A v 323
Sandha
Di terjemahkan dari pāḷi olehBhikkhu Bodhi
ShortUrl:
Edisi lain:
Pāḷi (vri)
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Nādika [323] di aula bata. Kemudian Yang Mulia Sandha1 mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:
“Bermeditasilah seperti seekor kuda berdarah murni, Sandha, bukan seperti seekor anak kuda liar. Dan bagaimanakah seekor anak kuda liar bermeditasi? Ketika seekor anak kuda liar diikat di dekat palung makanan ia bermeditasi: ‘Makanan, makanan!’ Karena alasan apakah? Karena ketika seekor anak kuda liar diikat di dekat palung makanan, ia tidak bertanya kepada diri sendiri: ‘Sekarang tugas apakah yang akan diberikan oleh pelatihku hari ini? Apakah yang dapat kulakukan untuk memuaskannya?’ Dengan terikat di dekat palung makanan, ia hanya bermeditasi: ‘Makanan, makanan!’ Demikian pula, Sandha, seseorang yang seperti anak kuda liar, ketika telah pergi ke hutan, ke bawah pohon, atau ke gubuk kosong, ia berdiam dengan pikiran dikuasai dan diserang oleh nafsu indria, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari nafsu indria yang telah muncul. Dengan memendam nafsu dalam pikiran, ia bermeditasi, berpikir, menimbang-nimbang, dan merenung.2 Ia berdiam dengan pikiran dikuasai dan diserang oleh niat buruk … oleh ketumpulan dan kantuk … oleh kegelisahan dan penyesalan … oleh keragu-raguan, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari keragu-raguan yang telah muncul. Dengan memendam keragu-raguan dalam pikiran, ia bermeditasi, berpikir, [324] menimbang-nimbang, dan merenung.
“Ia bermeditasi (1) dengan bergantung pada tanah, (2) dengan bergantung pada air, (3) dengan bergantung pada api, (4) dengan bergantung pada udara, (5) dengan bergantung pada landasan ruang tanpa batas, (6) dengan bergantung pada landasan kesadaran tanpa batas, (7) dengan bergantung pada landasan kekosongan, (8) dengan bergantung pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, (9) dengan bergantung pada dunia ini, (10) dengan bergantung pada dunia lain, (11) dengan bergantung pada apa yang dilihat, didengar, diindra, dikenali, dijangkau, dicari, dan diperiksa oleh pikiran. Demikianlah meditasi dari seorang yang seperti anak kuda liar.
“Dan bagaimanakah, Sandha, seekor kuda berdarah murni bermeditasi? Ketika seekor kuda berdarah murni yang baik diikat di dekat palung makanan ia tidak bermeditasi: ‘Makanan, makanan!’ Karena alasan apakah? Karena ketika seekor kuda berdarah murni yang baik diikat di dekat palung makanan, ia bertanya kepada diri sendiri: ‘Sekarang tugas apakah yang akan diberikan oleh pelatihku hari ini? Apakah yang dapat kulakukan untuk memuaskannya?’ Dengan terikat di dekat palung makanan, ia tidak bermeditasi: ‘Makanan, makanan!’ Karena seekor kuda berdarah murni yang baik menganggap penggunaan tongkat kendali sebagai hutang, ikatan, kerugian, dan kegagalan. Demikian pula, seorang berdarah murni yang baik, ketika telah pergi ke hutan, ke bawah pohon, atau ke gubuk kosong, ia tidak berdiam dengan pikiran dikuasai dan diserang oleh nafsu indria, dan ia memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari nafsu indria yang telah muncul. Ia tidak berdiam dengan pikiran dikuasai dan diserang oleh niat buruk … oleh ketumpulan dan kantuk … oleh kegelisahan dan penyesalan … oleh keragu-raguan, dan ia memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari keragu-raguan yang telah muncul.
“Ia tidak bermeditasi (1) dengan bergantung pada tanah, (2) dengan bergantung pada air, (3) dengan bergantung pada api, (4) dengan bergantung pada udara, (5) dengan bergantung pada landasan ruang tanpa batas, (6) dengan bergantung pada landasan kesadaran tanpa batas, (7) dengan bergantung pada landasan kekosongan, (8) dengan bergantung pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, [325] (9) dengan bergantung pada dunia ini, (10) dengan bergantung pada dunia lain, (11) dengan bergantung pada apa yang dilihat, didengar, diindra, dikenali, dijangkau, dicari, dan diperiksa oleh pikiran, namun ia bermeditasi.
“Ketika ia bermeditasi demikian, para deva bersama dengan Indra, Brahmā, dan Pajāpati menyembah orang berdarah murni yang baik itu dari kejauhan, dengan berkata:
“‘Hormat kepadamu, O orang berdarah murni yang baik!
Hormat kepadamu, O orang yang mulia!
Kami sendiri tidak memahami
Dengan bergantung pada apakah engkau bermeditasi.’”3
Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sandha berkata kepada Sang Bhagavā: “Tetapi bagaimanakah, Bhante, seorang berdarah murni yang baik bermeditasi? Jika ia tidak bermeditasi dengan bergantung pada tanah … dengan bergantung pada apa yang dilihat, didengar, diindra, dikenali, dijangkau, dicari, dan diperiksa oleh pikiran, namun ia bermeditasi, bagaimanakah ia bermeditasi sehingga para deva … menyembah orang berdarah murni yang baik itu dari kejauhan, dengan berkata:
“‘Hormat kepadamu, O orang berdarah murni yang baik! …
Dengan bergantung pada apa engkau bermeditasi’?”
“Di sini, Sandha, pada seorang berdarah murni yang baik, persepsi tanah telah lenyap sehubungan dengan tanah,4 persepsi air telah lenyap sehubungan dengan air, persepsi api telah lenyap sehubungan dengan api, persepsi udara telah lenyap sehubungan dengan udara, persepsi landasan ruang tanpa batas telah lenyap sehubungan dengan landasan ruang tanpa batas, persepsi landasan kesadaran tanpa batas telah lenyap sehubungan dengan landasan kesadaran tanpa batas, [326] persepsi landasan kekosongan telah lenyap sehubungan dengan landasan kekosongan, persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi telah lenyap sehubungan dengan landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, persepsi dunia ini telah lenyap sehubungan dengan dunia ini, persepsi dunia lain telah lenyap sehubungan dengan dunia lain, persepsi telah lenyap sehubungan dengan apa yang dilihat, didengar, diindra, dikenali, dijangkau, dicari, dan diperiksa oleh pikiran.
“Dengan bermeditasi demikian, Sandha, seorang berdarah murni yang baik tidak bermeditasi dengan bergantung pada tanah, dengan bergantung pada air, dengan bergantung pada api, dengan bergantung pada udara, dengan bergantung pada landasan ruang tanpa batas, dengan bergantung pada landasan kesadaran tanpa batas, dengan bergantung pada landasan kekosongan, dengan bergantung pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, dengan bergantung pada dunia ini, dengan bergantung pada dunia lain; dengan bergantung pada apa yang dilihat, didengar, diindra, dikenali, dijangkau, dicari, dan diperiksa oleh pikiran namun ia bermeditasi.5 Dan ketika ia bermeditasi demikian, para deva bersama dengan Indra, Brahmā, dan Pajāpati menyembah orang berdarah murni yang baik itu dari kejauhan, dengan berkata:
“‘Hormat kepadamu, O orang berdarah murni yang baik!
Hormat kepadamu, O orang yang mulia!
Kami sendiri tidak memahami
Dengan bergantung pada apa engkau bermeditasi.’”
Be menuliskan nama ini sebagai Saddha. ↩︎
Jhāyati pajjhāyati nijjhāyati avajjhāyati. Seperti pada 6:46, III 354,8-10, dengan nuansa yang agak mengejek. ↩︎
Yassa te nābhijānāma, yampi nissāya jhāyasi. Baca MN 22.36, I 140,1-7: “Ketika para deva bersama dengan Indra, Brahmā, dan Pajāpati, mencari seorang bhikkhu yang pikirannya terbebas demikian, mereka tidak menemukan dengan bergantung pada apakah kesadaran dari orang yang mencapai demikian. Mengapakah demikian? Aku katakan bahwa orang yang telah mencapai demikian tidak dapat dilacak bahkan dalam kehidupan ini” (evaṃ vimuttacittaṃ kho, bhikkhave, bhikkhuṃ sa-indā devā sabrahmakā sapajāpatikā anvesaṃ nādhigacchanti ‘idaṃ nissitaṃ tathāgatassa viññāṇan’ ti. Taṃ kissa hetu? Diṭṭh’evāhaṃ, bhikkhave, dhamme tathāgataṃ ananuvijjo ti vadāmi). ↩︎
Paṭhaviyaṃ paṭhavisaññā vibhūtā hoti. Mp mengemas vibhūta di sini sebagai “nyata” (pākaṭa), dengan menjelaskan: “Persepsi empat atau lima jhāna yang muncul dengan tanah, dan seterusnya, sebagai objek menjadi nyata … karena telah terlihat dengan pandangan terang sebagai tidak kekal, penderitaan, dan tanpa-diri.” Mp mencoba mendukung interpretasi ini dengan sebuah kutipan yang dikatakan bersumber dari sebuah sutta: vibhūtā, bhante, rūpasaññā avibhūtā aṭṭhikasaññā. Akan tetapi, pencarian pada CST 4.0 tidak berhasil menemukan kata-kata ini di mana pun di dalam Nikāya-nikāya. Sepengetahuan saya, dalam Nikāya-nikāya, vibhūta selalu bermakna “hilang, lenyap.” Baca ungkapan vibhūtasaññī pada Sn 874, dan vibhūtarūpasaññissa pada Sn 1113, di mana dalam kedua kasus vibhūta hanya dapat berarti “lenyap.” Tampaknya tidak ada alasan untuk menerima makna belakangan di sini. Sebuah paralel China, SĀ 926 (pada T II 235c26-236b11), mendukung kesimpulan ini. Menganggap tanah sebagai sebuah contoh (pada II 236a27), tertulis: “Seorang bhikkhu mampu menekan persepsi tanah sehubungan dengan persepsi tanah” (比丘於地想能伏地想). Mungkinkah 想 yang di tengah di sini seharusnya tidak ada sehingga kita seharusnya membaca 比丘於地能伏地想? ↩︎
Mp: “Ia bermeditasi melalui pencapaian buah yang dihasilkan setelah dengan cara ini melewati urut-urutan pandangan terang” (evaṃ vipassanāpaṭipāṭiya āgantvā uppāditāya phalasamāpattiyā jhāyanto). ↩︎