul Rubens (ca1625; Museum Boijmans Van Beuningen, Rotterdam)

Akhilles merupakan putra Thetis, seorang Nereid dan putri Nereus, sang Orang Tua Laut, dan Peleus, raja bangsa Mirmidon. Zeus dan Poseidon bersaing untuk mendapatkan Thetis sebagai istri, sampai akhirnya Prometheus memperingatkan Zeus akan sebuah nubuat (yang pada awalnya disampaikan oleh Themis, dewi hukum ilahi) bahwa Thetis akan melahirkan seorang putra yang lebih hebat daripada ayahnya. Karena itu, kedua dewa tersebut menghentikan upaya mereka untuk mendapatkannya dan akhirnya Thetis dinikahkan dengan Peleus.[12]

Terdapat kisah yang memberikan versi berbeda mengenai peristiwa-peristiwa tersebut. Dalam Argonautica (4.760), Hera, saudari sekaligus istri Zeus, menyinggung penolakan Thetis yang teguh terhadap rayuan-rayuan Zeus. Hera menyatakan bahwa Thetis begitu menghormati ikatan pernikahan Hera sehingga ia dengan tenang menolak pendekatan ayah dari para dewa tersebut. Meskipun Thetis adalah putri dewa laut Nereus, ia juga dibesarkan oleh Hera, yang semakin menjelaskan penolakannya terhadap Zeus. Zeus murka atas penolakan ini dan menetapkan bahwa Thetis tidak akan pernah menikah dengan seorang dewa yang abadi.[13]

Pendidikan Akhilles, karya Eugène Delacroix, pastel di atas kertas, ca1862 (Getty Center, Los Angeles)

Menurut Achilleid karya Statius dari abad pertama Masehi serta berbagai sumber terdahulu yang kini telah hilang, ketika Akhilles lahir, Thetis berusaha menjadikannya abadi dengan mencelupkannya ke Sungai Stiks. Namun, bagian tubuh yang dipegang Thetis, yaitu tumit kirinya, tetap tidak kebal.[14][15] (lihat tumit Akhilles, tendon Achilles). Tidak diketahui secara pasti apakah versi kisah ini telah dikenal sebelumnya. Dalam versi lain dari kisah tersebut, Thetis mengolesi bayi Akhilles dengan ambrosia dan menempatkannya di atas api untuk membakar bagian-bagian tubuhnya yang fana. Namun, Peleus melihat Akhilles di dalam api dan menghentikan tindakannya, sehingga Thetis kemudian meninggalkan suami dan putranya dalam keadaan marah.[16]

Pendidikan Akhilles (ca1772), karya James Barry (Yale Center for British Art)

Tidak ada sumber sebelum Statius yang menyebutkan bahwa Akhilles kebal terhadap segala jenis serangan. Sebaliknya, dalam Ilias, Homeros menyebutkan bahwa Akhilles pernah terluka. Dalam Buku 21, pahlawan Paionia bernama Asteropaios, putra Pelagon, menantang Akhilles di Sungai Skamandros. Asteropaios dapat menggunakan kedua tangannya dengan sama baiknya dan melemparkan tombak dengan masing-masing tangan; salah satu tombak menyerempet siku Akhilles dan menyebabkan "darah menyembur".[17] Dalam beberapa fragmen dari Siklus Wiracarita yang menggambarkan kematian sang pahlawan (yaitu, Kypria, Ilias Kecil karya Leskhes dari Pyrrha, Aithiopis, dan Iliupersis karya Arktinos dari Miletos), tidak ditemukan rujukan apa pun yang menyatakan bahwa Akhilles kebal terhadap segala jenis serangan ataupun memiliki kelemahan yang terkenal pada bagian tumit. Dalam lukisan pada guci dari masa kemudian yang menggambarkan kematian Akhilles, anak panah (atau dalam banyak kasus, beberapa anak panah) digambarkan mengenai batang tubuhnya.

Peleus memercayakan Akhilles kepada Kheiron, yang tinggal di Gunung Pelion dan dikenal sebagai sosok yang paling bajik di antara para Kentaur, untuk membesarkannya.[18] Dalam beberapa catatan, nama asli Akhilles adalah "Ligyron" dan ia kemudian diberi nama Akhilles oleh gurunya, Kheiron.[19] Menurut Homeros, Akhilles dibesarkan di Phthia bersama teman masa kecilnya, Patroklos.[1] Homeros juga menulis bahwa Akhilles mengajari Patroklos berbagai hal yang ia pelajari dari Kheiron, termasuk seni pengobatan.[20] Thetis memberi tahu putranya bahwa ia menghadapi dua kemungkinan nasib: jika ia tetap berada di medan perang dan terus bertempur di sekitar kota Troya, ia akan kehilangan kesempatan untuk kembali ke tanah air, tetapi memperoleh kemasyhuran yang abadi; jika ia pulang ke tanah air, kemasyhurannya akan hilang, tetapi ia akan berumur panjang dan kematian tidak akan segera menjemputnya.[21]

Kheiron mengajari Akhilles cara bermain lira, fresko Romawi dari Herculaneum, abad pertama Masehi

Menurut Photios, buku keenam Sejarah Baru karya Ptolemaios Hephaestion melaporkan bahwa Thetis diam-diam membakar anak-anak yang dilahirkannya dari Peleus. Ketika Akhilles lahir, Peleus menyadari apa yang dilakukan Thetis dan menarik Akhilles dari api setelah tulang pergelangan kaki kanannya terbakar, kemudian ia memercayakannya kepada kentaur Kheiron. Setelah itu, Kheiron menggali kembali tubuh Damisos, yang merupakan raksasa tercepat, mengambil tulang talusnya, dan memasangkannya pada kaki kanan Akhilles yang terbakar. Photios juga menyebutkan bahwa Akhilles memiliki seorang mentor dari Kartago bernama Noemon.[22]

Deskripsi fisik

[sunting | sunting sumber]

Dalam Ilias karya Homeros, Akhilles digambarkan sebagai sosok yang tinggi dan menawan dengan kekuatan dan ketampanan yang tidak tertandingi di antara para prajurit Yunani lainnya.[23] Homeros menggambarkannya memiliki rambut panjang atau surai (χαίτη).[24][25] Rambutnya, bersama rambut beberapa tokoh lainnya, digambarkan dengan kata xanthḗ (ξανθή),[26] yang berkaitan dengan warna kuning atau keemasan dan digunakan untuk menggambarkan rambut berwarna terang. Dalam konteks rambut, istilah tersebut dapat merujuk pada berbagai rona terang, termasuk warna yang dalam istilah modern disebut pirang, cokelat muda, dan cokelat kemerahan.[27][28] Filostratos menulis bahwa kedua mata Akhilles berwarna amber dan menyerupai mata singa.[29] Sebuah catatan Latin dari masa kemudian, yang kemungkinan berasal dari abad kelima Masehi dan secara keliru dianggap sebagai karya Dares Frygios, menggambarkan Akhilles sebagai sosok yang memiliki "... dada bidang, bentuk mulut yang indah, serta lengan dan kaki yang kekar. Kepalanya ditutupi oleh rambut panjang bergelombang berwarna kecokelatan seperti kastanye (capillo myrteo, warna kulit kayu myrtus atau mur[30]) Meskipun pembawaannya lembut, ia sangat garang dalam pertempuran. Wajahnya memancarkan kegembiraan seorang pria yang dianugerahi banyak kelebihan."[31]

Disembunyikan di Skyros

[sunting | sunting sumber]
Sebuah mosaik Romawi dari Villa Poseidon di Zeugma, Commagene (sekarang disimpan di Museum Mosaik Zeugma) menggambarkan Akhilles yang menyamar sebagai perempuan dan Odiseus yang memperdayanya hingga ia mengungkapkan jati dirinya

Beberapa sumber pasca-Homerik[32] menyatakan bahwa sebagai upaya untuk melindungi Akhilles dari perang, Thetis (atau dalam beberapa versi, Peleus) menyembunyikan pemuda tersebut dengan mendandaninya seperti seorang putri atau setidaknya seorang gadis di istana Lykomedes, raja Skyros.

Di sana, Akhilles hidup dengan menyamar di antara para putri Lycomedes, mungkin dengan nama "Pyrrha" (gadis berambut merah), Cercysera, atau Aissa ("tangkas"[33]).[34] Ia menjalin hubungan dengan Deidamia, putri Lycomedes, dan memiliki dua putra darinya, yaitu Neoptolemos (juga disebut Pyrrhos, yang diambil dari kemungkinan nama samaran ayahnya) dan Oneiros. Menurut kisah ini, Odiseus mengetahui dari nabi Kalkhas bahwa bangsa Akhaia tidak akan mampu merebut Troya tanpa bantuan Akhilles. Odiseus pergi ke Skyros dengan menyamar sebagai seorang penjaja yang menjual pakaian dan perhiasan perempuan. Ia menempatkan sebuah tameng dan tombak di antara barang dagangannya. Ketika Akhilles langsung mengambil tombak tersebut, Odiseus menyadari penyamarannya dan membujuknya untuk bergabung dengan pasukan Yunani. Dalam versi lain kisah ini, Odiseus mengatur agar terompet peringatan dibunyikan ketika ia berada bersama para putri Lycomedes. Sementara para perempuan melarikan diri dalam keadaan panik, Akhilles bersiap mempertahankan istana, sehingga identitasnya pun terungkap.

Dalam Perang Troya

[sunting | sunting sumber]
Ukiran marbel Akhilles di istana Raja Lycomedes, ca240 M

Homeros merujuk pada Hellenes sebagai sebuah suku yang pada awalnya berukuran relatif kecil dan bermukim di Phthia, Thessalia, dengan pusat permukiman di Alos, Alope, Trakhia, dan Argos Pelasia.[35] Hellas Homerik ini dideskripsikan sebagai "καλλιγύναικος", kalligýnaikos, 'dengan perempuan-perempuan cantik', dan para prajuritnya, Hellenes, bersama dengan bangsa Mirmidon yang ditakuti, berada di bawah pimpinan Akhilles.

Menurut Ilias, Akhilles tiba di Troya dengan 50 kapal, yang masing-masing membawa 50 orang Mirmidon. Ia mengangkat lima orang sebagai pemimpin pasukan, yang masing-masing memimpin 500 orang Mirmidon, yaitu Menesthius, Eudoros, Peisander, Foiniks, dan Alkimedon.[36]

Ketika pasukan Yunani berangkat menuju Perang Troya, mereka secara tidak sengaja singgah di Misia, sebuah wilayah yang dipimpin oleh Raja Telefos. Terjadi pertempuran antara pasukan Yunani dengan pasukan Misia. Dalam pertempuran ini, Akhilles melukai Telefos dengan luka yang tidak kunjung sembuh. Telefos lalu berkonsultasi dengan sebuah orakel, yang menyatakan bahwa "orang yang melukainya akan menyembuhkannya". Berbekal petunjuk dari orakel tersebut, ia tiba di Argos. Di sana, Akhilles menyembuhkannya agar ia dapat menjadi pemandu mereka dalam perjalanan menuju Troya.[37]

Filostratos melaporkan bahwa meskipun Akhilles adalah orang yang melukai Telefos, Protesilaoslah yang pertama kali bertempur melawannya dan merampas perisainya. Kemudian, ketika Akhilles dan Protesilaos memperebutkan barang rampasan, perisai tersebut diberikan kepada Protesilaos.[38]

Menurut kisah lain dalam drama tentang Telefos karya Euripides yang kini telah hilang, ia pergi ke Aulis dengan menyamar sebagai seorang pengemis dan ia memohon kepada Akhilles untuk menyembuhkan lukanya. Akhilles menolak dengan alasan ia tidak memiliki pengetahuan tentang pengobatan. Dalam versi lain, Telefos menahan Orestes sebagai sandera dan meminta tebusan berupa bantuan Akhilles untuk menyembuhkan lukanya. Odiseus berpendapat bahwa tombak Akhilleslah yang menimbulkan luka itu; karenanya, tombak itu tentu dapat menyembuhkannya. Bagian-bagian dari tombak tersebut dikikis dan ditaburkan pada luka Telefos, dan ia pun sembuh.[37]

Akhilles membunuh Troilos, kylix bergambar merah dengan tanda tangan Eufronios

Menurut Kypria (salah satu bagian dari Siklus Wiracarita yang menceritakan peristiwa-peristiwa dalam Perang Troya sebelum kemarahan Akhilles), ketika pasukan Akhaia ingin kembali ke tanah air mereka, mereka ditahan oleh Akhilles. Setelah itu, Akhilles menyerang hewan ternak milik Aeneas, menjarah kota-kota di sekitarnya (seperti Pedasos dan Lyrnessos, di mana pasukan Yunani menawan Ratu Briseis), serta membunuh Tenes, putra Apollo, dan Troilos, putra Priamos, di tempat suci Apollo Thymbraios. Namun, kisah asmara antara Troilos dan Khruseis yang digambarkan dalam Troilus and Criseyde karya Geoffrey Chaucer dan kemudian dalam Troilus and Cressida karya William Shakespeare merupakan ciptaan abad pertengahan.[39][1]

Dalam De Excidio Troiae Historia karya Dares Frygios,[40] sebuah ringkasan berbahasa Latin yang menjadi media penyebaran kisah Akhilles ke Eropa abad pertengahan, serta dalam catatan-catatan yang lebih tua, Troilos adalah seorang pangeran muda Troya, putra terakhir dari lima putra sah Raja Priamos dan Hekabe (atau, menurut sumber-sumber lain, putra Apollo yang lain).[41] Meskipun masih muda, ia merupakan salah satu pemimpin utama dalam Perang Troya; menurut Homeros, ia adalah seorang "pejuang berkuda" atau "pejuang kereta perang".[42] Nubuat-nubuat mengaitkan nasib Troilos dengan nasib Troya, sehingga ia disergap dalam upaya untuk menangkapnya. Namun, Akhilles yang terpikat oleh kecantikan Troilos dan saudarinya, Poliksena, serta dikuasai oleh nafsu, mengarahkan hasrat seksualnya kepada pemuda tersebut. Troilos menolak memenuhi hasrat tersebut, sehingga akhirnya ia dipenggal di atas omphalos altar Apollo Thymbraios.[43] Versi-versi lain di kemudian hari menyatakan bahwa Troilos tidak sengaja terbunuh oleh Akhilles dalam sebuah pelukan sepasang kekasih yang terlalu bernafsu.[44] Dalam versi ini, kematian Akhilles dengan demikian menjadi pembalasan atas penistaan tersebut.[45] Para penulis kuno menggambarkan Troilos sebagai perwujudan ideal seorang anak yang kematiannya diratapi oleh kedua orang tuanya. Menurut Mitografer Vatikan pertama, seandainya Troilos hidup hingga masa dewasa, Troya akan menjadi tak terkalahkan; tetapi, motif ini telah muncul dalam karya yang lebih awal, yaitu Bacchides karya Plautus.[46]

Dalam Ilias

[sunting | sunting sumber]
Akhilles dan Agamemnon, pada mosaik dari Pompeii, abad pertama Masehi

Ilias karya Homeros adalah kisah paling terkenal mengenai perbuatan Akhilles dalam Perang Troya. Amarah Akhilles (μῆνις Ἀχιλλέως, mênis Achilléōs) adalah tema inti dari puisi tersebut. Dua baris pertama Ilias berbunyi:

Μῆνιν ἄειδε θεὰ Πηληιάδεω Ἀχιλῆος

οὐλομένην, ἣ μυρί' Ἀχαιοῖς ἄλγε' ἔθηκε, [...]

Nyanyikanlah, wahai Dewi, tentang amarah Akhilles, putra Peleus,

kemurkaan terkutuk yang mendatangkan penderitaan hebat bagi bangsa Akhaia, [...]

Akhilles menyerahkan Briseis kepada Agamemnon, fresko dari Rumah Penyair Tragis di Pompeii, abad pertama Masehi (Museum Arkeologi Nasional Napoli)

Wiracarita karya Homeros ini hanya mencakup beberapa minggu dari perang yang berlangsung selama satu dekade dan tidak mengisahkan kematian Akhilles. Wiracarita tersebut dimulai ketika Akhilles menarik diri dari medan perang setelah diperlakukan dengan tidak hormat oleh Agamemnon, komandan pasukan Akhaia. Agamemnon telah merampas seorang perempuan bernama Kriseis dan menjadikannya budak. Ayah Kriseis, Krises, seorang imam Apollo, memohon kepada Agamemnon agar ia mengembalikan putrinya ke tangannya. Agamemnon menolak permintaan tersebut, dan Apollo menimpakan wabah pada pasukan Yunani. Nabi Kalkhas berhasil mengidentifikasi penyebab wabah tersebut, tetapi ia tidak mau mengungkapkannya sebelum Akhilles bersumpah untuk melindunginya. Akhilles melakukan hal tersebut, dan Kalkhas mengumumkan bahwa Kriseis harus dikembalikan kepada ayahnya. Agamemnon menyetujuinya, tetapi kemudian memerintahkan agar budak Akhilles, Briseis, putri dari Briseus, dibawa kepadanya untuk menggantikan Kriseis. Merasa marah karena harta rampasan dan kehormatannya dirampas (dan, seperti yang ia katakan di kemudian hari, karena ia mencintai Briseis),[47] dengan dorongan ibunya, Thetis, Akhilles menolak untuk bertempur ataupun memimpin pasukannya bersama dengan pasukan Yunani lainnya. Pada saat bersamaan, dengan diliputi amarah atas perampasan yang dilakukan Agamemnon, Akhilles berdoa kepada Thetis untuk membujuk Zeus agar ia mau membantu bangsa Troya meraih keunggulan dalam perang, sehingga Akhilles dapat memulihkan kehormatannya.

Seiring dengan jalannya pertempuran yang semakin tidak memihak pasukan Yunani akibat pengaruh Zeus, Nestor mengumumkan bahwa pasukan Troya menang karena Agamemnon telah membangkitkan amarah Akhilles, dan ia meminta sang raja untuk menenangkan Akhilles. Agamemnon setuju dengan nasihat ini, dan ia mengirim Odiseus serta dua pemimpin suku, Aias dan Foiniks. Mereka berjanji bahwa jika Akhilles bersedia untuk kembali ke medan pertempuran, Agamemnon akan mengembalikan Briseis dan barang-barang rampasan lainnya. Akhilles menolak seluruh tawaran Agamemnon dan hanya mendorong pasukan Yunani untuk berlayar pulang, sebagaimana yang hendak dilakukannya sendiri.

Amarah Akhilles, fresko karya Giovanni Battista Tiepolo (1757, Villa Valmarana ai Nani, Vicenza)

Pasukan Troya yang dipimpin oleh Hektor kemudian mendesak mundur pasukan Yunani ke arah pantai dan menghancurkan kapal-kapal Yunani. Dengan kondisi pasukan Yunani berada di tepi kehancuran absolut, Patroklos memimpin pasukan Mirimdon ke medan pertempuran dengan mengenakan zirah milik Akhilles, meskipun Akhilles tetap berdiam diri di tendanya. Patroklos berhasil mendorong pasukan Troya pergi dari pantai, tetapi ia dibunuh oleh Hektor sebelum ia dapat memimpin serangan yang layak ke Kota Troya.

Setelah menerima berita kematian Patroklos dari putra Nestor, Antilokhos, Akhilles berduka atas kematian teman tercintanya tersebut. Thetis datang untuk menghiburnya. Ia membujuk Hefaistos agar membuatkan zirah yang baru untuk Akhilles, menggantikan zirah yang telah dikenakan Patroklos dan sekarang dirampas oleh Hektor. Zirah baru tersebut mencakup Perisai Akhilles sebagaimana yang digambarkan dengan sangat detail dalam puisi tersebut.

Diliputi kemarahan atas kematian Patroklos, Akhilles mengakhiri penolakannya untuk bertempur. Ia datang ke medan perang, membunuh banyak orang dalam amarahnya sambil tetap mencari Hektor. Akhilles bahkan terlibat dalam pertempuran dengan dewa sungai Skamandros, yang marah karena Akhilles mengotori airnya dengan jenazah orang-orang yang ia bunuh. Dewa tersebut berusaha menenggelamkan Akhilles, tetapi tindakannya dihentikan oleh Hera dan Hefaistos. Zeus sendiri menyadari besarnya amarah Akhilles dan ia mengutus para dewa untuk menahannya agar Akhilles tidak sampai menjarah Troya sebelum waktu yang telah ditetapkan bagi kehancuran kota itu tiba. Hal ini seolah-olah menunjukkan bahwa amarah Akhilles yang tak terbendung bahkan mampu menentang takdir itu sendiri. Akhirnya, Akhilles menemukan mangsanya.

Kejayaan Akhilles, fresko karya Franz von Matsch yang tersimpan di Achilleion, Yunani

Akhilles mengejar Hektor dengan mengelilingi tembok Troya sebanyak tiga kali sebelum Athena, yang menyamar sebagai Deifobos, saudara laki-laki Hektor yang paling disayanginya, membujuk Hektor untuk berhenti melarikan diri dan bertatap muka melawan Akhilles. Setelah Hektor menyadari tipuan tersebut, ia tahu bahwa pertempuran adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Dengan keinginan untuk bertempur, ia menyerang Akhilles hanya dengan satu-satunya senjata yang ia miliki, pedangnya. Namun, ia gagal. Hektor menerima takdirnya, dan meminta kepada Akhilles agar ia tidak mengampuni nyawanya, tetapi agar memperlakukan tubuhnya dengan penuh hormat setelah Akhilles membunuhnya. Akhilles berkata kepada Hektor bahwa permintaan tersebut mustahil untuk dikabulkan, dengan menyatakan bahwa "amarahku, kemurkaanku, kini mendorongku untuk mencincang dagingmu dan melahapmu mentah-mentah. Begitu hebat penderitaan yang telah kau timbulkan untukku."[48] Kemudian, Akhilles membunuh Hektor dan menyeret jenazahnya dengan menarik kedua tumitnya di belakang kereta perang. Setelah ia mengalami mimpi tentang Patroklos yang memohon kepada Akhilles agar ia mengadakan upacara untuk kematiannya, Akhilles mengadakan serangkaian permainan pemakaman untuk mengenang temannya tersebut.[49]

Ketika berduel dengan Hektor, Akhilles disebut sebagai bintang paling terang di langit, yang datang di musim gugur, anjing Orion (Sirius); pertanda buruk. Selama prosesi kremasi Patroklos, ia dibandingkan dengan Hesperos, bintang senja/barat (Venus), sementara pembakaran kayu kremasi terus berlangsung hingga Fosforus, bintang pagi/timur (juga Venus), telah terbenam.

Dengan bantuan dewa Hermes (Argeifontes), ayah Hektor, Priamos, pergi ke tenda Akhilles guna memohon kepadanya agar ia mau mengembalikan tubuh Hektor sehingga bisa dikebumikan. Akhilles melunak dan menjanjikan gencatan senjata selama masa pemakaman, yang berlangsung selama sembilan hari dengan prosesi penguburan pada hari kesepuluh (seperti dalam kisah Niobe dan anak-anaknya). Puisi tersebut berakhir dengan penggambaran upacara pemakaman Hector, sementara kehancuran Troya dan nasib akhir Akhilles sendiri masih menanti.

Penthesilea dan Memnon

[sunting | sunting sumber]
Akhilles dan Memnon bertempur, di antara Thetis dan Eos, amfora bergambar hitam Attika, ca510 SM, dari Vulci

Karya-karya di masa berikutnya, termasuk Aithiopis (abad ke-7 SM) dan sebuah karya lain berjudul Posthomerika yang digubah oleh Kointos Smyrnaios pada abad ke-4 Masehi, mengisahkan peristiwa-peristiwa lanjutan dari Perang Troya. Ketika Penthesileia, ratu bangsa Amazon dan putri Ares, tiba di Troya, Priamos berharap bahwa Penthesileia akan mengalahkan Akhilles. Setelah mengadakan gencatan senjata sementara dengan Priamos, Akhilles bertempur dan membunuh sang ratu pejuang tersebut, tetapi kemudian berduka atas kematiannya.[50]

Setelah kematian Patroklos, putra Nestor, Antilokhos, menjadi sahabat terdekat Akhilles. Akhilles menyayangi Antilokhos, sehingga Menelaos mengira bahwa Antilokhos akan menjadi orang yang paling tepat untuk memberi tahu Akhilles soal kematian Patroklos.[51] Kemudian, Memnon, putra Dewi Fajar Eos dan raja Aithiopia, membunuh Antilokhos ketika ia mengorbankan diri untuk menyelamatkan ayahnya. Menurut Imagines karya Filostratos, Akhilles meratapi kematiannya di medan perang dan berjanji kepada Antilokhos bahwa ia akan mengadakan upacara pemakaman yang agung untuknya serta balas dendam. Akhilles sekali lagi berhasil membalaskan dendamnya di medan perang, kali ini dengan membunuh Memnon.[52] Akibatnya, Eos tidak membiarkan matahari terbit sampai Zeus membujuknya. Pertempuran antara Akhilles dan Memnon akibat kematian Antilokhos serupa dengan pertempuran antara Akhilles dan Hektor akibat kematian Patroklos, kecuali bahwa Memnon, tidak seperti halnya Hektor, juga merupakan putra seorang dewi.

Banyak cendekiawan dalam bidang sastra Homeros berpendapat bahwa episode ini menginspirasi banyak detail dalam penggambaran peristiwa kematian Patroklos dan reaksi Akhilles atas hal tersebut di dalam Ilias. Episode tersebut kemudian menjadi dasar bagi wiracarita dalam siklus wiracarita Aithiopis, yang digubah setelah Ilias, kemungkinan pada abad ke-7 SM. Kini, Aithiopis sudah hilang, kecuali beberapa fragmen yang tersebar dan dikutip oleh para penulis di kemudian hari.

Akhilles dan Patroklos

[sunting | sunting sumber]
Akhilles merawat Patroklos yang terluka akibat terkena anak panah, kylix Attika bergambar merah, ca500 SM (Museum Altes, Berlin)

Hakikat hubungan Akhilles dan Patroklos telah menjadi bahan perdebatan baik dalam periode klasik maupun dalam masa modern. Dalam Ilias, hubungan mereka tampaknya merupakan model persahabatan yang sangat erat dan setia. Homeros tidak menyiratkan adanya hubungan bernuansa seksual antara Akhilles dan sahabat dekatnya, Patroklos.[53][54] Meskipun tidak terdapat bukti dalam teks Ilias yang menunjukkan bahwa Akhilles dan Patroklos merupakan sepasang kekasih, teori ini dikemukakan oleh sebagian penulis di kemudian hari. Para pengamat dari era klasik hingga saat ini sering kali menafsirkan hubungan keduanya melalui sudut pandang budaya mereka masing-masing. Pada abad ke-5 SM, ikatan mereka yang sangat kuat tersebut sering kali dipandang dalam kerangka paiderasteia, yaitu hubungan antara laki-laki yang lebih tua dengan laki-laki yang lebih muda, biasanya seorang remaja. Dalam Simposium karya Plato, para peserta dalam dialog mengenai cinta mengasumsikan bahwa Akhilles dan Patroklos merupakan sepasang kekasih; Phaidros berpendapat bahwa Akhilles adalah pihak yang lebih muda dan lebih tampan sehingga ia menduduki posisi sebagai yang dicintai, sementara Patroklos adalah pihak yang mencintai.[55] Dalam Simposium karya Xenofon, Sokrates menyatakan bahwa Akhilles dan Patroklos bukanlah sepasang kekasih, melainkan hanya memiliki hubungan platonik. Kenneth Dover, seorang cendekiawan klasik asal Inggris, berpendapat bahwa bahasa Yunani kuno tidak memiliki perbendaharaan kata untuk membedakan heteroseksual dan homoseksual,[56] sehingga seorang laki-laki diasumsikan dapat memiliki hasrat seksual terhadap laki-laki muda yang tampan sekaligus berhubungan seksual dengan perempuan. Namun, beberapa teks Yunani kuno memang mengakui bahwa sebagian laki-laki secara alamiah hanya tertarik kepada laki-laki lain, tetapi tetap menikahi perempuan dan memiliki anak karena terpaksa atau karena adat, sedangkan sebagian lainnya selalu tertarik kepada perempuan. Sepanjang sejarah, hubungan banyak pasangan laki-laki telah dibandingkan dengan hubungan Akhilles dan Patroklos untuk mengisyaratkan adanya hubungan homoseksual.[57] Seorang filolog dan ahli kajian klasik, Bernard Knox, memandang Patroklos sebagai penambat sisi kemanusiaan Akhilles yang terpendam sekaligus sebagai jembatan penuh kasih yang menghubungkan sang prajurit yang terasing dan nyaris seperti dewa itu dengan dunia manusia yang ditandai oleh empati dan kehidupan bermasyarakat. Meskipun Knox menyatakan bahwa Homeros pada awalnya menggambarkan hubungan Akhilles dan Patroklos sebagai sebuah persahabatan yang intens dan heroik (filia), bukan hubungan percintaan yang erotis, hubungan keduanya merupakan hubungan yang paling mendalam dalam wiracarita tersebut. Kematian Patroklos menghancurkan keangkuhan Akhilles yang berpusat pada dirinya sendiri, memaksanya menghadapi konsekuensi dahsyat dari tindakannya, dan memulai perubahan menyakitkan untuk mendapatkan kembali sisi kemanusiaannya. Rasa sakit akibat kehilangan Patroklos pada akhirnya mendorong Akhilles untuk menunjukkan belas kasihan kepada Priamos dan mengizinkannya menguburkan jenazah putranya, Hektor.[58]

Akhilles yang Sekarat (Achilleas thniskon) di taman Achilleion

Kematian Akhilles, bahkan jika hanya ditinjau berdasarkan sumber-sumber tertua, merupakan peristiwa yang kompleks dengan berbagai versi.[59] Dalam versi tertua mengenai kematiannya, yaitu dalam Buku 22 Ilias, Hektor, dalam napas terakhirnya, meramalkan bahwa Paris dan Apollo akan membunuh Akhilles di Gerbang Skaea yang mengarah ke Troya (menurut Statius, dengan sebuah panah menusuk tumitnya). Dalam Buku 23, arwah Patroklos yang bersedih mengunjungi Akhilles tepat saat ia mulai terlelap. Ia meminta agar tulang-tulangnya disimpan bersama dengan tulang-tulang Akhilles di guci emas milik Akhilles, hadiah dari Thetis.

Aias mengangkat tubuh Akhilles, lekitos bergambar hitam Attika dari Sisilia, ca510 SM (Staatliche Antikensammlungen, München).

Dalam Buku 11 Odisseia, Odiseus berlayar menuju dunia bawah dan bercakap-cakap dengan para arwah di sana. Salah satu arwah tersebut adalah Akhilles, yang ketika disambut sebagai "diberkati semasa hidup, diberkati pula setelah mati", menjawab bahwa ia lebih memilih menjadi seorang budak bagi tuan yang paling hina daripada menjadi raja atas seluruh orang mati. Lalu, Akhilles bertanya kepada Odiseus tentang tindakan-tindakan putranya dalam Perang Troya, dan Odiseus memberitahukannya soal tindakan-tindakan Neoptolemos.[60]

Buku 24 Odisseia memuat pernyataan arwah Raja Agamemnon mengenai kematian Akhilles: tulang-tulang Akhilles yang telah memutih setelah jenazahnya dibakar dicampurkan dengan tulang-tulang Patroklos dan dimasukkan ke dalam guci emas milik ibunya. Tulang-tulang Antilokhos, yang setelah kematian Patroklos menjadi orang yang paling dekat dengan Akhilles, disimpan secara terpisah. Permainan pemakaman yang lazim diselenggarakan untuk seorang pahlawan pun dilaksanakan, dan sebuah makam atau gundukan tanah yang besar dibangun di Hellespontos agar para pelaut yang melintas dapat mengenangnya.[61]

Dalam Aethiopis, Akhilles digambarkan hidup setelah kematiannya di Pulau Leuke di muara Sungai Dunabe. Versi lain tentang kematian Akhilles adalah ia jatuh cinta kepada salah satu putri Troya, Poliksena. Akhilles meminta kepada Priamos agar Poliksena dinikahkan dengannya. Priamos menerima permintaan tersebut, karena hal ini dapat berarti akhir dari perang dan sebuah aliansi dengan prajurit terhebat dunia. Namun, ketika Priamos sedang mengawasi pernikahan Poliksena dan Akhilles yang berlangsung secara tertutup, Paris, yang harus melepaskan Helen jika Akhilles menikahi saudarinya, bersembunyi di semak-semak dan membunuh Akhilles dengan panah ilahi. Menurut Apollodoros, setelah kematiannya, ia menikahi Medeia di Padang Elision.[62]

Nasib zirah Akhilles

[sunting | sunting sumber]
Oinokhoe, ca520 SM, Aias dan Odiseus memperebutkan zirah Akhilles

Zirah Akhilles menjadi objek perselisihan antara Odiseus dan Aias Agung. Mereka memperebutkannya dengan menyampaikan pidato untuk menjelaskan mengapa masing-masing diri mereka layak dianggap sebagai orang yang paling berani setelah Akhilles di hadapan para tawanan Troya. Setelah mempertimbangkan pidato keduanya, para tawanan tersebut memutuskan bahwa Odiseus lebih layak memperoleh zirah itu. Merasa murka, Aias mengutuk Odiseus, dan hal ini membangkitkan kemarahan Athena. Sang dewi untuk sementara waktu membuat Aias begitu gila karena kesedihan dan penderitaannya sehingga ia mulai membunuh domba-domba karena ia mengira mereka adalah rekan-rekannya. Setelah beberapa saat, ketika Athena menghilangkan kegilaannya dan Aias menyadari bahwa sebenarnya ia telah membunuh kawanan domba, ia merasa sangat malu dan memutuskan untuk bunuh diri. Odiseus pada akhirnya memberikan zirah tersebut kepada putra Akhilles, Neoptolemos. Belakangan, ketika Odiseus bertemu dengan arwah Aias di Rumah Hades,[63] Aias masih sangat marah atas hasil akhir persaingan mereka sehingga ia menolak berbicara dengan Odiseus.

Zirah yang mereka perebutkan dibuat oleh Hefaistos sehingga zirah tersebut jauh lebih kuat dan lebih indah daripada zirah apapun yang dapat dibuat oleh manusia. Thetis memerintahkan agar perlengkapan perang itu dibuat untuk Akhilles karena perlengkapan pertamanya dikenakan oleh Patroklos ketika ia pergi berperang dan kemudian dirampas oleh Hektor setelah membunuh Patroklos. Perisai Akhilles juga dibuat oleh sang dewa api. Tombaknya yang legendaris diberikan oleh mentornya, Kheiron, sebelum ia berpartisipasi dalam Perang Troya. Tombak ini disebut Tombak Pelian dan konon tidak ada manusia lain yang mampu mengangkat dan menggunakannya.

Sebuah relik yang diklaim sebagai tombak berkepala perunggu milik Akhilles disimpan selama berabad-abad di kuil Athena pada akropolis Faselis, Likia, sebuah pelabuhan di Teluk Pamfilia. Aleksander Agung mengunjungi kota tersebut pada tahun 333 SM. Ia memandang dirinya sebagai Akhilles baru dan membawa Ilias bersamanya, tetapi para biografer istana tidak menyinggung soal tombak tersebut. Tombak itu, bagaimanapun, disebut oleh Pausanias pada abad ke-2 Masehi.[64][65]

Akhilles, Aias, dan permainan petteia

[sunting | sunting sumber]

Banyak lukisan pada tembikar menggambarkan suatu kisah yang tidak disebutkan dalam tradisi sastra. Pada suatu waktu dalam perang, Akhilles dan Aias memainkan sebuah permainan papan (petteia).[66][67] Mereka begitu larut dalam permainan tersebut hingga tidak menyadari pertempuran yang berlangsung di sekitar mereka.[68] Pasukan Troya menyerang dan mencapai keduanya. Mereka diselamatkan oleh intervensi Athena.[69]

Lihat juga

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 Dorothea Sigel; Anne Ley; Bruno Bleckmann. "Achilles". Dalam Hubert Cancik; et al. (ed.). Achilles. Brill's New Pauly. Brill Reference Online. doi:10.1163/1574-9347_bnp_e102220. Diakses tanggal 5 Mei 2017.
  2. 1 2 Robert S. P. Beekes, Etymological Dictionary of Greek, Brill, 2009, hlm. 183ff.
  3. Basis data epigrafis mencatat 476 kemunculan bentuk Ἀχιλ-. Di antaranya, yang paling awal berasal dari Korintus pada abad ke-7 SM, Delphi pada tahun 530 SM, serta Attika dan Elis pada abad ke-5 SM.
  4. Liddell, Henry George; Scott, Robert (1889). An Intermediate Greek-English Lexicon. Clarendon Press via Perseus Digital Library.
  5. Skolia terhadap Ilias, 1.1.
  6. Leonard Palmer (1963). The Interpretation of Mycenaean Greek Texts. Oxford: Clarendon Press. hlm. 79.
  7. 1 2 Gregory Nagy. "The best of the Achaeans". CHS. The Center for Hellenic Studies, Harvard University. Diarsipkan dari asli tanggal 2 April 2015. Diakses tanggal 19 Maret 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. Harper, Douglas. "achilles". Online Etymology Dictionary.
  9. Cf. pandangan yang mendukung dari Hildebrecht Hommel (1980). "Der Gott Achilleus". Sitzungsberichte der Heidelberger Akademie der Wissenschaften (1): 38–44. –Pandangan kritis dikemukakan oleh J. T. Hooker (1988). "The cults of Achilleus". Rheinisches Museum für Philologie. 131 (3): 1–7.
  10. Artikel ini mengandung teks dari suatu publikasi yang sekarang berada di domain publik: Murray, John (1833). A Classical Manual: Being a Mythological, Historical and Geographical Commentary on Pope's Homer, and Dryden's Aeneid of Virgil, with a Copious Index. Albemarle Street, London. hlm. 1–3.
  11. Ptolemy Hephaestion, New History, Buku 6 (ringkasan dari Photios, Myriobiblon 190, diterjemahkan oleh Pearse): "Dikatakan... bahwa ia [Akhilleus (Akhilles)] disebut Podarkes (Podarces, Berkaki Cepat) oleh sang Penyair [yaitu Homeros], karena, menurut kisah tersebut, Thetis memberikan sayap Arke (Arce) kepada bayi yang baru dilahirkannya, dan Podarkes berarti bahwa kakinya memiliki sayap Arke. Arke adalah putri Thaumas dan saudara perempuannya adalah Iris; keduanya memiliki sayap, tetapi, selama petarungan para dewa melawan Titanes (para Titan), Arke terbang meninggalkan perkemahan para dewa dan bergabung dengan para Titan. Setelah kemenangan dalam petarungan tersebut, Zeus mencabut sayapnya sebelum melemparkannya ke Tartaros dan, ketika ia menghadiri pernikahan Peleus dan Thetis, ia membawa sayap tersebut sebagai hadiah untuk Thetis."
  12. Aiskhilos, Prometheus yang Terbelenggu 755–768; Pindaros, Nemean 5.34–37, Isthmian 8.26–47; Pseudo-Apollodoros, Bibliotheke 3.13.5; Poeticon astronomicon 2.15.
  13. Pseudo-Apollodoros, Bibliotheke 3.13.5.
  14. Statius, Achilleid 1.269; Hyginus, Fabulae 107.
  15. Jonathan S. Burgess (2009). The Death and Afterlife of Achilles. Baltimore: Johns Hopkins University Press. hlm. 9. ISBN 978-0-8018-9029-1. Diakses tanggal 5 Februari 2010.
  16. Apollonios dari Rodos, Argonautika 4.869–879.
  17. Homeros (terjemahan Robert Fagles). The Iliad. hlm. 525. Namun, (tombak) yang lain menyerempet lengan kanan Akhilles yang kuat, dan darah berwarna gelap menyembur ketika tombak itu melesat melewati punggungnya{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  18. Hesiod, Katalog Wanita, fr. 204.87–89 MW; Ilias 11.830–832.
  19. Apollodoros, Bibliotheke, Buku III 3.13.6
  20. Homeros, Ilias Book XI 822-836
  21. Ilias 9.410ff.
  22. Photius, Bibliotheke, kod. 190: "Thetis membakar anak-anak yang dilahirkannya dari Peleus di sebuah tempat rahasia; enam anak lahir; ketika ia melahirkan Akhilles, Peleus mengetahuinya dan menarik Akhilles dari atas kobaran api, dengan hanya kakinya yang terbakar, lalu memercayakannya kepada Kheiron. Kheiron kemudian menggali kembali tubuh sang raksasa, Damisos, yang dikuburkan di Pallene—Damisos adalah raksasa tercepat di antara semua raksasa—mengambil 'astragalos' di tubuh raksasa tersebut, dan memasangkannya pada kaki Akhilles menggunakan 'bahan-bahan'. 'Astragalos' ini terlepas ketika Akhilles dikejar oleh Apollo dan karena itulah Akhilles terjatuh dan terbunuh. Di sisi lain, dikatakan bahwa ia disebut Podarkes oleh Sang Penyair, karena, menujrut kisah tersebut, Thetis memberikan sayap Arke kepada bayi yang baru lahir itu, dan Podarkes berarti bahwa kakinya memiliki sayap Arke."
  23. Strauss, Barry (2007). The Trojan War: A New History (dalam bahasa Inggris). Simon and Schuster. hlm. 87. ISBN 978-0-7432-6442-6.
  24. Homer, Ilias, 23.141 (dalam bahasa Yunani)
  25. χαίτη. Liddell, Henry George; Scott, Robert; A Greek–English Lexicon at the Perseus Project
  26. Myres, John Linton (1967). Who were the Greeks?, hlm. 192–199. University of California Press.
  27. ξανθός. Liddell, Henry George; Scott, Robert; A Greek–English Lexicon at the Perseus Project
  28. Woodhouse, Sidney Chawner (1910). English–Greek Dictionary: A Vocabulary of the Attic Language. London: Routledge & Kegan Paul Limited. hlm. 52, 84, 101.
  29. Maxwell-Stuart, P. G (1981). Studies in Greek colour terminology: Volume 2. Brill. hlm. 19.
  30. Navarro Antolín, Fernando (1996). Lygdamus: Corpus Tibullianum III. 1-6: Lygdami Elegiarum Liber : Edition and Commentary. Belgia: E.J. Brill. hlm. 309.
  31. Dares Frygios, De excidio Troiae historia 13
  32. Euripides, Skyrioi, yang hanya bertahan dalam bentuk fragmen; Filostratos Muda, Imagines i; skholias pada Ilias karya Homeros, 9.326; Ovidius, Metamorphoses 13.162–180; Ovidius, Tristia 2.409–412 (yang menyinggung tragedi Romawi mengenai hal ini); Pseudo-Apollodoros, Bibliotheke 3.13.8; Statius, Achilleid 1.689–880, 2.167ff.
  33. Graves, Robert (2017). The Greek Myths – The Complete and Definitive Edition. Penguin Books Limited. hlm. Index s.v. Aissa. ISBN 978-0-241-98338-6.
  34. Graves, Robert (2017). The Greek Myths – The Complete and Definitive Edition. Penguin Books Limited. hlm. 642. ISBN 978-0-241-98338-6.
  35. Homeros. Ilias, 2.681–685.
  36. Ilias 16.168–197.
  37. 1 2 Pseudo-Apollodoros. "Bibliotheke, Epitome 3.20". theoi.com.
  38. Filostratos, Heroica 23.24–25
  39. "Proclus' Summary of the Cypria". Stoa.org. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Oktober 2009. Diakses tanggal 9 Maret 2010.
  40. "Dares' account of the destruction of Troy, Greek Mythology Link". Homepage.mac.com. Diarsipkan dari asli tanggal 30 November 2001. Diakses tanggal 9 Maret 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  41. Pseudo-Apollodoros, Bibliotheke 3.151.
  42. Ilias 24.257. Cf. Vergilius, Aeneis 1.474–478.
  43. Pseudo-Apollodoros, Bibliotheke Epitome 3.32.
  44. Skholia terhadap Lycophron 307; Servius, Skholia terhadap Aeneid PP A.1.474
  45. Davidson, James (19 Juli 2007). "Zeus Be Nice Now". London Review of Books. Diarsipkan dari asli tanggal 11 Oktober 2007. Diakses tanggal 1 Maret 2026.
  46. Plautus, Bacchides 953ff.
  47. Ilias 9.334–343.
  48. "The Iliad", terjemahan Fagles. Penguin Books, 1991: 22.346.
  49. Lattimore, Richmond (2011). The Illiad of Homer. Chicago: The University of Chicago. ISBN 978-0-226-46937-9.
  50. Propertius, 3.11.15; Kointos Smyrnaios 1.
  51. Filostratos, Imagines, 2.7.1 (Naskah asli dalam bahasa Yunani)
  52. Filostratos, Imagines, 2.7.2 (Naskah asli dalam bahasa Yunani)
  53. Robin Fox (2011). The Tribal Imagination: Civilization and the Savage Mind. Harvard University Press. hlm. 223. ISBN 978-0-674-06094-4. Tidak ada bukti dalam naskah Ilias yang menunjukkan bahwa Akhilles dan Patroklos merupakan sepasang kekasih.
  54. Martin, Thomas R (2012). Alexander the Great: The Story of an Ancient Life. Cambridge University Press. hlm. 100. ISBN 978-0-521-14844-3. Namun, sumber-sumber kuno tidak menyatakan hal yang dikemukakan oleh para cendekiawan modern, bahwa Aleksander dan sahabat dekatnya, Hefaistion, adalah sepasang kekasih. Akhilles dan sahabatnya yang juga sangat dekat, Patroklos, menjadi model legendaris bagi hubungan persahabatan seperti itu, tetapi, Homeros dalam Ilias tidak pernah menyiratkan bahwa keduanya melakukan hubungan seksual satu sama lain. (Hal itu baru dikemukakan oleh para penulis pada masa-masa berikutnya).
  55. Plato, Simposium, 180a; topik mengenai ketampanan Akhilles telah disinggung dalam Ilias 2.673–674.
  56. Dover, Kenneth (1989) [1978]. Greek Homosexuality. Harvard University Press. hlm. 1 et passim. ISBN 0-674-36270-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  57. Clarke, W. M. (1978). "Achilles and Patroclus in Love". Hermes. 106 (3): 381–396. ISSN 0018-0777.
  58. Knox, Bernard (1990). "Achilles". Grand Street. 9 (3): 129–150. doi:10.2307/25007374. ISSN 0734-5496.
  59. Abrantes 2016: c. 4.3.1
  60. Odisseia 11.467–564.
  61. Richmond Lattimore (2007). The Odyssey of Homer. New York: Harper Perennial. hlm. 347. ISBN 978-0-06-124418-6.
  62. Dräger, paras. 1, 4; Apollodoros, E.5.5.
  63. Odisseia 11.543–566
  64. Fox, Robin Lane (1973). Alexander the Great. hlm. 144. Aleksander tiba untuk beristirahat di Faselis, sebuah kota pantai yang kemudian terkenal karena memiliki tombak asli milik Akhilles.
  65. Pausanias, iii.3.6; lihat Jacob, Christian; Mullen-Hohl, Anne (1980). "The Greek Traveler's Areas of Knowledge: Myths and Other Discourses in Pausanias' Description of Greece". Rethinking History: Time, Myth, and Writing. Yale French Studies. Vol. 59. hlm. 5–85, khususnya 81. JSTOR 2929815.
  66. "Petteia". Diarsipkan 9 Desember 2006 di Wayback Machine.
  67. "Greek Board Games". Diarsipkan 8 April 2009 di Wayback Machine.
  68. "Latrunculi". Diarsipkan 15 September 2006 di Wayback Machine.
  69. Ioannis Kakridis (1988). Ελληνική Μυθολογία [Mitologi Yunani]. Athena: Ekdotiki Athinon. Vol. 5, hlm. 92.

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]
  • Apollodoros, Apollodorus. The Library, Volume II: Book 3.10-end. Epitome, diterjemahkan oleh James G. Frazer, Loeb Classical Library No. 122, Cambridge, Massachusetts, Harvard University Press, 1921. ISBN 978-0-674-99136-1. Harvard University Press. Perseus Digital Library.
  • Ileana Chirassi Colombo (1977), "Heroes Achilleus – Theos Apollon". Dalam Il Mito Greco, edd. Bruno Gentili dan Giuseppe Paione. Roma: Edizione dell'Ateneo e Bizzarri.
  • Dräger, Paul, "Medea", dalam Brill's New Pauly: Encyclopaedia of the Ancient World. Antiquity, Volume 8, Lyd Mine, disunting oleh Hubert Cancik dan Helmuth Schneider, Leiden, Brill, 2006. ISBN 9004122710.
  • Anthony Edwards (1985a), "Achilles in the Underworld: Iliad, Odyssey, and Æthiopis". Greek, Roman, and Byzantine Studies. 26: hlm. 215–227.
  • Anthony Edwards (1985b), "Achilles in the Odyssey: Ideologies of Heroism in the Homeric Epic". Beiträge zur klassischen Philologie. 171.
  • Edwards, Anthony T. (1988). "ΚΛΕΟΣ ΑΦΘΙΤΟΝ and Oral Theory". The Classical Quarterly. 38: 25–30. doi:10.1017/S0009838800031220. S2CID 170947595.
  • Graves, Robert, The Greek Myths, Harmondsworth, London, England, Penguin Books, 1960. ISBN 978-0143106715
  • Graves, Robert, The Greek Myths: The Complete and Definitive Edition. Penguin Books Limited. 2017. ISBN 978-0-241-98338-6
  • Guy Hedreen (1991). "The Cult of Achilles in the Euxine". Hesperia. 60 (3). American School of Classical Studies at Athens: 313–330. doi:10.2307/148068. JSTOR 148068.
  • Karl Kerényi (1959). The Heroes of the Greeks. New York/London: Thames and Hudson.
  • Templat:PWRE
  • Joachim Latacz (2010). "Achilles". Dalam Anthony Grafton; Glenn Most; Salvatore Settis (ed.). The Classical Tradition. Cambridge, MA: Harvard University Press. hlm. 3–5. ISBN 978-0-674-03572-0.
  • Hélène Monsacré (1984), Les larmes d'Achille. Le héros, la femme et la souffrance dans la poésie d'Homère, Paris: Albin Michel.
  • Gregory Nagy (1984), The Name of Achilles: Questions of Etymology and 'Folk Etymology, Illinois Classical Studies. 19.
  • Gregory Nagy (1999), The Best of The Acheans: Concepts of the Hero in Archaic Greek Poetry. Johns Hopkins University Press (edisi revisi, daring Diarsipkan 24 Desember 2018 di Wayback Machine.).
  • Dorothea Sigel; Anne Ley; Bruno Bleckmann. "Achilles". Dalam Hubert Cancik; et al. (ed.). Achilles. Brill's New Pauly. Brill Reference Online. doi:10.1163/1574-9347_bnp_e102220.
  • Dale S. Sinos (1991), The Entry of Achilles into Greek Epic, PhD thesis, Johns Hopkins University. Ann Arbor, Michigan: University Microfilms International.
  • Jonathan S. Burgess (2009), The Death and Afterlife of Achilles. Baltimore: Johns Hopkins University Press.
  • Abrantes, M.C. (2016), Themes of the Trojan Cycle: Contribution to the study of the greek mythological tradition (Coimbra). ISBN 978-1530337118.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]