Fudhail bin Iyadh

Fudhail bin Iyadh (Arabic : الفضيل بن عياض) merupakan seorang Tabi'in, ulama yang hidup setelah wafatnya Nabi Islam Muhammad.[1] Ia mendapatkan julukan 'Abid Al-Haramain (hamba yang tekun beribadah di Haram Makkah dan haram Madinah) yang hidup sezaman Imam Malik dan Abdullah bin Mubarak. Ia lahir pada tahun 107 H / 726 M.
Nama lengkapnya Abu Ali Al-Fudhail bin Iyadh bin Mas'ud bin Bisyr At-Tamimi Al-Yarbu'i. Dia lahir di Samarqand dan tumbuh di kota Abyurd yang terletak di antara daerah Sarkhas dan Nasa'. Dia menghafal atau belajar hadits di Kufah, dan kemudian pindah ke Makkah setelah bertobat.
Ia hidup pada masa Khalifah Umayyah Hisyam bin Abdul Malik hingga masa Abbasiyah Harun Ar-Rasyid, saat Abbasiyah menuju puncak kejayaan.
Kehidupan
[sunting | sunting sumber]Awalnya Fudhail dikenal perampok yang membagikan hasil rampokannya kepada fakir miskin, sampai kemudian ia bertobat dari melakukan pembegalan pada kafilah dagang.[2]
Sufyan bin 'Uyainah berkata, "Al-Fudhail adalah seorang yang tsiqah (dipercaya)."
Ishaq bin Ibrahim Ath-Thabari, dia berkata, "Aku belum pemah melihat seseorang yang lebih takut terhadap dirinya dan tidak berharap terhadap sesuatu pada manusia selain Al-Fudhait. Ketika membaca Al-Qur'an, maka dia akan membacanya dengan lambat, syahdu, menyentuh hati, lantang dan jelas seolah sedang berbicara kepada seseorang. Ketika membaca ayat-ayat yang menyebutkan surga, maka dia akan membacanya berulang-ulang sambil memohon kepada-Nya untuk mendapatkannya."[1]
Al-Fudhail sering menunaikan Qiyam Al-Lail (solat malam) dengan duduk. Dia bentangkan tikar untuk menunaikan shalat di awal malam beberapa saat sampai datang kantuk menggelayuti matanya. Kalau sudah demikian, maka dia lalu berbaring untuk tidur sebentar di atas tikar tersebut. Tidak lama berselang, maka dia pun bangun kembali untuk menunaikan shalat sampai datang kantuk yang tidak tertahankan.
Abd Ash-shamad bin Yazid, berkata, "Aku telah mendengar Al- Fudhail berkata, "Barangsiapa mencintai ahli bid'ah, maka Allah akan melebur amalnya sehinga amal tersebut menjadi sia-sia. Tidak itu saja, Allah juga akan mengeluarkan cahaya Islam dari dalam hatinya."
Bertemu Khalifah Harun ar-Rasyid
[sunting | sunting sumber]Khalifah Harun ar-Rasyid datang ke rumah Fudhail untuk meminta nasihat lalu Fudhail berkata, "Dan, saya berkata kepadamu, saya sangat khawatir dengan dirimu saat kaki-kaki manusia di hari kiamat tergelincir, apakah engkau mempunyai orang-orang dekat yang memberi peringatan seperti itu." Mendengar perkataan tersebut, Harun ar-Rasyid pun langsung nangis dengan sangat kencang sehingga dia pingsan.[3][4]
Murid-muridnya
[sunting | sunting sumber]Orang-orang yang meriwayatkan hadits dari Al-Fudhail bin lyadh adalah; Sufyan Ats-Tsauri yang juga termasuk gurunya, Sufyan bin 'Uyainah yang juga temannya, Ibnul Mubarak yang meninggal lebih dahulu, Yahya bin Said Al-Qaththan, Ibnu Mahdi, Husain bin Ali Al-Ja'fi, Abdurrazaq, Ishaq bin Manshur As-Saluli, Al-Asmu'i, Ibnu Wahb Asy-Syah'i, Marwan bin Muhammad.
Juga, telah meriwayatkan darinya adalah Muammal bin Ismail, Huraim bin Sufyan, Yusuf bin Marwan, Yahya bin Said At-Tamimi, Al-Qa'nabi, Ahmad bin Abdillah bin Yunus, Musaddad, Muhammad bin Yahya bin Abi Umar, Al-Humaidi, Ibrahim bin Muhammad Asy-Syati'i, Dawud bin Amr, Abu Ammar Al-Husain bin Huraits Al-Marwazi, Al-Hashin bin Ar-Rabi' Al-Burani, Al-Hasan bin Ismail Al-Mujalidi, Ahmad bin Ubdah Adh-Dhabbi, Qutaibah bin Said, Ubaidillah bin Umar Al-Qawariri, Ubdah bin Abdirrahim Al-Marwazi, Muhammad bin Zanbur Al-Makki, Muhammad bin Sulaiman Luwain dan guru-guru yang lain."[1]
Kematian
[sunting | sunting sumber]Fudhail wafat pada bulan Muharam tahun 187 H / 803 M di Mekah dengan usia lebih 80 tahun.[1]
Perkataan
[sunting | sunting sumber]Beberapa quotes (perkataan) Fudhail[1] :
- Jika aku berbuat demi kemaslahatanku, maka berarti aku lebih fakir dari kenyataan diriku saat ini. Sesungguhnya, aku telah mengetahui bahwa diriku telah berbuat maksiat kepada Allah ketika aku mengetahui bagaimana keledai dan pembantuku tercipta.
- Jika kamu tidak mampu menunaikan qiyamu lail dan Puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu telah terhalang dan terbelenggu oleh dosa dan kesalahan yang kamu perbuat.
- Manusia paling berdusta adalah manusia yang mengulangi perbuatan dosa yang pernah dilakukannya. Manusia paling bodoh adalah manusia yang menunjukkan amal kebaikannya. Manusia paling mengetahui Allah adalah manusia yang paling takut kepada-Nya. Manusia tidak akan sempurna sehingga agamanya mampu mengalahkan nafsunya, dan manusia tidak akan binasa sehingga nafsunya mengalahkan agamanya.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 Farid, Syaikh Ahmad (2006). 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9795923692.
- ↑ M.Ag, Ahmad Zacky El-Syafa, S. Ag. Membumikan Shalat: Aktualisasi Makna Shalat Dalam Kehidupan. Pustaka Media. hlm. 40. ISBN 978-602-8214-70-4.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Hasan, Nur (2021-04-09). Jangan Terlalu Berlebihan dalam Beribadah hingga Melupakan Hak-hak Tubuh. DIVA PRESS. hlm. 93. ISBN 978-623-293-232-6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Wahyudi, Ilham. Kesempurnaan Hijrah Karena Hidayah. LAKSANA. hlm. 70. ISBN 978-602-407-766-2.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)