Lompat ke isi

Filtrum

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Filtrum
Filtrum pada manusia
Filtrum pada anjing
Rincian
Pendahulunasomedial[1]
Pengidentifikasi
Bahasa Latinphiltrum
TA98A05.1.01.007
TA2222
FMA59819
Daftar istilah anatomi

Filtrum[2] (bahasa Latin: philtrum, bahasa Yunani: φίλτρον philtron), atau disebut juga alur bibir,[3] alur hidung,[4] tali hidung,[5] atau cupido,[6] adalah lekukan vertikal di bagian tengah bibir atas yang umum dijumpai pada mamalia bersubkelas Theria. Pada manusia, filtrum memanjang dari ujung septum nasal (sekat lubang hidung) hingga ke tuberkulum (tonjolan) pada bibir atas. Bersama area rinarium (yang memiliki banyak kelenjar) dan lubang hidung (nostril), filtrum diyakini sebagai karakteristik primitif setidaknya bagi mamalia Theria.[7] Hewan monotremata umumnya tidak memiliki filtrum, meski hal ini mungkin hal ini terjadi karena spesies hewan monotremata yang masih bertahan memiliki rahang khusus yang menyerupai paruh.

Dalam berbagai bahasa daerah, filtrum juga dikenal sebagai gumun (Jawa),[8] uring[9] atau oreng (Minangkabau).[10][11]

Filtrum pada kebanyakan mamalia adalah alur sempit yang mampu membawa uap air dari mulut ke rhinarium atau bantalan hidung melalui kapiler untuk menjaga hidung agar tetap basah. Bantalan hidung yang basah mampu memerangkap partikel bau dengan lebih baik dibandingkan jika dalam kondisi kering, sehingga membantu dalam meningkatkan fungsi penciuman. Pada manusia dan kebanyakan primata, filtrum terletak memanjang di antara hidung dan bibir atas.[12]

Perkembangan

[sunting | sunting sumber]

Pada manusia, filtrum terbentuk di tempat proses nasomedial dan maksilari bertemu saat berlangsungnya perkembangan embrionik (bahasa sehari-hari dikenal sebagai garis hulse). Jika proses ini gagal, maka akan terbentuk bibir sumbing (kadang disebut "bibir kelinci"). Filtrum yang bentuknya rata dan halus bisa jadi merupakan gejala sindrom alkohol fetal atau sindrom Prader–Willi.[13]

Filtrum manusia adalah bagian integral fisiognomi atau membaca karakter dan nasib melalui interpretasi dan studi tentang wajah seseorang. Bagi manusia dan sebagian besar primata, filtrum hanyalah sebatas ‘vestigial depresi medial’ antara hidung dan bibir atas. Filtrum manusia dibatasi oleh dua "lereng", juga dikenal dengan ‘depresi infranasal’, tetapi tidak memiliki fungsi yang jelas. Hal itu mungkin karena primata yang lebih tinggi kebanyakan lebih mengandalkan visi ketimbang bau dan tidak perlu lagi bantalan hidung yang basah atau filtrum untuk menjaga agar bantalan hidung tetap basah. Meski demikian, primata seperti lemur masih menggunakan filtrum dan rinarium sebagai pembantu penciuman, tidak seperti monyet dan kera.

Studi terhadap anak lelaki yang didiagnosis mengalami gangguan spektrum autisme menemukan bahwa lebar filtrum yang lebih luas daripada filtrum rata-rata adalah salah satu ciri kelainan fisik yang berhubungan dengan autisme.[14]

Dalam budaya

[sunting | sunting sumber]

Dalam mitologi Yahudi, Lailah, Malaikat Kesuburan, menyihir bibir atas bayi sebelum kelahirannya agar bayi tersebut kelak tidak melupakan Taurat.[15] Beberapa pihak menduga ini adalah asal dari filtrum, meskipun tidak memiliki dasar dalam teks tradisional Yahudi.[16]

Di Filipina, dikatakan bahwa orang yang tidak memiliki filtrum adalah enkantado, peri langsing yang berpenampilan cantik dan tinggi.

Di Minangkabau, dikenal cindaku, yakni makhluk mitologis berwujud manusia yang dapat menjadi harimau. Di antara ciri-cirinya yakni tidak memiliki filtrum.[17]

Lihat juga

[sunting | sunting sumber]
Artikel ini menggunakan terminologi anatomi, untuk pembahasan keseluruhan, lihat terminologi anatomi.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. hednk-032—Citra Embrio di Universitas Carolina Utara
  2. "Filtrum". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  3. "Alur bibir". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  4. "Alur hidung". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  5. "Tali hidung". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  6. "Cupido". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  7. "Orders PRIMATES & SCANDENTIA". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-09-23. Diakses tanggal 2014-12-28. {{cite web}}:
  8. "Gumun". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  9. "Uring". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  10. "Oreng". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  11. Pramisti, Nurul Qomariyah. "Menyelamatkan Bahasa Agar Tak Punah". tirto.id. Diakses tanggal 2021-10-26.
  12. Philip Hershkovitz,Living New World monkeys (Platyrrhini): with an introduction to Primates, University of Chicago Press, 1977, Vol. I, p. 16
  13. "FAS Clinical". Diarsipkan dari asli tanggal 2013-01-01. Diakses tanggal 2014-12-28. {{cite web}}:
  14. Aldridge, Kristina; George, Ian D.; Cole, Kimberly K.; Austin, Jordan R.; Takahashi, T. Nicole; Duan, Ye; Miles, Judith H. (2011). "Facial phenotypes in subgroups of pre-pubertal boys with autism spectrum disorders are correlated with clinical phenotypes". Molecular Autism 2 (15). doi:10.1186/2040-2392-2-15.
  15. Gabriel's Palace: Jewish Mystical Tales, p57
  16. Babylonian Talmud; Niddah 30b
  17. Hamka (2020-04-24). Kenang-Kenangan Hidup (dalam bahasa Melayu). Gema Insani. ISBN 978-602-250-743-7.