Lompat ke isi

Bahasa Bugis Karangantu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bahasa Bugis Karangantu
Basa Ugi Karangantu
Basa Ugi Banten
Bugis Banten
Dituturkan diIndonesia (Banten)
WilayahKampung Bugis (dekat kawasan Pelabuhan Karangantu di Kecamatan Kasemen, Kota Serang)
Penutur
per. 250–400
    • Bugis Karangantu
    Kode bahasa
    ISO 639-3–
    GlottologTidak ada
     Portal Bahasa
    L • B • PW   
    Sunting kotak info  +  Info templat

    Bahasa Bugis Karangantu (disebut juga bahasa Bugis Banten) adalah dialek bahasa Bugis yang dituturkan oleh komunitas diaspora suku Bugis yang mendiami wilayah pesisir dekat Pelabuhan Karangantu, di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten.[1][2]

    Bahasa ini tumbuh di wilayah pesisir utara Banten akibat migrasi maritim antarpulau dan berkembang menjadi kantong sosiolinguistik yang dikelilingi oleh wilayah tutur bahasa Jawa Serang serta bahasa Sunda Serang.[3]

    Keberadaan penutur bahasa Bugis di Banten terbagi menjadi dua fase historis utama. Pada fase pertama, pada abad ke-17, jejak awal diaspora Bugis–Makassar di Banten dimulai setelah berakhirnya Perang Makassar (1667–1669) dan penandatanganan Perjanjian Bongaya.[4] Sejumlah besar bangsawan, pelaut, dan prajurit dari Kesultanan Gowa beserta sekutu etnis Bugisnya menolak tunduk kepada VOC dan memilih berlayar ke arah barat menuju Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Kelompok ini dipimpin oleh tokoh militer terkemuka seperti Karaeng Galesong.[4] Pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf, pemukiman luar dipetakan secara toponim, di mana wilayah sekitar pelabuhan mulai dicatat sebagai "Kampung Bugis" untuk menampung kelompok pendatang ini.[5]

    Pada fase kedua, gelombang pemukiman modern di Karangantu dipicu oleh migrasi ekonomi nelayan Bugis dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, yang awalnya singgah dari rute pelayaran Sumatera sekitar tahun 1965 hingga awal 1970-an.[6][4] Berdasarkan sejarah lisan setempat, gelombang ini dirintis oleh enam nelayan asal Bone (di antaranya Aras, H. Gala, H. Made, H. Merali, dan H. Bedu) yang awalnya bertujuan mencari lokasi tangkapan ikan baru di perairan Laut Jawa.[6] Komunitas ini awalnya tinggal di kawasan Kroya, sebelum akhirnya terpusat menetap dan mendirikan pemukiman panggung tradisional permanen yang kini dikenal sebagai Kampung Bugis di dekat kawasan Pelabuhan Karangantu sejak 1984.[3][6]

    Penggunaan

    [sunting | sunting sumber]

    Berdasarkan data pemetaan kebahasaan oleh Kantor Bahasa Provinsi Banten, konsentrasi penutur dialek ini terdapat di Kampung Bugis Karangantu yang terbagi dalam dua kluster utama dengan tingkat pemertahanan bahasa yang kontras.[1]

    • Rukun Warga (RW) 006: Merupakan basis terkuat penggunaan bahasa Bugis setempat. Bahasa Bugis dialek Karangantu masih dominan digunakan sebagai alat komunikasi harian domestik karena komposisi penduduknya yang homogen etnis Bugis.[1]
    • Rukun Warga (RW) 005: Penggunaan bahasa Bugis mengalami penyusutan signifikan. Bahasa Bugis hanya dituturkan aktif oleh generasi tua yang berusia di atas 50 tahun, sedangkan generasi di bawahnya menjadi penutur pasif atau beralih menggunakan bahasa lokal setempat.[1]

    Secara keseluruhan, jumlah penutur aktif bahasa Bugis dialek Karangantu diestimasikan berkisar antara 250 hingga 400 jiwa. Generasi muda di wilayah ini sebagian besar telah mengalami pergeseran bahasa menuju kedwibahasaan Jawa Serang atau Indonesia karena tuntutan asimilasi perkawinan lintas etnis dan interaksi ekonomi makro pelabuhan.[3][2]

    Distribusi geografis

    [sunting | sunting sumber]

    Sebaran geografis penutur bahasa Bugis dialek Karangantu terpusat sepenuhnya di pemukiman nelayan, yaitu di Kampung Bugis Karangantu (kawasan RT 001 dan RT 002 di lingkungan RW 005 dan RW 006), Kecamatan Kasemen, Kota Serang.[1][6]

    Ciri khas

    [sunting | sunting sumber]

    Berdasarkan penghitungan dialektometri yang dirilis oleh Kantor Bahasa Banten, bahasa Bugis dialek Karangantu menunjukkan persentase perbedaan sebesar 64% jika dikomparasikan langsung dengan bahasa Bugis di Sulawesi Selatan.[1] Jarak kebahasaan yang signifikan ini menjadikannya isolek tersendiri yang terpisah secara struktural.

    Ciri-ciri kebahasaan dialek ini meliputi:

    • Ragam leksikal praktis: Dialek ini dikategorikan oleh penuturnya sebagai bahasa Bugis praktis non-formal, namun sisa-sisa kosakata ragam halus (hormat) asal Bone masih dipertahankan dalam forum adat domestik.[1]
    • Penyusutan sistemik kategori agraris: Kosakata asli yang berhubungan dengan ekosistem pertanian darat, persawahan, dan perbukitan Sulawesi telah hilang dan digantikan sepenuhnya oleh serapan istilah maritim, perdagangan kayu, serta pengolahan ikan pesisir Banten.[3]
    • Asimilasi prosodi pesisir: Intonasi bicara dicirikan oleh tekanan suara (prosodi) yang tegas dan berenergi keras, akibat adaptasi sosiolinguistik penutur di lingkungan kerja pelabuhan niaga dan pangkalan nelayan kapal.[2]

    Lihat juga

    [sunting | sunting sumber]

    Referensi

    [sunting | sunting sumber]
    1. 1 2 3 4 5 6 7 Biro Pemerintahan Provinsi Banten. (2024). "14 Ragam Dialek Bahasa Daerah di Provinsi Banten". Portal Resmi Provinsi Banten.
    2. 1 2 3 Suryani. (2017). "Mengenal Kampung Warga Bugis di Kecamatan Kasemen". Radar Banten.
    3. 1 2 3 4 Uyun, N. (2023). "Sejarah Perkembangan Suku Bugis di Karangantu Banten Tahun 1984-2021". Repositori UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
    4. 1 2 3 Subair, dkk. (2024). "Jejak Kehadiran Orang Bugis di Banten Lama: Perspektif Sejarah Maritim". Phinisi Integration Review / Semantic Scholar.
    5. ↑ Siti, M. (2019). "Bab IV: Pengembangan Pemukiman Masyarakat di Kesultanan Banten Masa Sultan Maulana Yusuf". Lumbung Ilmiah Universitas Negeri Yogyakarta.
    6. 1 2 3 4 Romi, R. (2019). "Bab II: Kondisi dan Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kampung Bugis Karangantu". Repositori UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

    Daftar pustaka

    [sunting | sunting sumber]
    • Pelras, Christian. (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Nalar.
    • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2021). Kamus Pokok Bahasa Bugis-Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.