Lompat ke isi

Surastri Karma Trimurti

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari SK Trimurti)
Surastri Karma Trimurti
Menteri Perburuhan Indonesia ke-1
Masa jabatan
3 Juli 1947  29 Januari 1948
PresidenSoekarno
PendahuluTidak ada
PenggantiRahendra Kusnan
Informasi pribadi
LahirSoerastri Karma Trimoerti
(1912-05-11)11 Mei 1912
Meninggal20 Mei 2008(2008-05-20) (umur 96)
Partai politik
Suami/istriSayuti Melik
Anak2
AlmamaterUniversitas Indonesia

Dra. Hj. Surastri Karma Trimurti (Ejaan Van Ophuijsen: Soerastri Karma Trimoerti, 11 Mei 1912  20 Mei 2008) adalah seorang penulis, wartawan, dan guru Indonesia, yang ikut serta dalam gerakan kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan oleh Belanda.[3] Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Buruh pertama Indonesia dari tahun 1947 sampai 1948 di bawah Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin.[4]

Soerastri Karma Trimurti disingkat SK Trimurti adalah perempuan yang terlibat secara langsung dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Perempuan aktivis politik pada masa kolonial Belanda ini dikenal sebagai sosok yang peduli pada bidang pendidikan.

Awal Kehidupan

[sunting | sunting sumber]

Surastri lahir pada tanggal 11 Mei 1912 di Desa Sawahan Boyolali, Surakarta Hadiningrat. Surastri memiliki hubungan kekerabatan dengan Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah. Ia terlahir dari seorang ibu bernama R.A. Saparinten dan ayahnya adalah seorang asisten wedana bernama R.Ng. Salim Banjaransari Mangunkusumo.[5]

Pada awal pendidikan, Surastri menghadiri ke Sekolah Guru Putri. Ia pernah menempuh pendidikan di Normaal School dan AMS di Surakarta. Kemudian melanjutkan studinya di Jurusan Ekonomi, Universitas Indonesia (UI).[3] Meskipun ia telah meraih gelar Doktoranda dari Universitas Indonesia (UI), ia tetap aktif di bidang jurnalistik

Gerakan Kemerdekaan Indonesia

[sunting | sunting sumber]

Surastri menjadi aktif dalam gerakan kemerdekaan Indonesia selama tahun 1930, secara resmi bergabung dengan nasionalis Partai Indonesia (Partindo) pada tahun 1933, tak lama setelah menyelesaikan sekolahnya di Tweede Indlandsche School.

Surastri memulai kariernya sebagai guru sekolah dasar setelah meninggalkan Tweede Indlandsche School. Ia mengajar di sekolah-sekolah dasar di Bandung, Surakarta dan Banyumas pada 1930-an. Namun, ia ditangkap oleh pemerintah Belanda pada tahun 1936 karena mendistribusikan pamflet anti-kolonial. Surastri dipenjara selama sembilan bulan di Penjara Bulu di Semarang.

Surastri beralih karier dari mengajar ke jurnalistik setelah dibebaskan dari penjara. Ia segera menjadi terkenal di kalangan jurnalistik dan anti-kolonial sebagai wartawan kritis. Ia biasa menggunakan nama samaran, seperti "Trimurti" atau "Karma", dalam tulisan-tulisannya untuk menghindari penangkapan oleh pemerintah kolonial, sehingga di kalangan pejuang ia lebih dikenal dengan nama "SK Trimurti". Selama karier laporannya, Trimurti bekerja di sejumlah surat kabar Indonesia termasuk Pesat, Genderang, Bedung, dan Pikiran Rakyat. Ia menerbitkan Pesat bersama suaminya. Saat pendudukan Jepang, Pesat dilarang oleh pemerintah militer Jepang. Ia ditangkap dan disiksa.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

[sunting | sunting sumber]

Trimurti menjadi salah satu tokoh yang hadir dalam momen Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Bersama Fatmawati Soekarno, ia berdiri di barisan depan dan menyaksikan langsung pengibaran bendera merah putih.

Trimurti menjadi saksi hidup perjuangan bangsa Indonesia sejak masa penjajahan Belanda hingga penjajahan Jepang serta ikut serta menyebarkan berita kemerdekaan Indonesia. Maka wajarlah jika beliau diangkat sebagai Menteri Tenaga Kerja paska kemerdekaan.[6]

Paska Kemerdekaan

[sunting | sunting sumber]

Sebagai Menteri Tenaga Kerja pertama di Indonesia di bawah Perdana Menteri Amir Sjarifuddin. Ia menjabat tahun 1947 hingga 1948. Ia aktif sebagai eksekutif di Partai Buruh Indonesia (PBI), dan memimpin sayap wanitanya.

Ia ikut mendirikan Gerwis, sebuah organisasi perempuan Indonesia, pada tahun 1950, yang kemudian berganti nama sebagai Gerwani. Pada tahun 1956, ia meninggalkan organisasi tersebut, lalu kembali ke perguruan tinggi. Ia belajar ekonomi di Universitas Indonesia, yang diselesaikannya pada tahun 1960. Pada tahun 1959 ia menyelesaikan gelar sarjananya sehingga menolak tawaran sebagai Menteri Sosial.

Trimurti adalah anggota dan penandatangan Petisi 50 pada tahun 1980, yang memprotes Soeharto atas penyalahgunaan Pancasila terhadap lawan politiknya. Para penanda tangan Petisi 50 termasuk pendukung kemerdekaan Indonesia terkemuka serta pemerintah dan pejabat militer, seperti Trimurti dan mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Pada tahun 1994, Trimurti mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah, tetapi ia mampu bertahan meski sejak saat itu ia harus memakai tongkat untuk berjalan.

Hingga usia lanjut, Trimurti masih aktif menghadiri acara-acara kenegaraan. Pada tahun 2007, ia meluncurkan buku autobiografi 95 Tahun SK Trimurti, yang berisi kumpulan tulisan-tulisannya dari tahun 1939 hingga 1991.

Trimurti meninggal dunia pada tanggal 20 Mei 2008 pukul 06.20, pada usia 96 tahun, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD), Jakarta setelah dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Menurut anaknya, Heru Baskoro, Trimurti meninggal karena pecahnya pembuluh darah vena. Ia juga menderita hemoglobin rendah dan tekanan darah tinggi. Untuk menghargai jasa-jasanya sebagai "pahlawan kemerdekaan Indonesia", diadakan upacara yang digelar di Istana Negara, Jakarta Pusat. Ia dimakamkan TMP Kalibata.

Kehidupan pribadi

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1938 ia menikah dengan Muhammad Ibnu Sayuti (Sayuti Melik) yang merupakan pengetik dari Deklarasi Kemerdekaan Indonesia, yang diproklamasikan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1945. Trimurti banyak menghabiskan sisa hidupnya di rumah kontrakan nya di Bekasi, Jawa Barat.

Namun karena pada masa kemerdekaan keduanya memiliki perbedaan ideologi, akhirnya mereka bercerai. Mohammad Ibnu Sayuti menjadi anggota DPR dari Golkar, sedangkan Trimurti melanjutkan aktivitasnya di bidang politik dan jurnalistik.[7]

Trimurti dan Sayuti memiliki dua orang putra, yaitu Musafir Karma Budiman dan Heru Baskoro.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. Nugraheni, Naomy A. (11 Mei 2022). "SK Trimurti Menteri Tenaga Kerja Pertama Indonesia 1947 - 1948, Begini Profilnya". Nasional Tempo.co. Diakses tanggal 12 Maret 2024. {{cite news}}: Kutipan memiliki paramater tidak diketahui : |coauthors=
  2. Nugraheni, Naomy A. (11 Mei 2022). "SK Trimurti Menteri Tenaga Kerja Pertama Indonesia 1947 - 1948, Begini Profilnya". Nasional Tempo.co. Diakses tanggal 12 Maret 2024. {{cite news}}: Kutipan memiliki paramater tidak diketahui : |coauthors=
  3. 1 2 Antologi Biografi Pengarang Sastra Jawa Modern.
  4. Magdalene.co (2020). Her Story:Perempuan Nusantara di Tepi Sejarah. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. hlm. 55.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. Hanifah, Ratih Widihastuti Ayu (April 2021). "S.K. Trimurti: Sosok Lengkap Pejuang Perempuan". Intisari: 29–52.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. Tasnur, Irvan; Fadli, Muhammad Rijal (2019-11-30). "Republik Indonesia Serikat:Tinjauan Historis Hubungan Kausalitas Peristiwa-Peristiwa Pasca Kemerdekaan Terhadap Pembentukan Negara RIS (1945-1949)". Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah. 5 (2): 58. doi:10.30870/candrasangkala.v5i2.6599. ISSN 2477-8214.
  7. Prabowo, Dhanu Priyo. (2010). Ensiklopedi sastra Jawa. Pradopo, Sri Widati., Rahayu, Prapti, 1959-, Balai Bahasa Yogyakarta (Indonesia) (Edisi Cet. 1). Yogyakarta: Kementerian Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa, Balai Bahasa Yogyakarta. ISBN 9789791852357. OCLC 801810329.

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]
  • Suwondo, Tirto dkk. (Agusuts 2016). Antologi Biografi Pengarang Sastra Jawa Modern (Edisi 1). Jakarta: Adi Wacana. hlm. xvi+292. ISBN 979-99604-8-7. {{cite book}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]