easter-japanese

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Kosambī di Taman Ghosita. Pada saat itu Yang Mulia Udāyī, dengan dikelilingi oleh kumpulan besar umat awam, sedang duduk mengajarkan Dhamma.1 Yang Mulia Ānanda melihat hal ini dan mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata: “Bhante, Yang Mulia Udāyī, dengan dikelilingi oleh kumpulan besar umat awam, sedang mengajarkan Dhamma.”

“Tidaklah mudah, Ānanda, mengajarkan Dhamma kepada orang lain. Seseorang yang mengajarkan Dhamma kepada orang lain pertama-tama harus menegakkan lima kualitas secara internal. Apakah lima ini? (1) [Setelah memutuskan:] ‘Aku akan memberikan khotbah bertingkat,’ ia boleh mengajarkan Dhamma kepada orang lain.2 (2) [Setelah memutuskan:] ‘Aku akan memberikan khotbah dengan memperlihatkan alasan-alasan,’ ia boleh mengajarkan Dhamma kepada orang lain.3 (3) [Setelah memutuskan:] ‘Aku akan memberikan khotbah demi simpati,’ ia boleh mengajarkan Dhamma kepada orang lain. (4) [Setelah memutuskan:] ‘Aku tidak akan memberikan khotbah karena menghendaki perolehan materi,’ ia boleh mengajarkan Dhamma kepada orang lain. (5) [Setelah memutuskan:] ‘Aku akan memberikan khotbah tanpa membahayakan diriku atau orang lain,’ ia boleh mengajarkan Dhamma kepada orang lain. Tidaklah mudah, Ānanda, mengajarkan Dhamma kepada orang lain. Seseorang yang mengajarkan Dhamma kepada orang lain pertama-tama harus menegakkan kelima kualitas ini secara internal.”


Catatan Kaki
  1. Ini adalah Lāḷudāyī, sering digambarkan sebagai seorang bhikkhu yang sombong. Dengan demikian kata-kata Sang Buddha selanjutnya mungkin harus dipahami sebagai teguran padanya karena menempatkan dirinya sebagai seorang guru. Contoh lain dari ketergesa-gesaan Udāyī terdapat pada 3:80 dan 5:166. Pada 6:29 dan sekali lagi pada MN 136.6, III 208,25-31, ia ditegur oleh Sang Buddha. Dalam Vinaya Piṭaka seorang Udāyī tertentu digambarkan sebagai seorang bhikkhu mesum yang berperilaku salah dalam urusan seksual yang bertanggung jawab atas ditetapkannya beberapa aturan saṅghadisesa, tetapi tidak dapat dipastikan apakah ia adalah sama dengan Udāyī yang ini. Ia juga mungkin adalah karakter fiktif, si “anu” yang digunakan dalam kisah asal-mula aturan-aturan ini. ↩︎

  2. Ānupubbīkathaṃ kathessāmi. Mp: “Ia harus mengajarkan Dhamma kepada orang lain setelah memutuskan: ‘Aku pertama-tama akan membabarkan tentang memberi, selanjutnya tentang perilaku bermoral, dan selanjutnya tentang alam surga; atau aku akan menjelaskan satu paragraf sutta atau syair sesuai dengan urutan kata-katanya.’” ↩︎

  3. Pariyāyadassāvī. Mp: “Menunjukkan alasan (kāraṇa) atas hal ini atau itu.” ↩︎