Tari Bedana

Tari Bedana adalah tari tradisional masyarakat Lampung yang berkembang dalam lingkungan kebudayaan Lampung dan Melayu-Islam. Tari ini dikenal sebagai tari pergaulan yang mencerminkan hubungan sosial, persahabatan, keramahan, kebersamaan, serta nilai adat dan keagamaan dalam kehidupan masyarakat Lampung.[1][2]
Tari Bedana berkembang dalam berbagai lingkungan masyarakat Lampung sehingga terdapat variasi dalam bentuk penyajian, jumlah penari, ragam gerak, musik pengiring, busana, dan konteks pertunjukannya. Salah satu bentuk Tari Bedana yang telah dibakukan melalui proses revitalisasi terdiri atas sembilan ragam gerak, sedangkan beberapa bentuk lokal memiliki susunan gerak yang berbeda.[3][4]
Pada 2018, Tari Bedana Lampung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dengan nomor pencatatan 201800657 melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 264/M/2018 dalam domain seni pertunjukan.[1][5]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Asal-usul
[sunting | sunting sumber]Sejarah awal Tari Bedana memiliki beberapa versi yang berkembang dalam sumber kebudayaan dan penelitian mengenai masyarakat Lampung. Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencatat bahwa Tari Bedana dipercayai berkembang seiring dengan masuknya agama Islam di Lampung dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lampung.[6]
Penelitian Riyan Hidayatullah dan Indra Bulan menyebutkan bahwa menurut sejarah yang berkembang dalam tradisi Tari Bedana, tari tersebut dibawa oleh orang Arab ke Lampung sekitar tahun 1930. Tari tersebut kemudian diajarkan kepada Ma'ruf, Amang, dan Abdullah sebelum menyebar ke berbagai wilayah Lampung.[7]
Keterangan mengenai asal-usul tersebut juga perlu ditempatkan dalam konteks tradisi lisan dan perkembangan kebudayaan masyarakat Lampung. Penelitian sejarah mengenai Tari Bedana di Negeri Olok Gading mencatat perkembangan bentuk tari tersebut dalam lingkungan masyarakat Teluk Betung dan menyebut bahwa bentuk kesenian Bedana telah berkembang di wilayah tersebut sejak pertengahan abad ke-20.[8]
Perbedaan keterangan tersebut menunjukkan bahwa sejarah Tari Bedana tidak dapat dilepaskan dari proses pewarisan budaya dan variasi lokal. Karena itu, keterangan mengenai asal-usul Tari Bedana sebaiknya dipahami berdasarkan sumber yang menyatakannya dan tidak digeneralisasikan sebagai satu-satunya versi sejarah yang tidak diperdebatkan.
Perkembangan awal
[sunting | sunting sumber]Dalam perkembangan awalnya, Tari Bedana berkaitan dengan kehidupan keagamaan masyarakat Lampung. Penelitian mengenai bentuk penyajian Tari Bedana di Desa Terbaya mencatat bahwa tari tersebut pada masa awalnya dibawakan oleh laki-laki secara berpasangan atau berkelompok dan berkaitan dengan kegiatan keagamaan dalam keluarga, termasuk peristiwa khatam Al-Qur'an.[2]
Dalam perkembangannya, Tari Bedana mengalami perubahan pada komposisi penari. Tari ini kemudian dapat dibawakan oleh laki-laki dan perempuan secara berpasangan maupun berkelompok. Dalam bentuk penyajian tersebut, penari laki-laki dan perempuan dapat menari secara berpasangan tanpa melakukan kontak fisik langsung.[2][6]
Perubahan tersebut berkaitan dengan meluasnya fungsi Tari Bedana sebagai bagian dari kehidupan sosial dan pertunjukan masyarakat. Tari Bedana kemudian digunakan dalam berbagai kegiatan adat, penyambutan, hiburan, pendidikan, dan kegiatan kebudayaan.[7][8]
Revitalisasi
[sunting | sunting sumber]Tari Bedana mengalami proses revitalisasi yang dilakukan oleh Taman Budaya Provinsi Lampung bersama pihak-pihak terkait. Proses tersebut bertujuan mempertahankan nilai dan pola tradisi sekaligus memperkuat ciri identitas Lampung dalam bentuk pertunjukannya.[3]
Penelitian Eris Aprilia menunjukkan bahwa bentuk Tari Bedana yang sebelumnya memiliki 13 ragam gerak kemudian dibakukan menjadi sembilan ragam gerak dalam hasil revitalisasi. Kesembilan ragam tersebut adalah Tahtim, Khesek Injing, Khesek Gantung, Ayun, Ayun Gantung, Belitut, Jimpang, Gelek, dan Humbak Moloh.[3]
Pembakuan tersebut tidak menghilangkan keberadaan variasi lokal. Penelitian mengenai Tari Bedana di Negeri Olok Gading mencatat 13 ragam gerak dalam bentuk yang hidup di lingkungan masyarakat tersebut.[4]
Perbedaan tersebut memperlihatkan adanya hubungan antara bentuk Tari Bedana yang dibakukan melalui revitalisasi dan bentuk-bentuk lokal yang tetap berkembang dalam masyarakat.
Fungsi dan nilai budaya
[sunting | sunting sumber]Tari Bedana dikenal sebagai tari pergaulan masyarakat Lampung. Fungsi tersebut berkaitan dengan interaksi sosial, persahabatan, keramahan, dan kebersamaan.[1][3]
Dalam perkembangannya, Tari Bedana digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk acara adat, penyambutan tamu, kegiatan kebudayaan, pertunjukan seni, dan kegiatan pendidikan. Perubahan fungsi tersebut merupakan bagian dari perkembangan Tari Bedana dari lingkungan tradisional menuju bentuk pertunjukan yang lebih luas.[7][9]
Tari Bedana juga dikaitkan dengan nilai kesantunan, persahabatan, keterbukaan, dan kehidupan beragama. Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia menghubungkan Tari Bedana dengan gambaran kehidupan masyarakat Lampung yang ramah dan terbuka serta simbol persahabatan.[6]
Dalam konteks kebudayaan Lampung, nilai-nilai tersebut dapat ditempatkan dalam hubungan dengan konsep sosial dan adat masyarakat Lampung, termasuk Piil Pesenggiri dan Nengah Nyappur. Namun, konsep tersebut merupakan bagian dari sistem nilai budaya Lampung yang lebih luas dan tidak hanya merujuk pada Tari Bedana.
Penari dan bentuk penyajian
[sunting | sunting sumber]Tari Bedana dapat disajikan secara berpasangan maupun berkelompok. Perubahan bentuk penyajian memungkinkan keterlibatan penari laki-laki dan perempuan serta penggunaan komposisi kelompok yang lebih besar.[2][7]
Dalam beberapa bentuk tradisional, pasangan penari dapat terdiri atas laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. Penelitian mengenai Tari Bedana Olok Gading menunjukkan bahwa bentuk tersebut merupakan salah satu ciri yang membedakannya dari bentuk Tari Bedana hasil pembakuan pemerintah.[10]
Jumlah penari dapat disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan. Dalam bentuk hasil revitalisasi yang dikaji Aprilia, Tari Bedana dapat disajikan oleh empat penari yang terdiri atas dua penari laki-laki dan dua penari perempuan.[3]
Ragam gerak
[sunting | sunting sumber]Dalam bentuk hasil revitalisasi Taman Budaya Provinsi Lampung, Tari Bedana memiliki sembilan ragam gerak pokok, yaitu:
- Tahtim
- Khesek Injing
- Khesek Gantung
- Ayun
- Ayun Gantung
- Belitut
- Jimpang
- Gelek
- Humbak Moloh
Kesembilan ragam tersebut merupakan hasil pembakuan dari bentuk Tari Bedana yang sebelumnya memiliki lebih banyak ragam gerak.[3]
Bentuk lokal Tari Bedana tidak selalu menggunakan susunan sembilan ragam gerak tersebut. Penelitian mengenai Tari Bedana di Negeri Olok Gading mencatat 13 ragam gerak yang berkembang dalam lingkungan masyarakat setempat.[4]
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa istilah Tari Bedana mencakup bentuk tradisi yang memiliki variasi lokal, sementara sembilan ragam gerak merupakan bentuk yang dibakukan melalui proses revitalisasi.
Tahtim
[sunting | sunting sumber]Tahtim merupakan salah satu ragam gerak Tari Bedana dan menjadi bagian dari susunan koreografi hasil revitalisasi.[3]
Khesek Injing
[sunting | sunting sumber]Khesek Injing merupakan salah satu ragam gerak pokok dalam bentuk Tari Bedana hasil revitalisasi.[3]
Khesek Gantung
[sunting | sunting sumber]Khesek Gantung merupakan salah satu ragam gerak pokok Tari Bedana yang digunakan dalam rangkaian koreografi hasil revitalisasi.[3]
Ayun
[sunting | sunting sumber]Ayun merupakan salah satu ragam gerak Tari Bedana yang termasuk dalam sembilan ragam gerak hasil revitalisasi.[3]
Ayun Gantung
[sunting | sunting sumber]Ayun Gantung merupakan salah satu ragam gerak Tari Bedana yang termasuk dalam bentuk koreografi hasil revitalisasi.[3]
Belitut
[sunting | sunting sumber]Belitut merupakan salah satu ragam gerak pokok dalam Tari Bedana hasil revitalisasi.[3]
Jimpang
[sunting | sunting sumber]Jimpang merupakan salah satu ragam gerak Tari Bedana yang termasuk dalam susunan sembilan ragam gerak hasil revitalisasi.[3]
Gelek
[sunting | sunting sumber]Gelek merupakan salah satu ragam gerak pokok Tari Bedana hasil revitalisasi.[3]
Humbak Moloh
[sunting | sunting sumber]Humbak Moloh merupakan salah satu ragam gerak pokok dalam Tari Bedana hasil revitalisasi.[3]
Musik pengiring
[sunting | sunting sumber]Musik merupakan salah satu unsur penting dalam penyajian Tari Bedana. Instrumen yang digunakan dalam berbagai bentuk penyajian antara lain gambus, rebana atau terbangan, ketipung atau marwas, kerenceng, dan gong.[2][6]
Gambus lunik merupakan salah satu instrumen yang berkaitan dengan musik pengiring Tari Bedana. Dalam beberapa penyajian, instrumen tersebut dimainkan bersama instrumen perkusi untuk membangun pola irama yang mendukung gerak tari.[11]
Komposisi instrumen dapat berbeda berdasarkan kelompok seni dan bentuk penyajiannya. Penelitian mengenai musik Tari Bedana juga mencatat penggunaan gambus lunik, rebana, talo balak, dan gong dalam konteks musik pengiring tari.[12]
Selain instrumen, lagu dan syair menjadi bagian dari pertunjukan Tari Bedana. Bentuk syair dapat berbeda menurut tradisi dan kelompok pendukungnya.
Busana
[sunting | sunting sumber]Busana Tari Bedana merupakan salah satu unsur pendukung pertunjukan yang memperlihatkan hubungan antara unsur kebudayaan Lampung dan Melayu-Islam. Busana dan aksesori yang digunakan dapat berbeda berdasarkan bentuk Tari Bedana dan kelompok seni yang menyajikannya.[6][3]
Busana perempuan
[sunting | sunting sumber]Busana perempuan dalam berbagai bentuk penyajian Tari Bedana dapat menggunakan sanggul atau belattung tebak, penekan rambut, gaharu kembang goyang atau sual kira, kembang melati atau kembang melur, subang giwir atau anting-anting, buah jukum, bulu serattei atau bebitting, gelang kano atau gelang bibit, kawai kurung, serta kain tapis atau betuppal.[13]
Busana laki-laki
[sunting | sunting sumber]Busana laki-laki dapat terdiri atas kilat akinan atau peci, kawai teluk belanga, kain bidak gantung atau betumpal, bulu serattei atau bebitting, gelang kano, celana panjang atau pangal, serta kalung atau buah jukum.[13]
Busana tersebut dapat mengalami penyesuaian berdasarkan bentuk pertunjukan dan proses revitalisasi. Penelitian mengenai hasil revitalisasi mencatat adanya penguatan unsur busana dan aksesori yang mencirikan identitas daerah Lampung.[3]
Pola lantai
[sunting | sunting sumber]Pola lantai Tari Bedana berkaitan dengan perpindahan dan posisi penari selama pertunjukan. Bentuk pola lantai dapat berbeda antara bentuk tradisional, hasil revitalisasi, dan Tari Bedana kreasi.
Dalam Tari Bedana Olok Gading, misalnya, terdapat pola lantai maju-mundur dalam satu garis lurus. Penari yang berpasangan dapat bergerak berlawanan arah sehingga membentuk kesan seperti bercermin.[10]
Perubahan pola lantai juga menjadi salah satu unsur yang mengalami perkembangan ketika Tari Bedana tradisional dikembangkan menjadi Tari Bedana kreasi.[9]
Variasi lokal
[sunting | sunting sumber]Tari Bedana berkembang di berbagai wilayah Lampung sehingga terdapat sejumlah bentuk lokal. Salah satu bentuk yang terdokumentasi secara akademik adalah Tari Bedana Olok Gading di Negeri Olok Gading, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung.[8]
Tari Bedana Olok Gading memiliki sejumlah karakteristik yang berbeda dari bentuk Tari Bedana hasil revitalisasi. Salah satunya adalah komposisi pasangan penari yang dapat berupa laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. Bentuk geraknya juga mempertahankan pola tertentu yang berkembang dalam lingkungan masyarakat Negeri Olok Gading.[10]
Penelitian mengenai bentuk Tari Bedana di Negeri Olok Gading juga mencatat 13 ragam gerak. Temuan tersebut menunjukkan bahwa jumlah ragam gerak Tari Bedana dapat berbeda berdasarkan bentuk dan lingkungan tradisinya.[4]
Variasi tersebut merupakan bagian dari proses pewarisan dan perkembangan tradisi tari di masyarakat.
Tari Bedana kreasi
[sunting | sunting sumber]Perkembangan seni pertunjukan menyebabkan Tari Bedana mengalami transformasi menjadi berbagai bentuk Tari Bedana kreasi. Transformasi tersebut dapat terjadi pada ragam gerak, pola lantai, jumlah penari, busana, musik pengiring, tempat pertunjukan, waktu pertunjukan, dan fungsi tari.[7][9]
Tari Bedana kreasi tetap menggunakan unsur Tari Bedana sebagai dasar, tetapi dapat mengalami pengembangan sesuai dengan kebutuhan koreografi dan pertunjukan modern.
Perbedaan antara Tari Bedana tradisional dan Tari Bedana kreasi penting diperhatikan karena keduanya tidak selalu menggunakan bentuk koreografi yang sama. Penelitian mengenai transformasi Tari Bedana menunjukkan bahwa perkembangan tersebut merupakan bagian dari perubahan seni pertunjukan sebagai respons terhadap perubahan kehidupan masyarakat dan kebutuhan pertunjukan.[7]
Pendidikan dan pembelajaran
[sunting | sunting sumber]Tari Bedana menjadi salah satu materi pembelajaran seni tari di sekolah dan lembaga pendidikan di Lampung. Penelitian mengenai pembelajaran Tari Bedana telah dilakukan pada berbagai jenjang pendidikan dan menggunakan berbagai metode pembelajaran.[14]
Pembelajaran Tari Bedana menggunakan metode demonstrasi di MTsN 2 Bandar Lampung menunjukkan bahwa demonstrasi gerak dapat digunakan untuk membantu peserta didik menguasai bentuk, hafalan, dan ketepatan gerak.[15]
Penelitian lain mengkaji penggunaan metode pemodelan dalam pembelajaran Tari Bedana pada kegiatan ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Sumberjaya, Lampung Barat.[16]
Pembelajaran Tari Bedana juga dikaji melalui penggunaan model SAVI, cooperative learning, group investigation, demonstrasi, dan media audiovisual.[17][18][19]
Penelitian mengenai peran guru dalam pembelajaran Tari Bedana juga dilakukan pada tingkat sekolah menengah pertama dan madrasah aliyah.[20][21]
Penelitian yang lebih baru mengkaji kecerdasan kinestetik dalam penguasaan ragam gerak Tari Bedana oleh mahasiswa pendidikan tari. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa unsur koordinasi dan keseimbangan merupakan bagian penting dalam penguasaan gerak Tari Bedana.[22]
Pelestarian
[sunting | sunting sumber]Pelestarian Tari Bedana dilakukan melalui pewarisan antargenerasi, pembelajaran di sekolah dan sanggar, pertunjukan, penelitian, revitalisasi, serta dokumentasi.
Di Negeri Olok Gading, misalnya, pelestarian Tari Bedana dilakukan melalui latihan rutin, pementasan dalam berbagai kegiatan, kerja sama dengan lembaga pemerintah, serta penerimaan anggota baru dalam sanggar seni.[8]
Penggunaan media audiovisual juga menjadi salah satu bentuk pengembangan dokumentasi dan pembelajaran Tari Bedana. Penelitian mengenai media pembelajaran Tari Bedana menunjukkan bahwa video dapat digunakan untuk membantu peserta didik mengamati dan mempraktikkan gerak tari.[19]
Pada 2026, pengembangan media pembelajaran Tari Bedana juga dilakukan melalui video tutorial Tari Bedana Olok Gading sebagai media audiovisual.[23]
Dokumentasi WikiNgigel
[sunting | sunting sumber]Tari Bedana didokumentasikan dalam kegiatan WikiNgigel pada 5 Juli 2026 di Bandar Lampung bersama Sanggar Nuvusa Etnika. Dokumentasi tersebut menghasilkan foto, rekaman audiovisual ragam gerak, dan rekaman pertunjukan lengkap yang tersedia di Wikimedia Commons.[24]
Dokumentasi WikiNgigel merupakan sumber audiovisual primer yang memperlihatkan bentuk pertunjukan Tari Bedana pada saat dokumentasi dilakukan. Dokumentasi tersebut digunakan untuk mendukung pengamatan terhadap bentuk gerak, busana, komposisi penari, dan aspek visual pertunjukan, sedangkan informasi mengenai sejarah dan perkembangan Tari Bedana tetap merujuk pada penelitian dan sumber kelembagaan.
Pertunjukan lengkap
[sunting | sunting sumber]Dokumentasi ragam gerak
[sunting | sunting sumber]Dokumentasi fotografi
[sunting | sunting sumber]Dokumentasi fotografi Tari Bedana dari kegiatan WikiNgigel tersedia di Wikimedia Commons dalam kategori WikiNgigel - Tari Bedana. Dokumentasi tersebut mencakup 25 foto yang dibuat pada 5 Juli 2026 di Bandar Lampung.
Status Warisan Budaya Takbenda
[sunting | sunting sumber]Tari Bedana Lampung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018 melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 264/M/2018. Karya budaya tersebut tercatat dengan nomor 201800657 dan termasuk domain Seni Pertunjukan.[1]
Penetapan tersebut menempatkan Tari Bedana sebagai salah satu warisan budaya pertunjukan yang berasal dari Provinsi Lampung dan diakui dalam sistem pencatatan Warisan Budaya Takbenda Indonesia.[5]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 "Tari Bedana Lampung". Data Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Diakses tanggal 13 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 Yustika, Mega; Bisri, Mohammad Hasan (2017). "Bentuk Penyajian Tari Bedana di Desa Terbaya Kecamatan Kotaagung Kabupaten Tanggamus Lampung". Jurnal Seni Tari. 6 (1). doi:10.15294/jst.v6i1.16108.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Aprilia, Eris (2019). "Bentuk Koreografi Tari Bedana Hasil Revitalisasi Taman Budaya Provinsi Lampung". Joged: Jurnal Seni Tari. 11 (1): 631–646. doi:10.24821/joged.v11i1.2496.
- 1 2 3 4 Winata, Mosya Vini (2023). Bentuk Tari Bedana di Negeri Olok Gading (Tesis). Universitas Lampung.
- 1 2 "Rekapitulasi Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2013–2024" (PDF). Dana Indonesiana. Diakses tanggal 13 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya (2018). Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2018: Buku Dua (PDF). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. hlm. 82–83.
- 1 2 3 4 5 6 Hidayatullah, Riyan; Bulan, Indra (2017). "Transformasi Tari Bedana Tradisi Menjadi Tari Bedana Kreasi". Aksara: Jurnal Bahasa dan Sastra. 18 (2): 178–191. doi:10.23960/aksara/v18i2.pp178-191.
- 1 2 3 4 Setiawan, Agus Mahfudin (2017). Tari Bedana di Negeri Olok Gading Teluk Betung Barat Bandar Lampung: Studi Kasus Kesenian Islam 1968–2015 M (Tesis). UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
- 1 2 3 Saputra, Agus Wantoro (2020). Perubahan Bentuk dan Fungsi Tari Bedana Tradisional Menjadi Tari Bedana Kreasi di Provinsi Lampung (Tesis). Universitas Pendidikan Indonesia.
- 1 2 3 Martiara, Rina; Erlina, Pantja (2022). "Keunikan Tari Bedana Olok Gading di Negeri Olok Gading Teluk Betung Barat Kota Bandar Lampung". Prosiding Seminar Antar Bangsa #2. Singgasana Budaya Nusantara.
- ↑ Hidayatullah, Riyan (2017). Pengantar Seni Pertunjukan Lampung. Yogyakarta: Arttex. ISBN 978-602-60636-8-7.
- ↑ Sari, Indah (2024). Analisis Frekuensi dan Taraf Intensitas Gelombang Bunyi pada Alat Musik Tari Bedana Adat Lampung dengan Pendekatan Etnosains (Tesis). UIN Raden Intan Lampung.
- 1 2 Yustika, Mega; Bisri, Mohammad Hasan (2017). "Bentuk Penyajian Tari Bedana di Desa Terbaya Kecamatan Kotaagung Kabupaten Tanggamus Lampung". Jurnal Seni Tari. 6 (1). doi:10.15294/jst.v6i1.16108.
- ↑ Rosmiyanti, Fenny; Kurniawan, Agung; Nazaruddin, Kahfie (2013). "Pembelajaran Tari Bedana pada Siswa-Siswi Kelas X.8 di SMA Perintis 1". Jurnal Seni dan Pembelajaran. 1 (2).
- ↑ Wulandari, Rr. Tri Arum; Kurniawan, Agung; Mustika, I Wayan (2014). "Pembelajaran Tari Bedana dengan Menggunakan Metode Demonstrasi di MTsN 2 Bandar Lampung". Jurnal Seni dan Pembelajaran. 2 (3).
- ↑ Vasthi, Ardelia; Kurniawan, Agung; Mustika, I Wayan (2014). "Pembelajaran Tari Bedana Menggunakan Metode Pemodelan pada Kegiatan Ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Sumberjaya Lampung Barat". Jurnal Seni dan Pembelajaran.
- ↑ Putra, Ilhamsyah; Miftha; Daryanti, Fitri; Hasyimkan (2014). "Penerapan SAVI dalam Pembelajaran Tari Bedana di SMP Negeri 10 Bandar Lampung". Jurnal Seni dan Pembelajaran.
- ↑ Asmara, A.; Hasyimkan; Wendhaningsih, Susi (2020). "Pembelajaran Tari Bedana Menggunakan Metode Cooperative Learning Tipe Group Investigation di SMK PGRI Pasir Sakti Lampung Timur". Jurnal Seni dan Pembelajaran.
- 1 2 Novriza, Fiqral Ifthahul Pahla; Hidayatullah, Riyan; Wendhaningsih, Susi (2017). "Penggunaan Media Audio Visual dalam Pembelajaran Tari Bedana di SMA YP Unila Bandar Lampung". Jurnal Seni dan Pembelajaran.
- ↑ Alfath, Hanna Difetra; Daryanti, Fitri; Hasyimkan (2013). "Peranan Guru dalam Pembelajaran Tari Bedana di SMP Wiyatama Bandar Lampung". Jurnal Seni dan Pembelajaran.
- ↑ Siregar, Helda; Kurniawan, Agung; Wendhaningsih, Susi (2019). "Peran Guru dalam Pembelajaran Tari Bedana pada Siswa Kelas X IPA 1 di MAN 1 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2015/2016". Jurnal Seni dan Pembelajaran.
- ↑ "Kecerdasan Kinestetik pada Ragam Gerak Tari Bedana". Jurnal Seni dan Pembelajaran. 12 (1): 28–39. 2024.
- ↑ Rahmaniar, Vanny (2026). Pengembangan Video Tutorial Pembelajaran Tari Bedana Olok Gading (Tesis). Universitas Lampung.
- ↑ "File:WikiNgigel – Tari Bedana (Full Performance) – Bandar Lampung (2026).webm". Wikimedia Commons. Diakses tanggal 13 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)