Ibnu Mandah
Ibn Manda | |
|---|---|
| Kehidupan pribadi | |
| Lahir | 310–1 H/ 922 M |
| Meninggal | 395 H/1004–5 M[1] |
| Minat utama | Hadith |
| Karya terkenal | Kitāb ma’rifat al-sahāba |
| Kehidupan religius | |
| Agama | Islam |
| Mazhab | Hanbali |
| Kepercayaan | Athari |
Abū ʿAbdullāh Muḥammad bin Isḥāq bin Manda (Arabic : ابن منده) adalah seorang yang ulama terkemuka dari Isfahan dari Sunni ahli Hadith lahir pada tahun 395 H /1004 M.[2] Nasab lengkapnya Muhammad bin Abi Ya'qub Ishaq bin Muhammad bin Yahya bin Mandah. Buyutnya seorang majusi yang masuk Islam saat pembebasan wilayah Isfahan (Iran) oleh sahabat Muhammad.[3]
Ia hidup pada masa Khalifah Abbasiyah Al-Muthi, Ath-Thai dan Al-Qadir, saat dinasti syiah Buwaihi dan Fatimiyah berkuasa.
Kehidupan
[sunting | sunting sumber]Namanya "Ibnu Manda" mungkin merujuk pada berbagai individu dari keluarga terkenal Iṣfahānī dari dinasti ḥadīt̲h̲ dan sejarawan yang aktif selama hampir tiga abad. Keluarga tersebut adalah keturunan dari seorang pejabat Sassania, D̲j̲ahārbuk̲h̲t, dikatakan telah menjadi seorang Muslim pada saat Penaklukan Islam di Persia, sedangkan pria yang dinamai keluarga tersebut adalah Ibrāhīm (Manda) bin al-Walīd bin Sanda bin Buṭṭa bin Ustandār al-Fērōzān bin D̲j̲ahārbuk̲h̲t. Kematian buyut Ibnu Manda terjadi pada masa kekhalifahan al-Mutasim.[4] Putranya (kakek Ibnu Manda), Abū Zakariyyāʾ Yaḥyā, pelajar terdidik pertama di keluarganya.[5] Dua putra Yahya yaitu Abd al-Rahmān (w. 320 H/ 932 M) dan Muhammad (w. 301 H/ 913 M) adapun putra Muhammad yaitu Ishāq (w. 341 H/ 953 M) adalah ayah dari anggota keluarga yang paling terkenal, Abu Abdullāh Muhammad b. Ishāq Ibn Manda”, yang lahir pada tahun 310 H / 922 M.
Ibnu Mandah pertama kali melakukan perjalanannya mencari ilmu ke Irak pada tahun 339 Hijriyah,lalu ke Syam dan selanjutnya dia bermukim di Mesir selama beberapa tahun. Dia menulis sejarah dan nama para syaikh.
Al-Hakim berkata, "Aku telah bertemu dengan Ibnu Mandah di Bukhara pada tahun 361 Hijriyah. Sungguh, pada pertemuan itu tampak perubahan pada dirinya kemajuan yang pesat. Pada tahun 375 Hijriyah, dia datang menemuiku di Naisabur sewaktu akan kembali ke negerinya, maka syaikh kami, Abu Ali Al-Hafizh berkata, "Banu Mandah (keturunan Mandah) adalah orang-orang hafizh yang paling pandai di dunia sejak dahulu kala hingga sekarang. Tidakkah kalian memperhatikan lembar catatan Abu Abdillah?"
Adz-Dzahabi berkata, "Aku telah menulis sebuah buku yang khusus membahas tentang lbnu Marndah dan teman-temannya. Aku belum pemah melihat ada bait periwayatan sebagaimana bait-bait periwayatan Ibnu Mandah. Periwayatan bait-bait terus berlangsung sejak masa pemerintahan Al-Mu'tashim hingga tahun enam ratus tiga puluh Hijriyah."[3]
Abū 'Abdullāh bin Mandah fokus pada pendidikan agama sejak masa kanak-kanaknya dan kemudian menerima pendidikan dari ulama terhormat seperti Ja'far bin Muhammad bin Musa ʻAlawi, Ahmad bin Zakariyya Maqdisi, ʻAbdullah bin Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Hibban (w. 965). Perjalanannya dikatakan telah berlangsung selama tiga puluh tahun dan membawanya ke tempat-tempat seperti Marw, Bukhara, Mesir, Tarāblus, Nisapur dan Mekkah. Dia mengumpulkan jumlah yang luar biasa dari hadits dalam perjalanannya di mana dia bertemu dengan 1.700 syuyūkh (guru) dan kembali ke Isfahān dengan kira-kira empat puluh buku.[6] Imam Abu Ishak ibn Hamzah berkomentar bahwa dia tidak menemukan rekan di antara para ulama sebaik Ibn Mandah. Syaikh dari Herat, Ismaʻil Ansari (w. 375 H) mengatakan bahwa Ibnu Mandah adalah seorang kepala suku pada usianya.
Ibnu Mandah tidak pernah sampai ke Bashrah, karena ketika dia hendak menuju ke sana untuk mengambil Musnad Ali bin Ishaq Al-Madara'i, di tengah perjalanan disampaikan kepada Ibnu Mandah bahwasanya Ali bin Ishaq sudah meninggal. Mendengar berita kematian Ali bin Ishaq ini,Ibnu Mandah sangat sedih dan akhimya dia pun kembali. Adz-Dzahabi berkata bahwasanya daerah yang belum pemah dikunjungi Abu Abdillah bin Mandah adalah Hirah, Sajastan, Kuryan, ]urjan, Rai, Qazwain, Yaman, Bashrah dan lainnya. Sedangkan daerah yang pernah dikunjungi adalah Khurasan, daerah ma wara'a an-nahri,lrak,Hiiaz, Mesir dan Syam.[3]
Abu Abdiltah bin Mandah berkata, "Aku telah beriumpa dengan 30'000 (tiga puluh ribu) syaikh. Sejumlah 10.000 (sepuluh ribu) di antara syaikh tersebut, aku telah meriwayatkan haditsnya dan aku jadikan mereka sebagai contoh teladan. Sedangkan 10.000 (sepuluh ribu) lagi aku riwayatkan haditsnya, tetapi tidak aku ikuti. Adapun sepuluh ribu sisanya aku gunakan sebagai pertimbangan. Dari sejumlah syaikh tersebut, aku tidak menghafalkan man dari masing-masing mereka kecuali minimal sepuluh hadits."
Warisan
[sunting | sunting sumber]Ia menikah di usia lanjut dan memiliki empat putra, ‘Abdallah (w. 1070),‘ Abdal-Rahmān (w. 1078), ‘Abdal-Wahhāb (w. 475/1082) dan‘ Abdal-Rahim yang kurang dikenal. Beberapa siswa terkenal Abū Abdullāh adalah Al-Hakim Nishapuri dan Ibn Mardaway (Mardūya) (323-410 / 935-1019). Abu-Abdullāh meninggal pada Zulhijjah pada tahun 395 H (September 1005 M).[7]
Berikut ini adalah daftar beberapa ulama yang terkait dengan keluarga Ibn Manda:
- Abū Zakariyya, Yahyā ibn Manda (kakek buyut)
- Muhammad ibn Yahya ibn Mandah (w. 301 H: 914 M) (kakek)
- Ishāq ibn Muhammad ibn Yahya ibn Mandah (w. 341 H: 952 M) (ayah)
- Abū Abdullah, Muhammad ibn Ishak ibn Muhammad ibn Yahya ibn Mandah (310–395 H: 922–1005 CE)
- Abu l-Qasim, 'Abdal Rahman b. Muhammad b. Ishaq (381–470 H: 991–1078 M) (putra). Dia pergi ke Baghdad pada 406/1015, dan mengunjungi Wāsit, Mekah, Nishapur, Hamadhān dan seterusnya. Dia mulai mengajar pada 407/1016 dan menulis banyak karya, di antaranya, tampaknya, ``Sejarah Mekah. Dia dipuji karena ortodoksi yang teguh dan sikap tanpa kompromi melawan "inovator/bid'ah".
- Abū Zakariyyā ', Yahyā ibn' Abdal Wahhab ibn Mandah (lahir 434–511 AH / 1043-1118 M) (cucu). Dia menikmati reputasi yang langgeng sebagai sejarawan. Sejarah Isfahan -nya mungkin didasarkan pada kakeknya, dan daftar sahāba yang terakhir hidup 120 tahun mungkin telah dibuat ulang olehnya. Kegiatan ilmiah dan kemasyhuran keluarga tampaknya telah berakhir pada saat ini.[8]
Karya Akademik
[sunting | sunting sumber]Publikasi akademisnya terutama berkaitan dengan sejarah, biografi dan hadits. Dia menulis tentang sejarah (sirah) Nabi Muhammad dan, seperti cucunya, Yahyā b. 'Abdal-Wahhāb, menyusun Sejarah Isfahan. Karya-karyanya di sana bertahan dari komentarnya pada ayat-ayat tertentu dari Alquran dan beberapa hadis Nabi, dengan judul ar-Radd 'ala al-Jahmiyya (Sanggahan Jahmiyah),[9] tetapi dapat dicatat bahwa putranya, 'Abdal-Rahmān, dikreditkan dengan karya yang serupa, jika tampaknya berbeda. Karya tambahan lainnya termasuk at-Tawhīd wa-Ma'rifat Asmā 'Allah dan bagian dari Ma'rifat al-sahāba, yang keduanya disimpan di Damaskus,[10] dan sebuah risalah tentang "Orang-orang di sekitar Muhammad yang hidup 120 tahun'.[11]
Perselisihan dengan Abu Nu'aim
[sunting | sunting sumber]Ibnu Manda dilaporkan telah terlibat dalam perselisihan yang keras dengan sesamanya ‘Muhaddith. Persaingan di kampung halamannya, Abu Nu'aim al-Isfahani (d.1039), karena perbedaan mereka dalam madzhab dan pertengkaran teologis.[12] Dia mencela Abu Nu‘aim karena dugaannya condong ke arah kalām dan mengusirnya dari masjid jemaah besar Isfahān, yang kemudian didominasi oleh faksi Hanbali Ibnu Manda. Namun demikian, Ibnu Manda mengajarkan hadits dan memiliki hubungan guru-murid yang sangat dekat dengan, Abū Mansur Ma’mar bin Ahmad al-Isfahānī (w. 1027), yang merupakan seorang Hanbali terkemuka dan Sufi sezaman dengan Abu Nu‘aim di Isfahan yang memuji Ibnu Manda sebagai ulama teladan pada zamannya, "Ibnu Mandah itu bagaikan gunung di antara gunung-gunung.".[13][3]
Kematian
[sunting | sunting sumber]Ibnu Mandah meninggal pada akhir Bulan Dzulqa'dah tahun 395 Hijriyah / 1005 Masehi di usia 82 tahun. Al-Bathirqani berkata, "Pada malam meninggahrya Abu Abdillah, aku berada di dekatnya. Di antara kami berkata, "La ilaha illah (dengan maksud menalqinnya)." Akan tetapi Abu Abdillah memberikan isyarat dengan tangannya dua atau tiga kali agar orang tersebut berhenti dari ucapannya dan tidak usah melakukan talqin."[3]
Lihat juga
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ A.C. Brown, Jonathan (2009). Hadith: Muhammad's Legacy in the Medieval and Modern World (Foundations of Islam). Oneworld Publications. hlm. 39. ISBN 978-1-85168-663-6.
- ↑ Frye, ed. by R.N. (1975). The Cambridge history of Iran (Edisi Repr.). London: Cambridge U.P. hlm. 471. ISBN 978-0-521-20093-6.
{{cite book}}:|first1=memiliki nama generik - 1 2 3 4 5 Farid, Syaikh Ahmad (2006). 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9795923692
- ↑ Abū Nuʿaym, History of Iṣfahan, ed. S. Dedering, i, 178; al-Dhahabi, Tad̲h̲kirat al-ḥuffāẓ, Ḥaydarābād 1333-4, iii, 221
- ↑ Abū Nu’aym, ii, 359
- ↑ Lucas, Scott (2004), Constructive Critics, Ḥadīth Literature, and the Articulation of Sunnī Islam, Koninklijke Brill NV, Leiden, The Netherlands, ISBN 90 04 13319 4
- ↑ Brief Biographies of Eminent Hadith Scholars
- ↑ Rosenthal, F. (2012), “Ibn Manda”, in: Encyclopaedia of Islam, Second Edition, Edited by: P. Bearman, Th. Bianquis, ISBN 9789004161214
- ↑ Sifatu Safwa, Products by Ibn Mandah
- ↑ vf. Y. al-‘Ishsh, Fihris makhtūlāt Dār al-Kutub al-Zāhiriyya, Damascus 1366/1947, 171 f.
- ↑ Cairo, Taymūr, ta’rīkh 677, 695
- ↑ W. Madelung, "Abū No'aym Al-Esfahāni," Encyclopædia Iranica, I/4, pp. 354–355; available online at
- ↑ Karamustafa, Ahmet T. (2007) Sufism: The Formative Period, University of California Press, ISBN 978 0 520 25268 4