Lompat ke isi

Bahram III

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bahram III
𐭥𐭫𐭧𐭫𐭠𐭭
Rajadiraja Iran dan non-Iran
Drachma Bahram III sebagai seorang pangeran bersama ayahnya Bahram II, dicetak di Balkh
Shahanshah Kekaisaran Sasaniyah
Berkuasa293
PendahuluBahram II
PenerusNarseh
AyahBahram II
IbuShapurdukhtak
WangsaDinasti Sasaniyah
AgamaZoroastrianisme

Bahram III (juga dikeja Wahram III or Warahran III; Middle Persian: 𐭥𐭫𐭧𐭫𐭠𐭭, Bahasa Persia Baru: بهرام سوم), adalah raja dari segala raja (syah) keenam dari Kekaisaran Sasaniyah. Ia adalah putra dan penerus Bahram II.[1] Sebelum menjadi raja, ia adalah wizurai dari Sakastan, yang telah direbut kembali oleh ayahnya sekitar tahun 280-an.

Bahram III naik tahta setelah kematian ayahnya pada tahun 293. Banyak bangsawan menganggapnya terlalu lemah untuk memerintah, dan malah berjanji setia kepada paman buyutnya Narseh. Setelah memerintah hanya selama empat bulan, Bahram III ditangkap atau kemungkinan besar dibunuh selama kampanye oleh Narseh, yang kemudian menggantikannya sebagai raja.

Nama teoforisnya "Bahram" adalah bentuk Persia Baru dari Persia Pertengahan Warahrān (juga dieja Wahrām), yang berasal dari bahasa Iran Kuno Vṛθragna.[2] Padanan Avestanya adalah Verethragna, nama dewa kemenangan Iran kuno, sedangkan versi Parthia adalah *Warθagn.[2] Nama tersebut ditransliterasikan dalam Yunani sebagai Baranes,[3] sementara transliterasi Armenia adalah Vahagn/Vrām.[2] Nama tersebut tercatat dalam Georgia sebagai Baram[4] dan Latin sebagai Vararanes.[5]

Di Iran Sasaniyah, sudah menjadi kebiasaan bagi raja-raja setelah menaklukkan suatu wilayah atau bangsa, untuk memberikan gelar kepada putra-putra mereka yang menunjukkan dominasi atas mereka. Bahram III memperoleh gelar "sākān shāh" mungkin setelah kemenangan ayahnya atas wilayah Sakastan (sekarang Sistan). Mengikuti praktik awal Sasaniyah dalam memberikan wilayah kekuasaan kepada para pangeran, Bahram III diangkat menjadi penguasa Sakastan, sebuah wilayah yang memiliki kepentingan strategis dalam mempertahankan ujung timur kerajaan.[6]

Dinar emas Narseh.

Setelah kematian Bahram II pada tahun 293, Bahram III diproklamasikan sebagai raja di Pars oleh sekelompok bangsawan yang dipimpin oleh Wahnam dan didukung oleh Adurfarrobay, Raja Meshan. Ia masih di bawah umur pada saat naik tahta, dan banyak bangsawan (di luar kelompok pendukung intinya) menganggapnya terlalu lemah untuk menangani ancaman yang ditimbulkan oleh Romawi dan kemungkinan invasi. Mereka memutuskan untuk menantang suksesi takhtanya dan sebagai gantinya berjanji setia kepada Narseh, putra terakhir Syapur I, yang dianggap sebagai pemimpin yang lebih kuat dan lebih mampu membawa kejayaan bagi Iran.[7][8]

Empat bulan setelah pemerintahan Bahram, paman buyutnya, Narseh, dipanggil ke Mesopotamia atas permintaan banyak anggota bangsawan Iran. Ia menemui mereka di jalur Paikuli di provinsi Garmekan, di mana ia mendapat persetujuan penuh dan kemungkinan juga dinyatakan sebagai syah untuk pertama kalinya. Alasan di balik dukungan para bangsawan terhadap Narseh mungkin karena yurisdiksinya sebagai gubernur, citranya sebagai pendukung agama Zoroastrianisme, dan sebagai penjamin harmoni dan kemakmuran kekaisaran. Silsilah keluarganya dari dinasti Sasaniyah awal mungkin juga berperan.[9]

Untuk menghindari pertumpahan darah, Narseh mengusulkan untuk berdamai dengan Bahram III dan Wahnam.[9] Keduanya tampaknya setuju, karena tidak ada catatan pertempuran yang dibuat. Alasan di balik kesepakatan cepat Bahram dan Wahnam untuk berdamai mungkin karena pembelotan di antara banyak anak buah Bahram. Bahram turun tahta sebagai shah dan mungkin selamat, sementara Wahnam dieksekusi ketika Narseh memasuki ibu kota Sasaniyah di Tisfon.[10][9] Kemudian Narseh memanggil para bangsawan untuk ikut serta dalam referendum kerajaan, sebuah ritual yang telah digunakan sejak shah Sasanian pertama, Ardasyir I. (m. 224–242), dan yang kini dimanfaatkan Narseh untuk mendapatkan persetujuan kaum bangsawan sebagai penguasa yang sah, bukan sebagai perampas kekuasaan. Narseh secara mutlak dipilih oleh mayoritas, dan dijamin "untuk naik tahta ayah dan leluhur kita dengan bantuan para Dewa, atas nama mereka dan leluhur kita."[9]

Banyak koin yang dapat dikaitkan dengannya jumlahnya sedikit dan karena ketidakpastian, banyak yang sering dikaitkan dengan Narseh. Karena banyak koin yang dikaitkan dengannya lebih halus dari biasanya, detail mahkotanya samar. Diyakini bahwa ia digambarkan mengenakan mahkota emas dengan pinggiran bawah bergerigi dan dua tanduk rusa besar atau setidaknya replika tanduk tersebut yang terpasang di setiap sisinya. Bola Sasani terletak di antara tanduk di bagian depan mahkota.[11]

Relief rendah di situs arkeologi Bishapur menggambarkan sosok yang diinjak-injak oleh kuda. Diasumsikan bahwa adegan ini merupakan representasi dari kematian Bahram III atau, kemungkinan besar, sekutunya, Wahnam.[12]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Touraj Daryaee, Sasanian Persia, (I.B.Tauris Ltd, 2010), 11.
  2. 1 2 3 Multiple authors 1988, hlm. 514–522.
  3. Wiesehöfer 2018, hlm. 193–194.
  4. Rapp 2014, hlm. 203.
  5. Martindale, Jones & Morris 1971, hlm. 945.
  6. Bosworth p.47
  7. Henning p. 403
  8. Neusner p. 3
  9. 1 2 3 4 Weber 2016.
  10. Kia 2016, hlm. 269.
  11. Ayatollahi p. 156
  12. Baker p. 181
  • Bosworth, Clifford (1999). The Sāsānids, the Byzantines, the Lakhmids, and Yemen. Albany: SUNY Press. ISBN 0-7914-4355-8.
  • Yarshater, Ehsan (1968). The Cambridge History of Iran. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0-511-46774-5.
  • Ayatollahi, Habibollah (2003). The Book of Iran: The History of Iranian Art. City: Center for International-Cultural Studies. ISBN 964-94491-4-0.
  • Baker, Patricia L. (2005). Iran, 2nd: the Bradt Travel Guide. City: Bradt Travel Guides. ISBN 1-84162-123-4.
  • Henning, Walter Bruno (1974). Acta Iranica. Téhéran: Bibliothèque Pahlavi. ISBN 90-04-03902-3.
  • Neusner, Jacob (1997). A History of the Jews in Babylonia: from Shapur I to Shapur II. Boston: Brill Academic Publishers. ISBN 90-04-02144-2.
  • Klíma, O. (1988). "Bahrām III". Encyclopaedia Iranica, Vol. III, Fasc. 5. hlm. 514–522.
  • Weber, Ursula (2016). "Narseh". Encyclopaedia Iranica.
  • Kia, Mehrdad (2016). The Persian Empire: A Historical Encyclopedia [2 volumes]: A Historical Encyclopedia. ABC-CLIO. ISBN 978-1610693912.
  • Martindale, J. R.; Jones, A. H. M.; Morris, J. (1971). The Prosopography of the Later Roman Empire: Volume 1, AD 260-395. Cambridge University Press. ISBN 9780521072335.
  • Rapp, Stephen H. (2014). The Sasanian World through Georgian Eyes: Caucasia and the Iranian Commonwealth in Late Antique Georgian Literature. Ashgate Publishing, Ltd. ISBN 978-1472425522.
  • Multiple authors (1988). "Bahrām". Encyclopaedia Iranica, Vol. III, Fasc. 5. hlm. 514–522.
  • Wiesehöfer, Josef (2018). "Bahram I". Dalam Nicholson, Oliver (ed.). The Oxford Dictionary of Late Antiquity. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-866277-8.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]