Lompat ke isi

Kesepian

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Automat oleh Edward Hopper, 1927

Kesepian adalah respons emosional yang tidak menyenangkan terhadap isolasi sosial, baik yang dirasakan maupun yang nyata. Kesepian digambarkan sebagai rasa sakit sosial, yaitu sebuah mekanisme psikologis yang memotivasi individu untuk mencari hubungan sosial.

Penyebab kesepian sangat beragam. Kesepian dapat terjadi akibat masalah sistemik,[1] faktor genetik,[2] faktor budaya, kurangnya hubungan yang bermakna,[3] kehilangan yang signifikan, ketergantungan berlebihan pada teknologi pasif (khususnya Internet pada abad ke-21),[4] serta pola pikir yang memperkuat diri secara negatif.[5] Penelitian menunjukkan bahwa kesepian ada di mana-mana dalam masyarakat, termasuk di antara orang-orang yang terikat dalam pernikahan, hubungan dekat lainnya, dan mereka yang memiliki karier sukses.

Sebagian besar orang mengalami kesepian sementara pada waktu-waktu tertentu dalam hidup mereka, dengan sekitar satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian jangka panjang yang signifikan. Remaja cenderung mengalami tingkat kesepian tertinggi; pada usia-usia berikutnya, tingkat kesepian cenderung menurun. Hal ini berbanding terbalik dengan isolasi sosial, yang cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, meskipun rata-rata orang lanjut usia justru merasa semakin tidak terganggu oleh isolasi tersebut dengan laju yang lebih cepat.[6]:30,193

Kesepian sementara atau jangka pendek umumnya dipandang sebagai respons adaptif yang positif. Meskipun tidak menyenangkan, kondisi ini memotivasi individu untuk mencari hubungan sosial, serupa dengan rasa lapar jangka pendek yang memotivasi seseorang untuk makan.[7][8] Sebaliknya, kesepian kronis atau jangka panjang umumnya berkorelasi dengan berbagai dampak negatif. Dampak tersebut mencakup peningkatan obesitas, gangguan penggunaan zat, risiko depresi, penyakit kardiovaskular, risiko tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi.[9][10][11][12]

Penanganan medis untuk kesepian mencakup memulai terapi dan mengonsumsi antidepresan. Penanganan sosial untuk kesepian umumnya meliputi peningkatan interaksi dengan orang lain, seperti kegiatan kelompok (misalnya olahraga atau kegiatan keagamaan), menjalin kembali hubungan dengan teman lama atau rekan kerja, memelihara hewan peliharaan, serta menjadi lebih terhubung dengan komunitasnya.[13][14]

Kesepian telah lama menjadi tema dalam kesusastraan, bahkan sejak era Wiracarita Gilgamesh. Meskipun demikian, pembahasan akademis mengenai kesepian masih sangat jarang hingga beberapa dekade terakhir. Pada abad ke-21, sejumlah akademisi dan kalangan profesional menyatakan bahwa kesepian telah menjadi sebuah epidemi,[15] termasuk Vivek Murthy, mantan Kepala Layanan Kesehatan Amerika Serikat.[16]

Eksistensial

[sunting | sunting sumber]
Thomas Wolfe, yang dalam kutipannya yang sering dikutip menyatakan, "Seluruh keyakinan hidup saya kini bertumpu pada kepercayaan bahwa kesepian, alih-alih sebagai fenomena yang langka dan aneh, merupakan kenyataan inti dan tak terelakkan dari keberadaan manusia."[3]

Kesepian telah lama dipandang sebagai suatu kondisi universal yang dirasakan oleh setiap orang, setidaknya dalam tingkatan sedang. Dari sudut pandang ini, tingkat kesepian tertentu tidak dapat dihindari karena keterbatasan hidup manusia membuat siapa pun mustahil untuk terus-menerus memuaskan kebutuhan bawaan mereka akan keterhubungan. Profesor seperti Michele A. Carter dan Ben Lazare Mijuskovic telah menulis buku serta esai yang menelusuri sudut pandang eksistensial ini beserta banyak penulis yang telah membahasnya sepanjang sejarah.[17][18] Esai karya Thomas Wolfe pada dekade 1930-an, God's Lonely Man, sering dibahas dalam konteks ini; Wolfe berargumen bahwa setiap orang membayangkan diri mereka kesepian dengan cara khusus yang unik bagi diri mereka sendiri, padahal sebenarnya setiap orang terkadang mengalami kesepian. Meskipun sepakat bahwa peredaan kesepian merupakan hal yang baik, mereka yang menganut pandangan eksistensial cenderung meragukan apakah upaya semacam itu dapat sepenuhnya berhasil, karena memandang tingkat kesepian tertentu tidak hanya tak terelakkan tetapi bahkan bermanfaat, sebab hal tersebut dapat membantu seseorang lebih menghargai kegembiraan hidup.[3][19]

Budaya dibahas sebagai penyebab kesepian dalam dua pengertian. Kaum migran dapat mengalami kesepian karena merindukan budaya asal mereka.[20] Berbagai studi menemukan bahwa efek ini bisa sangat kuat bagi para mahasiswa dari negara-negara di Asia yang memiliki budaya kolektivis, ketika mereka menempuh pendidikan di universitas-universitas di negara-negara berbahasa Inggris yang lebih individualistis.[21] Budaya juga dipandang sebagai penyebab kesepian dalam arti bahwa Budaya Barat mungkin telah berkontribusi terhadap kesepian sejak Abad Pencerahan mulai lebih mengutamakan individualisme daripada nilai-nilai komunal terdahulu.[19][8][3]

Kurangnya hubungan yang bermakna

[sunting | sunting sumber]

Bagi banyak orang, keluarga asal mereka tidak memberikan hubungan penumbuh rasa percaya yang dibutuhkan untuk membangun landasan yang bertahan seumur hidup, bahkan dalam ingatan setelah kepergian orang yang dicintai. Hal ini dapat disebabkan oleh pola asuh, tradisi, dan masalah kesehatan mental termasuk gangguan kepribadian serta lingkungan keluarga yang sarat kekerasan.[butuh rujukan] Terkadang pengucilan secara keagamaan juga turut terjadi. Hal ini memengaruhi kemampuan individu untuk mengenal diri sendiri, menghargai diri sendiri, dan berhubungan dengan orang lain (atau melakukannya dengan sangat sulit).

Semua faktor ini dan banyak faktor lainnya[butuh rujukan] sering kali luput dari perhatian saran medis atau psikologis standar yang menganjurkan untuk menemui teman atau keluarga dan bersosialisasi. Hal ini tidak selalu memungkinkan ketika tidak ada seorang pun yang dapat diajak berhubungan, serta adanya ketidakmampuan untuk menjalin hubungan tanpa keterampilan dan pengetahuan tentang cara melakukannya. Seiring berjalannya waktu, seseorang mungkin menjadi berkecil hati atau mengembangkan rasa apatis akibat berbagai percobaan, kegagalan, atau penolakan yang disebabkan oleh kurangnya keterampilan antarpribadi.[butuh rujukan]

Seiring meningkatnya tingkat kesepian setiap tahun di antara orang-orang dari setiap kelompok usia dan terlebih lagi pada kaum lanjut usia,[butuh rujukan] dengan dampak fisik dan psikologis merugikan yang telah diketahui, terdapat kebutuhan untuk menemukan cara-cara baru dalam menghubungkan orang satu sama lain. Mengatasi kesepian menjadi sangat menantang dan dibutuhkan pada saat sebagian besar perhatian manusia terpusat pada perangkat elektronik.[22]

Kehilangan hubungan

[sunting | sunting sumber]

Kesepian adalah konsekuensi yang sangat umum, meskipun sering kali bersifat sementara, dari putus hubungan atau kedukaan akibat kehilangan seseorang. Kehilangan sosok penting dalam kehidupan seseorang biasanya akan memicu respons duka; dalam situasi ini, seseorang mungkin merasa kesepian, bahkan ketika sedang berada di tengah kehadiran orang lain. Kesepian dapat terjadi akibat terganggunya lingkup pergaulan seseorang, yang terkadang disertai dengan rasa rindu rumah (homesickness) saat seseorang berpindah tempat tinggal untuk bekerja atau menempuh pendidikan.[3][8]

Situasional

[sunting | sunting sumber]
"Jadilah baik & Anda akan merasa kesepian," tulis Mark Twain dalam Following the Equator (1897)

Berbagai macam situasi dan peristiwa dapat menyebabkan kesepian, terutama jika dipadukan dengan ciri kepribadian tertentu pada individu yang rentan. Sebagai contoh, seseorang yang ekstrover dan sangat sosial lebih berpeluang merasa kesepian jika ia tinggal di tempat dengan kepadatan penduduk yang rendah, dengan lebih sedikit orang yang dapat diajak berinteraksi. Kesepian bahkan terkadang dapat disebabkan oleh peristiwa yang biasanya diharapkan dapat meredakannya: misalnya kelahiran anak (jika disertai depresi pascamelahirkan yang signifikan) atau setelah menikah (terutama jika pernikahan tersebut ternyata tidak stabil, terlalu mengganggu hubungan-hubungan terdahulu, atau dingin secara emosional). Selain dipengaruhi oleh peristiwa eksternal, kesepian dapat diperparah oleh kondisi kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya seperti depresi kronis dan gangguan kecemasan.[3][8]

Memperkuat diri

[sunting | sunting sumber]

Kesepian jangka panjang dapat menyebabkan berbagai jenis kognisi sosial maladaptif, seperti kewaspadaan berlebih dan kecanggungan sosial, yang dapat mempersulit individu untuk mempertahankan hubungan yang sudah ada atau menjalin hubungan baru. Sebagai contoh, kesepian kronis dapat mendorong seseorang ke dalam mode perlindungan diri, yang membuat mereka memandang dunia menjadi kurang aman, kurang bermakna, dan kurang layak untuk dijelajahi.[23] Berbagai studi menemukan bahwa terapi yang ditujukan untuk mengatasi kognisi maladaptif ini merupakan bentuk intervensi yang paling efektif untuk mengurangi kesepian, meskipun cara ini tidak selalu berhasil bagi semua orang.[5][24][25]

Penularan sosial

[sunting | sunting sumber]

Kesepian dapat menyebar ke seluruh kelompok sosial layaknya suatu penyakit. Jika seseorang kehilangan seorang teman, hal ini dapat meningkatkan kesepian mereka, yang berujung pada berkembangnya kognisi maladaptif seperti rasa bergantung yang berlebihan atau kecurigaan terhadap teman-teman lainnya, yang berpotensi menyebabkan hilangnya hubungan lebih lanjut di antara teman-teman yang tersisa. Teman-teman lainnya tersebut juga bisa menjadi lebih kesepian, sehingga menimbulkan efek riak (ripple effect) dari kesepian. Kendati demikian, berbagai studi menemukan bahwa efek penularan ini tidak konsisten  sedikit peningkatan rasa kesepian tidak selalu memicu kognisi maladaptif. Selain itu, ketika seseorang kehilangan seorang teman, mereka terkadang justru membentuk pertemanan baru atau mempererat hubungan lain yang sudah ada.[26][5][27][28][29]

Berbagai studi cenderung menemukan korelasi sedang antara penggunaan internet secara ekstensif dan kesepian, terutama studi-studi yang mengacu pada data dari dekade 1990-an, sebelum penggunaan internet meluas.[butuh rujukan] Hasil yang bertolak belakang ditemukan oleh penelitian yang menyelidiki apakah keterkaitan tersebut semata-mata merupakan akibat dari orang yang kesepian lebih tertarik pada internet, atau apakah internet memang benar-benar dapat menyebabkan kesepian.[butuh rujukan] Displacement hypothesis (hipotesis pengalihan) menyatakan bahwa sebagian orang memilih untuk menarik diri dari interaksi sosial di dunia nyata agar dapat memiliki lebih banyak waktu untuk menggunakan internet.[butuh rujukan] Penggunaan internet yang berlebihan dapat secara langsung menyebabkan kecemasan dan depresi, yaitu kondisi-kondisi yang dapat berkontribusi terhadap kesepian  meskipun faktor-faktor ini dapat diimbangi oleh kemampuan internet dalam memfasilitasi interaksi dan memberdayakan orang. Sejumlah studi menemukan bahwa penggunaan internet merupakan penyebab kesepian bagi sebagian orang,[4][30] sedangkan studi lain menemukan bahwa penggunaan internet dapat memiliki dampak positif yang signifikan dalam mengurangi kesepian.[31][32] Para penulis metastudi dan ulasan sekitar tahun 2015 dan setelahnya cenderung berpendapat bahwa terdapat hubungan kausal dua arah antara kesepian dan penggunaan internet. Penggunaan dalam taraf sedang, terutama oleh pengguna yang secara aktif berinteraksi dengan orang lain alih-alih mengonsumsi konten secara pasif, dapat meningkatkan keterhubungan sosial dan mengurangi kesepian.[33][34][35]

Studi-studi awal berskala lebih kecil memperkirakan bahwa heritabilitas kesepian berada pada kisaran 37–55%.[36] Namun, pada tahun 2016, studi asosiasi genomik luas pertama tentang kesepian menemukan bahwa heritabilitas kesepian jauh lebih rendah, yaitu sekitar 14–27%.[2] Hal ini menunjukkan bahwa meskipun gen berperan dalam menentukan seberapa besar kesepian yang mungkin dirasakan seseorang, faktor genetik tersebut berpengaruh lebih kecil dibandingkan dengan pengalaman individu dan faktor lingkungan.

Dua jenis utama kesepian adalah kesepian sosial dan kesepian emosional. Pembedaan ini dikemukakan pada tahun 1973 oleh Robert S. Weiss dalam karya pentingnya: Loneliness: The Experience of Emotional and Social Isolation.[37] Berdasarkan pandangan Weiss bahwa "kedua jenis kesepian harus diteliti secara terpisah, karena pemenuhan kebutuhan akan kesepian emosional tidak dapat menjadi pengimbang bagi kesepian sosial, dan begitu pula sebaliknya", para peneliti dan praktisi yang berupaya menangani atau lebih memahami kesepian cenderung memperlakukan kedua jenis kesepian ini secara terpisah, meskipun hal tersebut tidak selalu demikian.[38][21]

Kesepian emosional

[sunting | sunting sumber]

Kesepian emosional timbul akibat kurangnya hubungan yang mendalam dan saling membina dengan orang lain. Weiss mengaitkan konsep kesepian emosionalnya dengan teori kelekatan. Manusia memiliki kebutuhan akan kelekatan yang mendalam, yang dapat dipenuhi oleh sahabat dekat, meskipun lebih sering dipenuhi oleh anggota keluarga dekat seperti orang tua, dan pada tahap kehidupan selanjutnya oleh pasangan romantis. Pada tahun 1997, Enrico DiTommaso dan Barry Spinner membagi kesepian emosional menjadi kesepian romantis dan kesepian keluarga.[21][39] Sebuah studi tahun 2019 menemukan bahwa kesepian emosional secara signifikan meningkatkan kemungkinan kematian bagi orang lanjut usia yang tinggal sendiri (sedangkan tidak ada peningkatan mortalitas yang ditemukan pada kesepian sosial).[39]

Kesepian keluarga

[sunting | sunting sumber]

Kesepian keluarga terjadi ketika individu merasa kurang memiliki ikatan dekat dengan anggota keluarga. Sebuah studi tahun 2010 terhadap 1.009 mahasiswa menemukan bahwa hanya kesepian keluarga yang berhubungan dengan peningkatan frekuensi tindakan melukai diri sendiri, bukan kesepian romantis ataupun kesepian sosial.[40][21]

Kesepian romantis

[sunting | sunting sumber]
Lukisan tahun 1942 Nighthawks karya Edward Hopper, yang menggambarkan seorang pria mengamati pasangan yang sedang bersantap

Kesepian romantis dapat dialami oleh remaja dan orang dewasa yang tidak memiliki ikatan dekat dengan pasangan romantis. Para psikolog menegaskan bahwa pembentukan hubungan romantis yang berkomitmen merupakan tugas perkembangan yang penting bagi orang dewasa muda, tetapi hal tersebut juga banyak ditunda hingga akhir usia 20-an atau setelahnya. Orang-orang yang berada dalam hubungan romantis cenderung melaporkan tingkat kesepian yang lebih rendah dibandingkan orang yang melajang, asalkan hubungan mereka memberikan keintiman emosional. Orang yang berada dalam hubungan pasangan romantis yang tidak stabil atau dingin secara emosional tetap dapat merasakan kesepian romantis.[41][21]

Terdapat beberapa tipologi dan jenis kesepian lainnya. Jenis kesepian lebih lanjut mencakup kesepian eksistensial, kesepian kosmik  merasa sendirian di alam semesta yang tidak bersahabat, serta kesepian budaya  yang umumnya dijumpai di kalangan imigran yang merindukan budaya asal mereka.[19] Jenis-jenis ini memang belum banyak diteliti dibandingkan pembagian tiga arah menjadi kesepian sosial, romantis, dan keluarga, tetapi tetap bernilai dalam memahami pengalaman kesepian pada subkelompok tertentu.[17][21]

Lockdown loneliness (kesepian masa karantina wilayah) mengacu pada "kesepian yang timbul akibat terputusnya hubungan sosial karena pembatasan jarak fisik yang diberlakukan dan karantina wilayah selama pandemi COVID-19 serta situasi darurat serupa."[42]

Perbedaan

[sunting | sunting sumber]

Perbedaan antara merasa kesepian dan terisolasi secara sosial

[sunting | sunting sumber]

Terdapat perbedaan yang jelas antara merasa kesepian dan terisolasi secara sosial (misalnya, seorang penyendiri).[43] Secara khusus, salah satu cara memandang kesepian adalah sebagai kesenjangan antara tingkat interaksi sosial yang dibutuhkan dan yang berhasil dicapai seseorang,[44] sedangkan kesendirian hanyalah ketiadaan kontak dengan orang lain. Oleh karena itu, kesepian merupakan pengalaman subjektif yang bersifat multidimensi; jika seseorang menganggap dirinya kesepian, maka ia memang kesepian. Seseorang dapat merasa kesepian saat berada dalam kesendirian ataupun di tengah keramaian; hal yang membuat seseorang merasa kesepian adalah kebutuhan yang mereka rasakan akan interaksi sosial yang lebih banyak, atau adanya jenis dan kualitas interaksi sosial tertentu yang saat ini tidak tersedia. Seseorang bisa saja berada di tengah-tengah sebuah pesta dan tetap merasa kesepian karena tidak cukup banyak berinteraksi dengan orang lain. Sebaliknya, seseorang dapat menyendiri tanpa merasa kesepian; meskipun tidak ada orang di sekitarnya, orang tersebut tidak merasa kesepian karena memang tidak ada keinginan untuk melakukan interaksi sosial. Terdapat pula pandangan bahwa setiap orang memiliki tingkat interaksi sosial optimalnya masing-masing. Jika seseorang mendapatkan terlalu sedikit atau terlalu banyak interaksi sosial, hal ini dapat memicu timbulnya perasaan kesepian atau stimulasi berlebih.[45]

Kesendirian dapat memberikan dampak positif bagi individu. Sebuah studi menemukan bahwa, meskipun waktu yang dihabiskan sendiri cenderung menurunkan suasana hati seseorang dan meningkatkan perasaan kesepian, hal tersebut juga membantu memperbaiki kondisi kognitif mereka, seperti meningkatkan konsentrasi. Sebagian individu bahkan sengaja mencari kesendirian demi menemukan keberadaan hidup yang lebih bermakna dan esensial.[46] Selain itu, setelah waktu kesendirian tersebut usai, suasana hati seseorang cenderung membaik secara signifikan.[47] Kesendirian juga dikaitkan dengan pengalaman pertumbuhan positif lainnya, pengalaman spiritual/keagamaan, serta pembentukan identitas, seperti pengembaraan seorang diri yang dilakukan dalam ritus peralihan bagi para remaja.[48]

Kesepian sementara vs. kronis

[sunting | sunting sumber]

Tipologi penting lainnya mengenai kesepian berfokus pada perspektif waktu.[49] Dalam kaitan ini, kesepian dapat dipandang baik yang bersifat sementara maupun kronis. Kesepian sementara bersifat temporer; umumnya kondisi ini mudah diredakan. Kesepian kronis bersifat lebih permanen dan tidak mudah diredakan.[50] Sebagai contoh, ketika seseorang sedang sakit dan tidak dapat bersosialisasi dengan teman-temannya, situasi ini merupakan contoh dari kesepian sementara, karena mereka akan dapat dengan mudah meredakan kesepian tersebut setelah sembuh. Seseorang dengan perasaan kesepian jangka panjang, terlepas dari apakah mereka sedang bersama teman atau menghadiri pertemuan keluarga, sedang mengalami kesepian kronis.

Kesepian sebagai kondisi manusia

[sunting | sunting sumber]

Aliran pemikiran eksistensialisme memandang individualitas sebagai esensi dari manusia. Setiap manusia terlahir ke dunia seorang diri, menjalani hidup sebagai pribadi yang terpisah, dan pada akhirnya meninggal dunia seorang diri pula. Menghadapi hal ini, menerimanya, serta belajar mengarahkan hidup kita dengan ketenangan budi dan kepuasan merupakan inti dari kondisi manusia.[51]

Beberapa filsuf, seperti Sartre, meyakini adanya kesepian epistemik ketika kesepian menjadi bagian mendasar dari kondisi manusia akibat adanya paradoks antara kesadaran manusia yang mendambakan makna dalam hidup dan keterisolasian serta kehampaan alam semesta.[52] Sebaliknya, pemikir eksistensialis lainnya berpendapat bahwa manusia dapat dikatakan secara aktif saling berinteraksi satu sama lain dan dengan alam semesta saat mereka berkomunikasi dan berkreasi, dan kesepian hanyalah perasaan terputus dari proses tersebut.

Dalam karyanya tahun 2019, Evidence of Being: The Black Gay Cultural Renaissance and the Politics of Violence, Darius Bost mengacu pada teorisasi kesepian dari Heather Love[53] untuk menguraikan cara-cara kesepian menyusun perasaan kaum gay kulit hitam serta produksi sastra dan budayanya. Bost menulis, "Sebagai bentuk afek negatif, kesepian memperkuat keterasingan, isolasi, dan patologisasi pria gay kulit hitam selama dekade 1980-an dan awal 1990-an. Namun, kesepian juga merupakan bentuk hasrat badaniah, suatu kerinduan akan keterikatan dengan tatanan sosial dan masa depan di luar kekuatan-kekuatan yang menciptakan keterasingan dan isolasi seseorang."[54]

Prevalensi

[sunting | sunting sumber]
Kesepian global berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin, berdasarkan data 2014–2023 dari laporan kesepian Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2025.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan bahwa sekitar satu dari enam orang populasi dunia mengalami kesepian jangka panjang yang signifikan. Berbeda dengan penelitian abad ke-20 yang cenderung memandang kesepian sebagai masalah yang memengaruhi kaum lanjut usia, penelitian-penelitian setelahnya menemukan bahwa kaum remaja merupakan kelompok usia yang mengalami tingkat kesepian tertinggi; tingkat ini kemudian cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Sebaliknya, isolasi sosial cenderung meningkat saat orang memasuki usia paruh baya dan lanjut usia, tetapi meskipun terdapat banyak pengecualian, orang lanjut usia biasanya memiliki kebutuhan yang lebih sedikit akan hubungan sosial sehingga cenderung merasa kurang kesepian. Laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh kesepian dalam tingkat yang hampir sama; tetapi jika dirinci berdasarkan usia, perempuan lebih terdampak secara negatif, baik pada masa remaja maupun pada usia lanjut, sedangkan pada orang dewasa muda dan paruh baya, laki-laki mengalami kesepian sedikit lebih banyak. Individu LGBTIQ+ dan kelompok minoritas lainnya rata-rata mengalami lebih banyak kesepian dibandingkan kelompok mayoritas. Secara umum, negara-negara yang lebih miskin dan individu yang lebih miskin cenderung mengalami lebih banyak kesepian daripada negara-negara dan orang-orang yang lebih kaya.[6]:30,193

Peningkatan prevalensi

[sunting | sunting sumber]

Pada abad ke-21, kesepian telah dilaporkan secara luas sebagai masalah dunia yang kian meningkat. Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis tahun 2010 menyatakan bahwa "cara hidup modern di negara-negara industri" sangat menurunkan kualitas hubungan sosial, sebagian karena orang tidak lagi tinggal berdekatan dengan keluarga besar mereka. Tinjauan tersebut mencatat bahwa dari tahun 1990 hingga 2010, jumlah warga Amerika Serikat yang melaporkan tidak memiliki teman dekat tepercaya telah meningkat tiga kali lipat.[55]

Profesor seperti Claude S. Fischer dan Eric Klinenberg berpendapat pada tahun 2018 bahwa meskipun data yang ada tidak mendukung penggambaran kesepian sebagai sebuah "epidemi" atau bahkan sebagai masalah yang jelas-jelas meningkat, kesepian memang merupakan masalah serius yang berdampak buruk terhadap kesehatan jutaan orang.[56][57][58][59] Namun, sebuah studi tahun 2021 menemukan bahwa kesepian remaja di sekolah-sekolah kontemporer serta depresi meningkat secara substansial dan konsisten di seluruh dunia setelah tahun 2012.[15][60]

Tinjauan komparatif mengenai prevalensi dan faktor penentu kesepian serta isolasi sosial di Eropa pada periode pra-COVID dilakukan oleh Pusat Penelitian Bersama (Joint Research Centre) Komisi Eropa dalam proyek Kesepian di Eropa (Loneliness in Europe).[61] Hasil empiris menunjukkan bahwa 8,6% populasi dewasa di Eropa sering mengalami kesepian dan 20,8% mengalami isolasi sosial, dengan kawasan Eropa timur mencatat prevalensi tertinggi untuk kedua fenomena tersebut.[62]

Di Australia, survei tahunan nasional Household, Income and Labour Dynamics in Australia (HILDA) melaporkan kenaikan stabil sebesar 8% pada tingkat persetujuan terhadap pernyataan "Saya sering merasa sangat kesepian" antara tahun 2009 dan 2021, sedangkan respons yang menyatakan "sangat setuju" meningkat secara stabil lebih dari 20% pada periode waktu yang sama. Hal ini merupakan pembalikan dari tren yang terlihat sejak awal survei pada tahun 2001 hingga 2009 ketika kedua angka tersebut sebelumnya terus mengalami penurunan.[63]

Kesepian diperparah oleh efek keterisolasian akibat pembatasan fisik, perintah untuk tinggal di rumah, dan kematian selama pandemi COVID-19.[64][65]

Pada bulan Mei 2023, Murthy menerbitkan anjuran resmi dari Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat mengenai dampak epidemi kesepian dan isolasi di Amerika Serikat.[65] Laporan tersebut menyamakan bahaya kesepian dengan ancaman kesehatan masyarakat lainnya seperti merokok dan obesitas.[66][67] Pada bulan November 2023, Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan kesepian sebagai "masalah kesehatan masyarakat global" (global public health concern) dan meluncurkan sebuah komisi internasional untuk meneliti masalah tersebut. Diterbitkan pada tahun 2025, meskipun menyerukan tindakan mendesak untuk mengatasi masalah kesepian, laporan tersebut menyimpulkan bahwa bukti yang ada belum cukup untuk memastikan apakah kesepian memang benar-benar meningkat seiring berjalannya waktu.[6]:56 [68][69]

Sementara

[sunting | sunting sumber]

Meskipun tidak menyenangkan, perasaan kesepian sementara terkadang dialami oleh hampir semua orang dan dianggap tidak menimbulkan bahaya jangka panjang. Karya-karya awal abad ke-20 terkadang memperlakukan kesepian sebagai fenomena yang sepenuhnya negatif, tetapi kesepian sementara saat ini umumnya dianggap bermanfaat. Kemampuan untuk merasakannya mungkin merupakan hasil seleksi evolusioner, suatu emosi aversif yang sehat yang memotivasi individu untuk memperkuat hubungan sosial.[7] Kesepian sementara terkadang disamakan dengan rasa lapar jangka pendek, yang tidak menyenangkan tetapi pada akhirnya berguna karena memotivasi kita untuk makan.[24][21][70]

Kesepian jangka panjang secara luas dianggap sebagai kondisi yang hampir sepenuhnya merugikan. Jika kesepian sementara biasanya meningkatkan motivasi untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain, kesepian kronis dapat memberikan dampak yang sebaliknya. Hal ini dikarenakan isolasi sosial jangka panjang dapat menyebabkan kewaspadaan berlebih. Meskipun kewaspadaan yang meningkat mungkin adaptif secara evolusioner bagi individu yang menjalani masa-masa panjang tanpa adanya orang lain yang melindungi mereka, hal tersebut dapat memicu timbulnya sinisme yang berlebihan dan kecurigaan terhadap orang lain, yang pada gilirannya dapat merusak hubungan antarpribadi. Oleh karena itu, tanpa adanya intervensi, kesepian kronis dapat memperkuat dirinya sendiri.[21][70]

Beberapa pihak berpendapat bahwa kesepian jangka panjang yang terjadi tanpa disengaja pun dapat memberikan manfaat.[71][8]

Kesepian kronis sering dipandang sebagai fenomena yang murni negatif dari sudut pandang ilmu sosial dan kedokteran. Namun, dalam tradisi spiritual dan kesenian, kondisi ini dipandang memiliki dampak yang beragam. Meskipun bahkan di dalam tradisi-tradisi tersebut terdapat peringatan untuk tidak secara sengaja mencari kesepian kronis atau kondisi lainnya  hanya saran bahwa jika seseorang terjerumus ke dalamnya, hal tersebut dapat mendatangkan manfaat. Dalam kesenian Barat, terdapat keyakinan lama bahwa penderitaan psikologis, termasuk kesepian, dapat menjadi sumber kreativitas.[8] Dalam tradisi spiritual, manfaat kesepian yang mungkin paling nyata adalah kemampuannya meningkatkan hasrat untuk menyatu dengan Yang Ilahi. Secara lebih esoteris, luka batin yang terbuka akibat kesepian atau kondisi lain telah dikatakan, misalnya oleh Simone Weil, membuka ruang bagi Tuhan untuk hadir di dalam jiwa. Dalam Kekristenan, kekeringan spiritual dipandang menguntungkan sebagai bagian dari "dark night of the soul" (malam gelap jiwa), yaitu suatu cobaan yang meskipun menyakitkan, dapat menghasilkan transformasi spiritual.[72][8] Dari perspektif sekuler, meskipun sebagian besar studi empiris berfokus pada efek negatif kesepian jangka panjang, beberapa penelitian menemukan bahwa kesepian juga dapat memberikan manfaat, seperti peningkatan kepekaan terhadap situasi sosial.[8][73]

Studi-studi menemukan bahwa sebagian besar efek dari kesepian kronis berdampak negatif pada fungsi dan struktur otak.[26] Namun, bagian-bagian otak tertentu dan fungsi-fungsi spesifik, seperti kemampuan mendeteksi ancaman sosial, tampaknya mengalami penguatan. Sebuah studi genetik populasi tahun 2020 mencari jejak kesepian pada morfologi materi abu-abu, keterikatan fungsional intrinsik, dan mikrostruktur traktus serabut saraf. Profil neurobiologis yang terkait dengan kesepian berpusat pada sekumpulan wilayah otak yang dikenal sebagai default mode network [en]. Jaringan asosiatif tingkat tinggi ini menunjukkan hubungan kesepian yang lebih konsisten pada volume materi abu-abu dibandingkan jaringan kortikal otak lainnya. Individu yang kesepian memperlihatkan komunikasi fungsional yang lebih kuat dalam jaringan bawaan ini, serta integritas mikrostruktural yang lebih besar pada jalur forniksnya. Temuan-temuan ini selaras dengan kemungkinan bahwa regulasi naik (up-regulation) dari sirkuit saraf tersebut mendukung proses mentalisasi, pengenangan masa lalu, dan imajinasi untuk mengisi kekosongan sosial.[74]

Kesehatan fisik

[sunting | sunting sumber]

Kesepian kronis dapat menjadi kondisi kesehatan serius yang mengancam jiwa. Kondisi ini ditemukan berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, meskipun hubungan sebab-akibat langsungnya belum teridentifikasi secara pasti.[9][75] Orang yang mengalami kesepian cenderung memiliki insidensi tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan obesitas yang lebih tinggi.[10] Kesepian terbukti meningkatkan konsentrasi kadar kortisol di dalam tubuh dan melemahkan efek dopamin.[10] Kadar kortisol yang tinggi dan berkepanjangan dapat memicu timbulnya kecemasan, depresi, masalah pencernaan, penyakit jantung, gangguan tidur, dan kenaikan berat badan.[76]

Berbagai studi korelasional mengenai kesepian dan sistem imun menemukan hasil yang beragam, seperti aktivitas sel pembunuh alami (NK) yang lebih rendah atau respons antibodi yang teredam terhadap virus seperti Epstein-Barr, herpes, dan influenza, tetapi menunjukkan perkembangan AIDS yang lebih lambat atau tanpa adanya perubahan.[10] Berdasarkan English Longitudinal Study of Ageing (ELSA), sebuah studi menemukan bahwa kesepian meningkatkan risiko demensia sebesar sepertiga. Tidak memiliki pasangan (melajang, bercerai, atau menjadi janda/duda) menggandakan risiko demensia. Namun, memiliki dua atau tiga hubungan yang lebih dekat menurunkan risiko tersebut hingga tiga per lima.[77][78] Selain itu, berdasarkan kohort besar UK Biobank, sebuah studi menemukan bahwa individu yang melaporkan merasa kesepian memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit Parkinson.[79]

Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis tahun 2010 menemukan adanya hubungan yang signifikan antara kesepian dan peningkatan mortalitas. Orang-orang dengan hubungan sosial yang baik ditemukan memiliki peluang kelangsungan hidup 50% lebih besar dibandingkan orang yang kesepian (rasio odds = 1,5). Dengan kata lain, kesepian kronis tampaknya menjadi faktor risiko kematian yang sebanding dengan merokok, dan lebih besar daripada obesitas ataupun kurangnya aktivitas fisik.[55] Tinjauan umum tahun 2017 terhadap berbagai tinjauan sistematis menemukan metastudi lain dengan temuan serupa. Namun, hubungan sebab-akibat yang jelas antara kesepian dan kematian dini belum dapat dipastikan secara pasti.[9]

Kesehatan mental

[sunting | sunting sumber]

Kesepian telah dikaitkan dengan depresi, dan dengan demikian menjadi faktor risiko untuk bunuh diri.[80] Sebuah studi berdasarkan lebih dari 4.000 orang dewasa berusia di atas 50 tahun di ELSA menemukan bahwa hampir satu dari lima orang yang melaporkan merasa kesepian telah menunjukkan tanda-tanda depresi dalam kurun waktu satu tahun.[11][12] Émile Durkheim menggambarkan kesepian, khususnya ketidakmampuan atau keengganan untuk hidup demi orang lain, yaitu untuk persahabatan atau gagasan altruistik, sebagai alasan utama dari apa yang ia sebut sebagai egoistic suicide (bunuh diri egoistis).[81][82] Pada orang dewasa, kesepian merupakan faktor pemicu utama timbulnya depresi dan alkoholisme.[83] Orang-orang yang terisolasi secara sosial mungkin melaporkan kualitas tidur yang buruk, sehingga mengalami penurunan proses pemulihan tubuh.[84] Kesepian juga telah dikaitkan dengan tipe karakter skizoid ketika seseorang dapat memandang dunia secara berbeda dan mengalami keterasingan sosial, yang digambarkan sebagai the self in exile (diri dalam pengasingan).[85] Kesepian pun telah dikaitkan dengan gangguan makan.[86]

Meskipun efek jangka panjang dari periode kesepian yang berkepanjangan masih kurang dipahami, telah tercatat bahwa orang yang terisolasi atau mengalami kesepian dalam jangka waktu yang lama terjerumus ke dalam "krisis ontologis" atau "ketidakamanan ontologis", saat mereka tidak yakin apakah diri mereka atau lingkungan sekitarnya benar-benar ada, dan jika memang ada, siapa atau apa sebenarnya diri mereka, sehingga menimbulkan siksaan, penderitaan, dan keputusasaan yang begitu nyata di dalam pikiran orang tersebut.[87][88]

Pada anak-anak, kurangnya hubungan sosial berkaitan langsung dengan beberapa bentuk perilaku antisosial dan merusak diri sendiri, terutama perilaku penuh permusuhan dan kenakalan. Baik pada anak-anak maupun orang dewasa, kesepian sering kali berdampak negatif pada proses belajar dan daya ingat. Gangguan yang ditimbulkannya pada pola tidur dapat berdampak signifikan pada kemampuan untuk beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari.[80]

Penelitian dari sebuah studi berskala besar yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Medicine menunjukkan bahwa "generasi milenial yang kesepian lebih berpeluang mengalami masalah kesehatan mental, menjadi pengangguran, dan merasa pesimistis tentang kemampuan mereka untuk sukses dalam hidup dibandingkan rekan-rekan sebaya mereka yang merasa terhubung dengan orang lain, terlepas dari jenis kelamin atau tingkat kekayaan".[89][90]

Pada tahun 2004, Departemen Kehakiman Amerika Serikat menerbitkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa kesepian meningkatkan angka bunuh diri secara signifikan di kalangan anak dan remaja, dengan 62% dari seluruh kasus bunuh diri yang terjadi di dalam fasilitas tahanan anak terjadi pada mereka yang, baik pada saat bunuh diri sedang berada di dalam sel isolasi maupun memiliki riwayat pernah ditempatkan di sana.[87]

Rasa sakit, depresi, dan kelelahan berfungsi sebagai satu kelompok gejala (symptom cluster) sehingga mungkin memiliki faktor risiko yang sama. Dua studi longitudinal dengan populasi yang berbeda menunjukkan bahwa kesepian merupakan faktor risiko bagi perkembangan kelompok gejala tersebut seiring berjalannya waktu.[91]

Psikiater George Vaillant dan direktur penelitian longitudinal Studi Perkembangan Dewasa di Universitas Harvard, Robert J. Waldinger, menemukan bahwa mereka yang paling bahagia dan lebih sehat melaporkan memiliki hubungan antarpribadi yang kuat.[92]

Bunuh diri

[sunting | sunting sumber]

Kesepian dapat menyebabkan pikiran untuk bunuh diri, percobaan bunuh diri, dan tindakan bunuh diri. Meskipun demikian, sejauh mana kasus bunuh diri disebabkan oleh kesepian sulit untuk dipastikan karena biasanya terdapat beberapa penyebab potensial yang turut berperan.[9][3] Dalam sebuah artikel yang ditulis untuk American Foundation for Suicide Prevention, Dr. Jeremy Nobel menulis, "Anda tidak perlu menjadi seorang dokter untuk mengenali hubungan antara kesepian dan bunuh diri."[93] Seiring meningkatnya perasaan kesepian, pikiran untuk bunuh diri dan percobaan bunuh diri juga turut meningkat.[94]

The Samaritans, sebuah badan amal nirlaba di Inggris yang mendampingi orang-orang yang sedang mengalami krisis, menyatakan bahwa terdapat korelasi pasti antara perasaan kesepian dan bunuh diri pada anak-anak serta usia dewasa muda.[94] Office for National Statistics Inggris menemukan bahwa salah satu dari sepuluh alasan utama mengapa kaum muda memiliki ide bunuh diri dan mencoba bunuh diri adalah karena mereka merasa kesepian.[95] Mahasiswa yang kesepian, jauh dari rumah, tinggal di lingkungan baru yang belum dikenal, atau jauh dari teman merasa terisolasi dan, tanpa keterampilan koping yang memadai, akan beralih ke bunuh diri sebagai cara untuk mengatasi rasa sakit akibat kesepian.[95] Pola umum di kalangan anak-anak dan dewasa muda yang berhadapan dengan perasaan kesepian adalah mereka tidak mengetahui bahwa bantuan itu ada atau ke mana harus mencari pertolongan. Kesepian, bagi mereka, merupakan sumber rasa malu.[95]

Di beberapa negara, warga lanjut usia tampaknya menyumbang proporsi bunuh diri yang tinggi, meskipun di negara lain angkanya jauh lebih tinggi pada pria paruh baya. Masa pensiun, kesehatan yang buruk, kehilangan pasangan hidup atau anggota keluarga lain maupun teman merupakan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap timbulnya kesepian. Bunuh diri yang disebabkan oleh kesepian pada orang lanjut usia bisa sulit untuk diidentifikasi. Sering kali mereka tidak memiliki siapa pun untuk menceritakan perasaan kesepian dan keputusasaan yang dibawanya. Mereka mungkin berhenti makan, mengubah dosis obat, atau memilih untuk tidak mengobati penyakit sebagai cara untuk mempercepat kematian agar tidak perlu lagi menghadapi perasaan kesepian.[9][3]

Pengaruh budaya juga dapat menyebabkan kesepian yang berujung pada pikiran atau tindakan bunuh diri. Sebagai contoh, budaya Hispania dan Jepang menghargai interdependensi (saling ketergantungan). Ketika seseorang dari salah satu budaya ini merasa terasing atau merasa tidak dapat mempertahankan hubungan dalam keluarga atau masyarakat, mereka mulai memunculkan perilaku negatif, termasuk pikiran negatif atau bertindak secara merusak diri sendiri. Budaya-budaya lain, seperti di Eropa, lebih bersifat independen.

Tingkat masyarakat

[sunting | sunting sumber]

Tingginya tingkat kesepian kronis juga dapat menimbulkan dampak di seluruh lapisan masyarakat. Ekonom Noreena Hertz menulis bahwa Hannah Arendt adalah orang pertama yang membahas hubungan antara kesepian dan politik intoleransi. Dalam bukunya, The Origins of Totalitarianism, Arendt berpendapat bahwa kesepian merupakan prasyarat penting bagi gerakan totalitarian untuk meraih kekuasaan. Hertz menyatakan bahwa keterkaitan antara kesepian seseorang dan kecenderungan mereka untuk memilih partai politik atau kandidat populis sejak saat itu telah didukung oleh beberapa studi empiris. Selain meningkatkan dukungan terhadap kebijakan populis, Hertz berpendapat bahwa masyarakat dengan tingkat kesepian yang tinggi berisiko mengikis kemampuannya untuk menjalankan politik yang saling menguntungkan secara efektif. Beberapa cara individu meredakan kesepian, seperti penggunaan substitusi pertemanan manusia yang bersifat teknologi atau transaksional, dapat mengurangi keterampilan politik dan sosial masyarakat, seperti kemampuan untuk berkompromi dan melihat sudut pandang orang lain.[96][97][98]

Penelitian yang menyelidiki langsung hubungan antara kesepian dan orientasi pemilih menemukan bahwa individu yang kesepian dapat memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya (golput) alih-alih mendukung partai-partai otoriter.[99][100][101] Studi lain menemukan bahwa kesepian romantis meningkatkan dukungan terhadap otoritarianisme.[102] Ketidakkonsistenan ini mungkin bersumber dari perbedaan dalam definisi dan operasionalisasi konsep kesepian.

Mekanisme fisiologis yang terkait dengan kesehatan yang buruk

[sunting | sunting sumber]

Terdapat sejumlah mekanisme fisiologis potensial yang menghubungkan kesepian dengan dampak kesehatan yang buruk. Pada tahun 2005, hasil dari studi di Amerika Serikat, Framingham Heart Study, menunjukkan bahwa pria yang kesepian mengalami peningkatan kadar interleukin 6 (IL-6), yaitu senyawa kimia darah yang berkaitan dengan penyakit jantung. Sebuah studi tahun 2006 yang dilakukan oleh Center for Cognitive and Social Neuroscience di Universitas Chicago menemukan bahwa kesepian dapat menambah tiga puluh poin pada pengukuran tekanan darah untuk orang dewasa berusia di atas 50 tahun. Temuan lain dari survei yang dipimpin oleh John Cacioppo dari universitas yang sama menunjukkan bahwa para dokter melaporkan memberikan perawatan medis yang lebih baik kepada pasien yang memiliki jaringan keluarga dan pertemanan yang kuat dibandingkan kepada pasien yang seorang diri. Cacioppo menyatakan bahwa kesepian mengganggu proses kognisi dan kemauan, mengubah transkripsi DNA pada sel-sel imun, dan seiring waktu dapat memicu tekanan darah tinggi.[103] Orang yang lebih kesepian juga lebih berpeluang menunjukkan bukti reaktivasi virus[104] dan memiliki respons peradangan yang lebih kuat terhadap stres akut dibandingkan orang yang tidak terlalu kesepian; peradangan sendiri merupakan faktor risiko yang sudah dikenal luas bagi penyakit-penyakit yang berkaitan dengan penuaan.[105]

Ketika seseorang merasa tersisih dari suatu situasi, mereka merasa terkucilkan dan salah satu efek samping yang mungkin timbul adalah penurunan suhu tubuh mereka. Saat orang merasa dikucilkan, pembuluh darah di bagian perifer tubuh dapat menyempit demi mempertahankan suhu tubuh inti. Mekanisme perlindungan klasik ini dikenal sebagai vasokonstriksi.[106]

Pengurangan kesepian dalam diri sendiri dan orang lain telah lama menjadi motif bagi aktivitas manusia dan pengorganisasian sosial. Bagi beberapa pengamat, seperti profesor Ben Lazare Mijuskovic, kesepian telah menjadi satu-satunya motivator terkuat bagi aktivitas manusia setelah kebutuhan fisik yang esensial terpenuhi, sejak awal mula peradaban. Meskipun demikian, relatif sedikit catatan langsung mengenai upaya peredaan kesepian yang eksplisit sebelum abad ke-20. Beberapa pengamat, termasuk profesor Rubin Gotesky, berpendapat bahwa rasa kesendirian jarang dirasakan hingga cara hidup komunal terdahulu mulai terganggu oleh Abad Pencerahan.[17][19][8]

Bermula pada tahun 1900-an, dan khususnya pada abad ke-21, upaya yang secara eksplisit bertujuan untuk meredakan kesepian menjadi jauh lebih umum. Upaya pengurangan kesepian berlangsung di berbagai disiplin ilmu, sering kali dilakukan oleh para pihak yang penanganan kesepiannya bukan merupakan perhatian utama mereka. Sebagai contoh, oleh perusahaan komersial, perencana perkotaan, perancang kawasan perumahan baru, dan pihak administrasi universitas. Di seluruh dunia, banyak departemen, LSM, dan bahkan organisasi payung yang sepenuhnya didedikasikan untuk peredaan kesepian telah didirikan. Misalnya, di Britania Raya terdapat Campaign to End Loneliness. Mengingat kesepian adalah kondisi yang kompleks, tidak ada metode tunggal yang dapat secara konsisten meredakannya bagi setiap individu yang berbeda; berbagai pendekatan yang beragam pun digunakan.[24][58][8]

Pengobatan medis

[sunting | sunting sumber]

Terapi merupakan cara yang umum untuk mengatasi kesepian. Bagi individu yang kesepiannya disebabkan oleh faktor-faktor yang merespons baik terhadap intervensi medis, terapi ini sering kali membuahkan hasil. Terapi jangka pendek, yang merupakan bentuk paling umum bagi pasien yang kesepian atau mengalami depresi, biasanya berlangsung selama kurun waktu sepuluh hingga dua puluh minggu. Selama terapi, penekanan diberikan pada pemahaman penyebab masalah, membalikkan pikiran, perasaan, dan sikap negatif yang diakibatkan oleh masalah tersebut, serta menjajaki cara-cara untuk membantu pasien merasa terhubung. Sejumlah dokter juga menyarankan terapi kelompok sebagai sarana untuk terhubung dengan pasien lain dan membangun sistem pendukung.[107] Dokter juga kerap meresepkan antidepresan kepada pasien sebagai pengobatan tunggal atau bersamaan dengan terapi. Mungkin dibutuhkan beberapa kali percobaan sebelum obat antidepresan yang cocok ditemukan.[108]

Dokter sering kali menjumpai proporsi pasien yang tinggi dengan masalah kesepian; sebuah survei di Britania Raya menemukan bahwa tiga perempat dokter meyakini antara 1–5 pasien mengunjungi mereka setiap harinya terutama karena merasa kesepian. Dana yang memadai tidak selalu tersedia untuk membiayai terapi, yang mendorong berkembangnya "social prescription" (peresepan sosial), yaitu ketika dokter dapat merujuk pasien ke solusi berbasis LSM dan komunitas seperti kegiatan kelompok. Meskipun temuan awal menunjukkan bahwa peresepan sosial memberikan hasil yang baik bagi sebagian orang, bukti awal yang mendukung keefektifannya belum begitu kuat, dengan para pengamat mengingatkan bahwa bagi sebagian orang metode ini bukanlah alternatif yang baik untuk menggantikan terapi medis.[109][3][110][111][34] Hingga 2024, program peresepan sosial formal telah diluncurkan di 17 negara berbeda di seluruh dunia, disertai bukti yang semakin kuat mengenai efektivitasnya ketika peresepan tersebut ditargetkan secara tepat sasaran, seperti membantu orang yang kesepian lebih dekat dengan alam atau berpartisipasi dalam aktivitas kelompok yang mereka gemari.[112] [113]

Berbasis LSM dan komunitas

[sunting | sunting sumber]

Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan masalah kesepian, proyek-proyek berbasis komunitas dengan tujuan eksplisit untuk meredakannya menjadi semakin umum pada paruh kedua abad ke-20, dengan jumlah yang kian banyak bermunculan pada abad ke-21. Telah ada ribuan proyek semacam itu di seluruh Amerika Utara dan Selatan, Eropa, Asia, serta Afrika. Sebagian kampanye dijalankan secara nasional di bawah naungan organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk peredaan kesepian, sementara upaya lainnya berupa proyek lokal yang terkadang dikelola oleh kelompok yang penanganan kesepiannya bukan merupakan tujuan utama mereka. Sebagai contoh, asosiasi perumahan yang bertujuan memastikan kehidupan multigenerasi, dengan interaksi sosial antara generasi muda dan lansia yang didorong, bahkan dalam beberapa kasus diwajibkan secara kontraktual. Proyek-proyek ini bervariasi mulai dari skema pertemanan (befriending schemes) yang memfasilitasi pertemuan dua orang, hingga kegiatan kelompok besar yang kerap memiliki tujuan lain di samping peredaan kesepian: seperti rekreasi, peningkatan kesehatan fisik melalui olahraga, atau partisipasi dalam upaya konservasi.[114][8][34] Sebagai contoh, di Selandia Baru, LSM Age Concern memulai Accredited Visiting Service (Layanan Kunjungan Terakreditasi) yang terbukti menjadi penangkal yang efektif terhadap kesepian dan isolasi ini.[115]

Pemerintah

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2010, François Fillon mengumumkan bahwa upaya memerangi kesepian akan menjadi agenda nasional utama (grande cause nationale) Prancis untuk tahun 2011.[116] Di Britania Raya, Jo Cox Commission on Loneliness mulai mendorong penanganan kesepian agar menjadi prioritas pemerintah sejak tahun 2016.[117] Pada tahun 2018, hal ini membawa Britania Raya menjadi negara pertama di dunia yang menunjuk seorang menteri khusus untuk menangani kesepian, serta memublikasikan strategi resmi pengurangan kesepian.[118] Sejak saat itu, muncul seruan bagi negara-negara lain untuk turut menunjuk menteri kesepian mereka sendiri,[119] misalnya di Swedia dan Jerman.[120] Meskipun demikian, berbagai negara lain telah melakukan upaya penanggulangan kesepian yang dipimpin pemerintah bahkan sebelum tahun 2018. Sebagai contoh, pada tahun 2017 pemerintah Singapura memulai suatu skema untuk menyediakan lahan kebun sewa (allotments) bagi warganya agar mereka dapat bersosialisasi saat berkebun bersama di sana,[121] sementara pemerintah Belanda menyediakan saluran telepon khusus bagi para lansia yang kesepian. Meskipun pemerintah terkadang mengendalikan secara langsung upaya peredaan kesepian, mereka juga dapat bekerja sama dalam kemitraan dengan lembaga pendidikan dan berbagai organisasi.[8] Kebijakan sosial dapat mengurangi kesepian di seluruh kelompok usia dengan cara mengurangi hambatan dalam pembentukan pertemanan baru.[122]

Hewan peliharaan

[sunting | sunting sumber]
Paro, robot anjing laut peliharaan yang diklasifikasikan sebagai perangkat medis oleh regulator Amerika Serikat

Terapi hewan peliharaan, atau terapi berbantuan hewan, dapat digunakan untuk mengatasi kesepian maupun depresi. Kehadiran hewan pendamping, terutama anjing, serta hewan lainnya seperti kucing, kelinci, dan marmot, dapat meredakan perasaan depresi dan kesepian pada sebagian pasien. Selain kebersamaan yang diberikan oleh hewan itu sendiri, ada pula peningkatan peluang untuk bersosialisasi dengan sesama pemilik hewan peliharaan. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), terdapat sejumlah manfaat kesehatan lain yang terkait dengan memelihara hewan, termasuk penurunan tekanan darah serta penurunan kadar kolesterol dan trigliserida.[13][14]

Teknologi

[sunting | sunting sumber]

Perusahaan teknologi telah mengiklankan produk mereka sebagai sarana pembantu untuk mengurangi kesepian setidaknya sejak tahun 1905; terdapat catatan mengenai telepon awal yang diperkenalkan sebagai cara bagi para petani yang terisolasi untuk mengurangi kesepian. Solusi teknologi untuk mengatasi kesepian telah disarankan secara jauh lebih sering sejak berkembangnya internet, dan khususnya sejak kesepian menjadi masalah kesehatan masyarakat yang kian menonjol sekitar tahun 2017. Solusi-solusi telah diajukan oleh perusahaan teknologi terkemuka maupun oleh perusahaan rintisan yang didedikasikan untuk pengurangan kesepian.[3]

Solusi yang mulai tersedia sejak tahun 2017 cenderung terbagi ke dalam empat pendekatan berbeda:

  1. Aplikasi kesadaran penuh (mindfulness) yang bertujuan untuk mengubah sikap individu terhadap kesepian, menekankan kemungkinan manfaatnya, dan berupaya mengalihkannya menuju pengalaman yang lebih menyerupai kesendirian sukarela.
  2. Aplikasi yang memperingatkan pengguna ketika mereka mulai menghabiskan terlalu banyak waktu secara daring, yang didasarkan pada temuan penelitian bahwa penggunaan teknologi digital dalam taraf sedang dapat bermanfaat, tetapi waktu yang berlebihan di dunia maya dapat meningkatkan kesepian.
  3. Aplikasi yang membantu orang terhubung dengan orang lain, termasuk untuk merencanakan pertemuan di dunia nyata.
  4. Teknologi terkait kecerdasan buatan (AI) yang menyediakan pertemanan digital.

Pendamping AI semacam ini dapat berupa entitas virtual konvensional (hanya ada saat aplikasinya dinyalakan), memiliki kehidupan digital independen (programnya dapat berjalan sepanjang waktu di komputasi awan, memungkinkannya berinteraksi dengan pengguna di berbagai platform seperti Instagram & Twitter (sekarang X) dengan cara yang mirip seperti perilaku teman manusia), atau memiliki wujud fisik seperti robot Pepper. Sejak dekade 1960-an, beberapa individu telah menyatakan bahwa mereka lebih memilih berkomunikasi dengan program komputer ELIZA daripada dengan sesama manusia biasa. Aplikasi berbasis AI yang tersedia pada dekade 2020-an jauh lebih canggih, mampu mengingat percakapan sebelumnya, memiliki kemampuan tertentu untuk merasakan kondisi emosional, serta menyesuaikan interaksi mereka dengan tepat. Contoh perusahaan rintisan yang mengembangkan teknologi tersebut adalah Fable studio milik Edward Saatchi. Karena dalam beberapa hal mereka berada di luar batas manusia, tidak terpengaruh oleh motif-motif negatif seperti keserakahan atau rasa iri, serta memiliki daya perhatian yang lebih kuat, mereka mungkin dapat membantu orang menjadi lebih ramah dan lebih lembut kepada sesamanya. Dengan demikian, mereka dapat membantu peredaan kesepian di tingkat seluruh lapisan masyarakat, sekaligus secara langsung pada tingkat individu.[3][123][124]

Efektivitas intervensi teknologi digital

[sunting | sunting sumber]

Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis tahun 2021 mengenai efektivitas intervensi teknologi digital (digital technology interventions atau DTI) dalam mengurangi kesepian pada lansia tidak menemukan bukti yang mendukung bahwa DTI mengurangi kesepian pada orang lanjut usia dengan usia rata-rata 73 hingga 78 tahun (SD 6–11).[125] DTI yang diteliti meliputi aktivitas berbasis internet sosial, yaitu kegiatan sosial melalui situs web sosial, konferensi video, platform komputer yang disesuaikan dengan antarmuka layar sentuh sederhana, sistem pengingat informasi pribadi dan manajemen sosial, grup WhatsApp, serta jaringan video atau suara.[125]

Studi-studi telah menemukan adanya hubungan antara agama dan pengurangan kesepian, terutama di kalangan lansia. Penelitian tersebut terkadang menyertakan catatan khusus, seperti bahwa agama dengan aturan perilaku yang ketat dapat menimbulkan efek pengisolasian. Pada abad ke-21, banyak organisasi keagamaan mulai melakukan upaya yang secara eksplisit berfokus pada pengurangan kesepian. Tokoh-tokoh agama juga berperan dalam meningkatkan kesadaran akan masalah kesepian; misalnya, Paus Fransiskus mengatakan pada tahun 2013 bahwa kesepian pada orang lanjut usia (bersama dengan pengangguran kaum muda) merupakan kejahatan paling serius di zaman sekarang.[126][127][128][114][8]

Nostalgia juga ditemukan memiliki efek pemulihan, yang menangkal kesepian dengan meningkatkan persepsi dukungan sosial.[129] Praktik berbasis media yang serupa seperti Comfort television melibatkan keterlibatan dengan konten yang sudah dikenal untuk memberikan kenyamanan emosional dan meredakan perasaan kesepian. Vivek Murthy menyatakan bahwa obat yang paling umum tersedia untuk mengatasi kesepian adalah hubungan antarmanusia. Murthy berpendapat bahwa masyarakat biasa memiliki peran penting sebagai individu dalam mengurangi kesepian bagi diri mereka sendiri dan orang lain, salah satunya melalui penekanan yang lebih besar pada kebaikan hati dan pemeliharaan hubungan dengan sesama.[3]

Efektivitas

[sunting | sunting sumber]

Profesor Stella Mills berpendapat bahwa, meskipun kesepian sosial relatif mudah diatasi melalui kegiatan kelompok dan langkah-langkah lain yang membantu membangun hubungan antarsesama, intervensi yang efektif terhadap kesepian emosional bisa lebih menantang. Mills menyatakan bahwa intervensi semacam itu lebih berpeluang berhasil bagi individu yang berada pada tahap-tahap awal kesepian, sebelum dampak yang ditimbulkan oleh kesepian kronis tertanam secara mendalam.[114]

Sebuah metastudi tahun 2010 membandingkan efektivitas empat intervensi: meningkatkan keterampilan sosial, memperkuat dukungan sosial, meningkatkan peluang untuk interaksi sosial, dan mengatasi pola pikir yang keliru (seperti kewaspadaan berlebih). Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa semua intervensi efektif dalam mengurangi kesepian, dengan kemungkinan pengecualian pada pelatihan keterampilan sosial. Hasil metaanalisis ini menunjukkan bahwa memperbaiki pola pikir yang keliru memberikan peluang terbaik dalam mengurangi kesepian.[24] Sebuah tinjauan payung (umbrella review) tahun 2019 terhadap berbagai tinjauan sistematis mengenai efektivitas upaya peredaan kesepian yang ditujukan bagi lansia juga menemukan bahwa metode tersebut merupakan cara yang paling efektif.[25]

Sebuah tinjauan umum tahun 2018 terhadap berbagai tinjauan sistematis mengenai efektivitas intervensi kesepian menemukan bahwa, secara umum, hanya ada sedikit bukti kuat bahwa intervensi tersebut efektif. Namun, mereka juga tidak menemukan alasan untuk meyakini bahwa berbagai jenis intervensi tersebut menimbulkan dampak buruk, kecuali peringatan terhadap penggunaan teknologi digital yang berlebihan. Para penulis menyerukan penelitian yang lebih ketat dan sesuai dengan praktik terbaik pada studi-studi masa depan, serta perhatian yang lebih besar terhadap biaya intervensi.[34] Sebuah laporan tahun 2025 dari WHO, meskipun tetap berhati-hati, lebih optimis mengenai prospek intervensi yang efektif, dengan mendedikasikan lima bab terakhirnya untuk membahas cara-cara yang dapat dicapai oleh badan-badan supranasional, pemerintah nasional dan daerah, bersama dengan LSM serta pelaku masyarakat sipil lainnya.[6]:xv–xix,1–3,108–192

Kemunculan historis kesepian sebagai masalah sosial

[sunting | sunting sumber]

Kesepian telah menjadi tema dalam karya sastra sepanjang zaman, bahkan sejak Epos Gilgamesh.[17][19] Namun menurut Fay Bound Alberti, baru sekitar tahun 1800 kata tersebut mulai secara luas merujuk pada kondisi negatif. Dengan beberapa pengecualian,[130] tulisan-tulisan dan definisi kamus awal mengenai kesepian cenderung menyamakannya dengan kesendirian (solitude)—suatu keadaan yang kerap dipandang positif, kecuali jika berlebihan.

Sejak sekitar tahun 1800, kata kesepian mulai memperoleh definisi modernnya sebagai kondisi subjektif yang menyakitkan. Hal ini mungkin disebabkan oleh perubahan ekonomi dan sosial yang muncul dari Abad Pencerahan. Faktor-faktor seperti keterasingan dan peningkatan persaingan antarpribadi, bersama dengan berkurangnya proporsi orang yang menikmati hubungan dekat dan bertahan lama dengan orang lain yang tinggal berdekatan, mungkin terjadi pada desa-desa pastoral yang sedang mengalami modernisasi.[131][8] Meskipun kesadaran akan masalah kesepian semakin meningkat, pengakuan sosial secara luas terhadap masalah tersebut masih terbatas, dan kajian ilmiah masih jarang dilakukan, hingga kuartal terakhir abad ke-20. Salah satu studi paling awal mengenai kesepian diterbitkan oleh Joseph Harold Sheldon pada tahun 1948.[132] Buku tahun 1950 The Lonely Crowd turut mengangkat lebih jauh profil kesepian di kalangan akademisi. Bagi masyarakat umum, kesadaran tersebut ditingkatkan oleh lagu The Beatles tahun 1966, "Eleanor Rigby".[8]

Menurut Eugene Garfield, Robert S. Weiss adalah sosok yang menarik perhatian para ilmuwan terhadap topik kesepian, melalui publikasinya pada tahun 1973 yang berjudul Loneliness: The experience of emotional and social isolation.[133] Sebelum publikasi Weiss, studi mengenai kesepian yang jumlahnya sedikit sebagian besar berfokus pada kalangan lansia. Menyusul karya Weiss, dan khususnya setelah publikasi Skala Kesepian UCLA pada tahun 1978, minat ilmiah terhadap topik ini meluas dan mendalam secara signifikan, dengan puluhan ribu kajian akademis telah dilakukan untuk menyelidiki kesepian hanya pada kalangan pelajar/mahasiswa saja, serta lebih banyak lagi yang berfokus pada subkelompok lain maupun pada seluruh populasi.[134][21][8][73]

Kekhawatiran masyarakat umum terhadap kesepian meningkat dalam beberapa dekade sejak perilisan lagu "Eleanor Rigby"; pada tahun 2018, kampanye antikesepian yang didukung pemerintah telah diluncurkan di berbagai negara termasuk Britania Raya, Denmark, dan Australia.[58] Sebuah laporan tahun 2025 oleh WHO menyerukan tindakan global mendesak lebih lanjut untuk mengatasi kesepian, dengan menegaskan bahwa langkah ini akan mencegah kematian, meningkatkan kesejahteraan, hasil pendidikan serta ekonomi, dan membangun masyarakat yang lebih sehat, lebih berdaya tahan, dan lebih sejahtera.[6]:xv–xix,1–3

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Barreto M, Doyle DM, Qualter P (2024). "Changing the narrative: Loneliness as a social justice issue" [Mengubah narasi: Kesepian sebagai isu keadilan sosial]. Political Psychology (dalam bahasa Inggris). 45 (S1): 157–181. doi:10.1111/pops.12965. ISSN 0162-895X.
  2. 1 2 Gao J, Davis LK, Hart AB, Sanchez-Roige S, Han L, Cacioppo JT, et al. (2016). "Genome-Wide Association Study of Loneliness Demonstrates a Role for Common Variation". Neuropsychopharmacology. 42 (4): 811–821. doi:10.1038/npp.2016.197. PMC 5312064. PMID 27629369.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Murthy V (2020). Together: The Healing Power of Human Connection in a Sometimes Lonely World. Harper Wave. hlm. 103–113, 255–262, 185–281, passim. ISBN 978-0-06-291329-6.
  4. 1 2 Hughes C (1999). The relationship of use of the Internet and loneliness among college students (Tesis PhD). Boston College. OCLC 313894784.[halaman dibutuhkan]
  5. 1 2 3 Adams T (28 Februari 2016). "John Cacioppo: 'Loneliness is like an iceberg – it goes deeper than we can see'". The Guardian. Diakses tanggal 24 Mei 2020.
  6. 1 2 3 4 5 Officer A, Surkalim DL, Mikton C, Wood S (2025). From loneliness to social connection - charting a path to healthier societies: report of the WHO Commission on Social Connection [Dari kesepian menuju koneksi sosial – merintis jalan bagi masyarakat yang lebih sehat: laporan Komisi WHO tentang Koneksi Sosial.] (PDF). WHO commission on Social Connection (Laporan). Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia. Diakses tanggal 2026-07-19.
  7. 1 2 Terkadang disebut sebagai "reaffiliation motive" (motif penjalinan kembali hubungan), lih. Loneliness across the life span
  8. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Bound Alberti F (2019). A Biography of Loneliness: The History of an Emotion. Oxford University Press. hlm. 1–40, 61–83. ISBN 978-0-19-881134-3.
  9. 1 2 3 4 5 Leigh-Hunta N, Bagguleyb D, Bashb K, Turnerb V, Turnbullb S, Valtortac N, et al. (2017). "An overview of systematic reviews on the public health consequences of social isolation and loneliness". PLOS ONE.
  10. 1 2 3 4 Cacioppo J, Hawkley L (2010). "Loneliness Matters: A Theorectical and Empirical Review of Consequences and Mechanisms". Annals of Behavioral Medicine. 40 (2): 218–227. doi:10.1007/s12160-010-9210-8. PMC 3874845. PMID 20652462.
  11. 1 2 "Loneliness is strongly linked to depression in older adults in a large, long-term study". NIHR Evidence (Plain English summary) (dalam bahasa Inggris). 2021-06-29. doi:10.3310/alert_46882. S2CID 242980660.
  12. 1 2 Lee SL, Pearce E, Ajnakina O, Johnson S, Lewis G, Mann F, et al. (9 November 2020). "The association between loneliness and depressive symptoms among adults aged 50 years and older: a 12-year population-based cohort study". The Lancet Psychiatry (dalam bahasa Inggris). 8 (1): 48–57. doi:10.1016/S2215-0366(20)30383-7. PMC 8009277. PMID 33181096.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. 1 2 "Health Benefits of Pets". Centers for Disease Control and Prevention. Diarsipkan dari asli tanggal 15 Maret 2017. Diakses tanggal 14 November 2007.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. 1 2 Robinson A (17 Mei 2020). "'Dogs have a magic effect': how pets can improve our mental health". The Guardian. Diakses tanggal 18 Mei 2020.
  15. 1 2 Bahrampour T (20 Juli 2021). "Teens around the world are lonelier than a decade ago. The reason may be smartphones". Washington Post. Diakses tanggal 14 Agustus 2021.
  16. Rao A (2023-05-02). "US surgeon general warns of next public health priority: loneliness" [Kepala Layanan Kesehatan AS memperingatkan tentang prioritas kesehatan masyarakat berikutnya: kesepian.]. The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2023-05-02.
  17. 1 2 3 4 Mijuskovic BL (2012). Loneliness in Philosophy, Psychology, and Literature. iUniverse. hlm. 60–69. ISBN 978-1-4697-8934-7.
  18. Carter MA (2003). "Abiding Loneliness: An Existential Perspective on Loneliness" [Kesepian yang Menetap: Perspektif Eksistensial tentang Kesepian]. Park Ridge Center for Health, Faith, and Ethics. Philosophical Society.com. Diakses tanggal 18 Mei 2020.
  19. 1 2 3 4 5 McGraw JG (2010). Intimacy and Isolation. Rodopi. hlm. 107–149, 417–420. ISBN 978-90-420-3139-5.
  20. Ten Kate RL, Bilecen B, Steverink N (2020). "A closer look at loneliness: why do first-generation migrants feel more lonely than their native Dutch counterparts?" [Menelaah lebih dekat soal kesepian: mengapa migran generasi pertama merasa lebih kesepian dibandingkan penduduk asli Belanda?]. The Gerontologist. 60 (2): 291–301. doi:10.1093/geront/gnz192. PMC 7039375. PMID 31944240.
  21. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sha'ked A, Rokach A, ed. (2015). "3, 4, 9, 12, 16". Addressing Loneliness: Coping, Prevention and Clinical Interventions. Psychology Press. ISBN 978-1-138-02621-6.
  22. Cotten SR, Anderson WA, McCullough BM (2013-02-28). "Impact of Internet Use on Loneliness and Contact with Others Among Older Adults: Cross-Sectional Analysis". Journal of Medical Internet Research (dalam bahasa Inggris). 15 (2) e2306. doi:10.2196/jmir.2306. PMC 3636305. PMID 23448864.
  23. Emamzadeh A (17 Februari 2026). "Why the Way You See the World Can Make You Lonely". Psychology Today. Diakses tanggal 17 Mei 2026.
  24. 1 2 3 4 Masi CM, Chen HY, Hawkley LC, Cacioppo JT (2010). "A Meta-Analysis of Interventions to Reduce Loneliness". Personality and Social Psychology Review. 15 (3): 219–266. doi:10.1177/1088868310377394. PMC 3865701. PMID 20716644.
  25. 1 2 Jarvisa MA, Padmanabhanunnib A, Balakrishnac Y, Chippsd J (2020). "The effectiveness of interventions addressing loneliness in older persons: An umbrella review". International Journal of Africa Nursing Sciences. 12 100177. doi:10.1016/j.ijans.2019.100177.
  26. 1 2 Dunbar R, Bzdok D (2020). "The Neurobiology of Social Distance". Trends in Cognitive Sciences. 24 (9): 717–733. doi:10.1016/j.tics.2020.05.016. PMC 7266757. PMID 32561254.
  27. Parker P (1 Desember 2009). "Why loneliness can be contagious". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Maret 2013. Diakses tanggal 10 Desember 2012.
  28. Christakis N, Fowler J (2013). "Social contagion theory: examining dynamic social networks and human behavior". Statistics in Medicine. 32 (4): 556–577. Bibcode:2013StMed..32..556C. doi:10.1002/sim.5408. PMC 3830455. PMID 22711416.
  29. Cacioppo JT, Fowler JH, Christakis NA (2009). "Alone in the crowd: the structure and spread of loneliness in a large social network". Journal of Personality and Social Psychology. 97 (6): 977–991. doi:10.1037/a0016076. PMC 2792572. PMID 19968414.
  30. Sum S, Mathews RM, Hughes I, Campbell A (2008). "Internet Use and Loneliness in Older Adults". CyberPsychology & Behavior. 11 (2): 208–211. doi:10.1089/cpb.2007.0010. PMID 18422415. S2CID 206156298.
  31. Shaw LH, Gant LM (2002). "In Defense of the Internet: The Relationship between Internet Communication and Depression, Loneliness, Self-Esteem, and Perceived Social Support". CyberPsychology & Behavior. 5 (2): 157–171. CiteSeerX 10.1.1.563.2946. doi:10.1089/109493102753770552. PMID 12025883. {{cite journal}}:
  32. "Is the Internet the Secret to Happiness?". Time. 14 Mei 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 25 April 2012. Diakses tanggal 25 Maret 2012.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  33. Moretta, T., Buodo, G. (2020). "Problematic Internet Use and Loneliness: How Complex Is the Relationship? A Short Literature Review". Current Addiction Reports. 7 (2): 125–136. doi:10.1007/s40429-020-00305-z. S2CID 212620349.
  34. 1 2 3 4 Victor C, Mansfield L, Kay T, Daykin N, Lane J, Duffy LG, et al. (Oktober 2018). An overview of reviews: the effectiveness of interventions to address loneliness at all stages of the life-course (PDF). whatworkswellbeing.org (Laporan). Diakses tanggal 1 Maret 2020.
  35. Nowland R, Necka EA, Cacioppo JT (2018). "Loneliness and Social Internet Use: Pathways to Reconnection in a Digital World?". Perspectives on Psychological Science. 13 (1): 70–87. doi:10.1177/1745691617713052. PMID 28937910.
  36. Boomsma DI, Willemsen G, Dolan CV, Hawkley LC, Cacioppo JT (2005). "Genetic and Environmental Contributions to Loneliness in Adults: The Netherlands Twin Register Study". Behavior Genetics. 35 (6): 745–752. CiteSeerX 10.1.1.453.498. doi:10.1007/s10519-005-6040-8. PMID 16273322. S2CID 674438. {{cite journal}}:
  37. Weiss R (1973). Loneliness: The Experience of Emotional and Social Isolation. Cambridge, MA: The MIT Press.[tanpa ISBN][halaman dibutuhkan]
  38. Diehl K, Jansen C, Ishchanova K, Hilger-Kolb J (2018). "Loneliness at Universities: Determinants of Emotional and Social Loneliness among Students". Int. J. Environ. Res. Public Health. 15 (9): 1865. doi:10.3390/ijerph15091865. PMC 6163695. PMID 30158447.
  39. 1 2 O'Súilleabháin PS, Gallagher S, Steptoe A (2019). "Loneliness, Living Alone, and All-Cause Mortality: The Role of Emotional and Social Loneliness in the Elderly During 19 Years of Follow-Up". Psychosomatic Medicine. 81 (6): 521–526. doi:10.1097/PSY.0000000000000710. hdl:10344/8038. ISSN 0033-3174. PMC 6615929. PMID 31094903.
  40. Lasgaard M, Goossens L, HolmBramsen R, Trillingsgaard T, Elklita A (April 2011). "Different sources of loneliness are associated with different forms of psychopathology in adolescence". Journal of Research in Personality. 45 (2): 233–237. doi:10.1016/j.jrp.2010.12.005.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  41. Lesch E, Casper R, van der Watt AS (2016). "Romantic relationships and loneliness in a group of South African postgraduate students". South African Review of Sociology (dalam bahasa Inggris). 47 (4): 22–39. doi:10.1080/21528586.2016.1182442. ISSN 2152-8586. S2CID 152149835.
  42. Shah SG, Nogueras D, van Woerden HC, Kiparoglou V (5 November 2020). "The COVID-19 Pandemic: A Pandemic of Lockdown Loneliness and the Role of Digital Technology". Journal of Medical Internet Research (dalam bahasa Inggris). 22 (11) e22287. doi:10.2196/22287. ISSN 1438-8871. PMC 7647474. PMID 33108313.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  43. "How can we reduce the toll of loneliness in older adults?". NIHR Evidence (Plain English summary) (dalam bahasa Inggris). 2021-09-30. doi:10.3310/collection_47889.
  44. Peplau L, Perlman D (1982). "Perspectives on loneliness". Dalam Peplau LA, Perlman D (ed.). Loneliness: A sourcebook of current theory, research and therapy. New York: John Wiley and Sons. hlm. 1–18. ISBN 978-0-471-08028-2.
  45. Suedfeld P (1989). "Past the reflection and through the looking-glass: Extending loneliness research". Dalam Hojat M, Crandall R (ed.). Loneliness: Theory, research and applications. Newbury Park, California: Sage Publications. hlm. 51–56.
  46. Bicudo de Castro V, Muskat M (4 April 2020). "Inverted Crusoeism: Deliberately marooning yourself on an island" (PDF). Shima: The International Journal of Research into Island Cultures. 14 (1). doi:10.21463/shima.14.1.16.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  47. Larson R, Csikszentmihalyi M, Graef R (1982). "Time alone in daily experience: Loneliness or renewal?". Dalam Peplau LA, Perlman D (ed.). Loneliness: A sourcebook of current theory, research and therapy. New York: John Wiley and Sons. hlm. 41–53. ISBN 978-0-471-08028-2.
  48. Suedfeld P (1982). "Aloneness as a healing experience". Dalam Peplau LA, Perlman D (ed.). Loneliness: A sourcebook of current theory, research and therapy. New York: John Wiley and Sons. hlm. 54–67. ISBN 978-0-471-08028-2.
  49. de Jong-Gierveld J, Raadschelders J (1982). "Types of loneliness". Dalam Peplau LA, Perlman D (ed.). Loneliness: A sourcebook of current theory, research and therapy. New York: John Wiley and Sons. hlm. 105–119. ISBN 978-0-471-08028-2.
  50. Duck, S. (1992). Human relations (edisi ke-2). London: Sage Publications.[tanpa ISBN][halaman dibutuhkan]
  51. An Existential View of Loneliness Diarsipkan 27 September 2010 di Wayback Machine. – Carter, Michele; kutipan dari Abiding Loneliness: An Existential Perspective, Park Ridge Center, September 2000
  52. Tomšik R (2015). Relationship of loneliness and meaning of life among adolescents. In Current Trends in Educational Science and Practice VIII: International Proceedings of Scientific Studies. Nitra: UKF. hlm. 66–67. ISBN 978-80-558-0813-0.
  53. Love HK (1 Januari 2001). "Spoiled Identity: Stephen Gordon's Loneliness and the Difficulties of Queer History". GLQ: A Journal of Lesbian and Gay Studies. 7 (4): 487–519. doi:10.1215/10642684-7-4-487. ISSN 1064-2684. S2CID 145677903.
  54. Bost D (2019). Evidence of Being. University of Chicago Press. doi:10.7208/chicago/9780226589961.001.0001. ISBN 978-0-226-58982-4. S2CID 158970684.
  55. 1 2 Holt-Lunstad J, Smith TB, Layton JB (2010). "Social Relationships and Mortality Risk: A Meta-analytic Review". PLOS Medicine. 7 (7) e1000316. doi:10.1371/journal.pmed.1000316. PMC 2910600. PMID 20668659.
  56. Klinenberg E (9 Februari 2018). "Is Loneliness a Health Epidemic?". The New York Times. Diakses tanggal 1 Maret 2020. But is loneliness, as many political officials and pundits are warning, a growing "health epidemic"?"
  57. "All the Lonely Americans?". Komite Ekonomi Bersama Kongres Amerika Serikat. 22 Agustus 2018. Diakses tanggal 1 Maret 2020.
  58. 1 2 3 "Loneliness is a serious public-health problem". The Economist. 1 September 2018. Diakses tanggal 1 Maret 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  59. "Is there a loneliness epidemic?". Universitas Oxford. 11 Desember 2019. Diakses tanggal 20 Mei 2020.
  60. Twenge JM, Haidt J, Blake AB, McAllister C, Lemon H, Le Roy A (20 Juli 2021). "Worldwide increases in adolescent loneliness". Journal of Adolescence (dalam bahasa Inggris). 93: 257–269. doi:10.1016/j.adolescence.2021.06.006. ISSN 0140-1971. PMID 34294429. S2CID 236197751.
  61. "Project Loneliness in Europe". Pusat Penelitian Bersama. 11 Desember 2021. Diakses tanggal 15 Mei 2022.
  62. Baarck J, D'hombres B, Tintori G (16 November 2021). "Loneliness in Europe before and during the COVID-19 pandemic". Joint Research Centre of the European Commission.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  63. "HILDA Data Dictionary – Cross wave information". hildaodd.app.unimelb.edu.au. University of Melbourne. Diakses tanggal 10 Agustus 2023.
  64. Barth L (20 April 2022). "How Loneliness Is Damaging Our Health". The New York Times. Diakses tanggal 16 Februari 2024. Even before the pandemic, there was an 'epidemic of loneliness,' and it was affecting physical health and life expectancy.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  65. 1 2 Nirappil F (2 Mei 2023). "Loneliness poses profound public health threat, surgeon general says". The Washington Post. Diakses tanggal 16 Februari 2024. Loneliness presents a profound public health threat akin to smoking and obesity, U.S. Surgeon General Vivek H. Murthy warned in an advisory issued Tuesday that aims to rally Americans to spend more time with each other in an increasingly divided and digital society.
  66. "Social Isolation and Loneliness". www.who.int (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-03-18.
  67. "Loneliness an epidemic?". The Times of India. 2024-03-01. ISSN 0971-8257. Diakses tanggal 2024-03-18.
  68. Johnson S (16 November 2023). "WHO declares loneliness a 'global public health concern'". The Guardian. Diakses tanggal 16 Februari 2024. The World Health Organization has launched an international commission on loneliness, which can be as bad for people's health as smoking 15 cigarettes a day{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  69. Perappadan BS (2023-11-16). "WHO declares loneliness as a pressing global health threat". The Hindu (dalam bahasa Indian English). ISSN 0971-751X. Diakses tanggal 2024-03-18.
  70. 1 2 Rubenstein C, Shaver PR (1982). In search of intimacy. Delacorte Press. hlm. 3, 152, 172, 260, passim. ISBN 0-385-28480-2.
  71. Crane B (Maret 2017). "The Virtues of Isolation". The Atlantic. Diakses tanggal 5 April 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  72. McGraw JG (1986). Loneliness and spiritual growth. Religious Education Press. ISBN 0-89135-055-1.[halaman dibutuhkan]
  73. 1 2 Delistraty C (Juli 2016). "Only the lonely". aeon.
  74. Spreng RN, Dimas E, Mwilambwe-Tshilobo L, Dagher A, Koellinger P, Nave G, et al. (2020). "The default network of the human brain is associated with perceived social isolation". Nature Communications. 11 (1) 6393. Nature Publishing Group. Bibcode:2020NatCo..11.6393S. doi:10.1038/s41467-020-20039-w. PMC 7738683. PMID 33319780.
  75. "Loneliness and Isolation: Modern Health Risks". The Pfizer Journal. IV (4). 2000. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Januari 2006.
  76. "Chronic stress puts your health at risk". Mayo Clinic. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Mei 2017. Diakses tanggal 7 Juni 2018.
  77. "Loneliness, but not social isolation, predicts development of dementia in older people". NIHR Evidence (Plain English summary) (dalam bahasa Inggris). 2020-05-27. doi:10.3310/alert_40330. S2CID 241649845.
  78. Rafnsson SB, Orrell M, d'Orsi E, Hogervorst E, Steptoe A (2020-01-01). Carr D (ed.). "Loneliness, Social Integration, and Incident Dementia Over 6 Years: Prospective Findings From the English Longitudinal Study of Ageing". The Journals of Gerontology: Series B (dalam bahasa Inggris). 75 (1): 114–124. doi:10.1093/geronb/gbx087. ISSN 1079-5014. PMC 6909434. PMID 28658937.
  79. Terracciano A, Luchetti M, Karakose S, Stephan Y, Sutin AR (2 Oktober 2023). "Loneliness and Risk of Parkinson Disease". JAMA Neurology. 80 (11): 1138–1144. doi:10.1001/jamaneurol.2023.3382. PMC 10546293. PMID 37782489.
  80. 1 2 The Dangers of Loneliness – Marano, Hara Estroff; Psychology Today Kamis, 21 Agustus 2003
  81. Shelkova P (2010). "Loneliness". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Mei 2012. Diakses tanggal 14 Juli 2013.
  82. "APA Dictionary of Psychology". dictionary.apa.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 3 Juli 2020.
  83. Marano H. "The Dangers of Loneliness". Diakses tanggal 10 Desember 2012.
  84. Hawkley LC, Cacioppo JT (2003). "Loneliness and pathways to disease". Brain, Behavior, and Immunity. 17 (1): 98–105. doi:10.1016/S0889-1591(02)00073-9. PMID 12615193. S2CID 1336958.
  85. Masterson JF, Klein R (1995). Disorders of the Self: Secret Pure Schizoid Cluster Disorder. hlm. 25–27. Klein was Clinical Director of the Masterson Institute and Assistant Professor of Psychiatry at the Columbia University College of Physicians and Surgeons, New York
  86. Troop NA, Bifulco A (2002). "Childhood social arena and cognitive sets in eating disorders". British Journal of Clinical Psychology. 41 (2): 205–211. doi:10.1348/014466502163976. PMID 12034006.
  87. 1 2 Berman M (9 Juni 2015). "Kalief Browder and what we do and don't know about solitary confinement in the U.S." The Washington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 April 2019. Diakses tanggal 14 Maret 2019.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  88. "Testimony of Professor Craig Haney; Senate Judiciary Subcommittee on the Constitution, Civil Rights, and Human Rights Hearing on Solitary Confinement" (PDF). Senat Amerika Serikat. 19 Juni 2012. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 24 September 2018. Diakses tanggal 14 Maret 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  89. Davis N (24 April 2018). "Loneliness linked to major life setbacks for millennials, study says". The Guardian. Diarsipkan dari asli tanggal 25 Juli 2018. Diakses tanggal 25 Juli 2018.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  90. Matthews T, Danese A, Caspi A, Fisher HL, Goldman-Mellor S, Kepa A, et al. (24 April 2018). "Lonely young adults in modern Britain: findings from an epidemiological cohort study". Psychological Medicine. 49 (2): 268–277. doi:10.1017/S0033291718000788. PMC 6076992. PMID 29684289.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  91. Jaremka L, Andridge R, Fagundes C, Alfano C, Povoski S, Lipari A, et al. (2014). "Pain, depression, and fatigue: Loneliness as a longitudinal risk factor". Health Psychology. 38 (9): 1310–1317. doi:10.1037/a0034012. PMC 3992976. PMID 23957903.
  92. "All you need is love – and funding: 79-year-old Harvard study of human happiness may lose grant money". National Post (dalam bahasa Canadian English). 17 April 2017. Diakses tanggal 3 Desember 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  93. Nobel J (25 September 2018). "Forging Connection Against Loneliness". AFSP (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 13 Desember 2019. Diakses tanggal 13 Desember 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  94. 1 2 Stravynski A, Boyer R (2001). "Loneliness in Relation to Suicide Ideation and Parasuicide: A Population-Wide Study". Suicide and Life-Threatening Behavior (dalam bahasa Inggris). 31 (1): 32–40. doi:10.1521/suli.31.1.32.21312. ISSN 1943-278X. PMID 11326767.
  95. 1 2 3 "Young people and suicide". Samaritans (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 13 Desember 2019.
  96. Hertz N (25 September 2020). "Why loneliness fuels populism". Financial Times. Diakses tanggal 8 Desember 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  97. Hertz N (2020). "Bab 3 'The lonely mouse', 4 'Sex, Love and Robots'". The Lonely Century: Coming Together in a World that's Pulling Apart. Sceptre. ISBN 978-1-5293-2925-4.
  98. Arendt H (2020). "Bab 13". The Origins of Totalitarianism. Penguin Classics. ISBN 978-0-241-31675-7. [Totalitarianism] bases itself on loneliness, on the experience of not belonging to the world at all, which is among the most radical and desperate experiences of man
  99. Langenkamp A (2021). "Lonely Hearts, Empty Booths? The Relationship between Loneliness, Reported Voting Behavior and Voting as Civic Duty". Social Science Quarterly. 102 (4): 1239–1254. doi:10.1111/ssqu.12946. S2CID 233677284.
  100. Rydgren J (2011). "A legacy of 'uncivicness'? Social capital and radical right-wing populist voting in Eastern Europe". Acta Politica. 46 (2): 132–157. doi:10.1057/ap.2011.4. S2CID 144167377.
  101. Zhirkov K (2014). "Nativist but not alienated: A comparative perspective on the radical right vote in Western Europe". Party Politics. 20 (2): 286–296. doi:10.1177/1354068813511379. S2CID 144100979.
  102. Langenkamp A (2025). "Linking social deprivation and loneliness to right-extreme radicalization and extremist antifeminism". Current Opinion in Behavioral Sciences. 63 101525. doi:10.1016/j.cobeha.2025.101525. ISSN 2352-1546.
  103. Cacioppo J, Patrick W (2008). Loneliness: Human Nature and the Need for Social Connection. New York: W.W. Norton & Co. ISBN 978-0-393-06170-3.
  104. Jaremka LM, Fagundes CP, Glaser R, Bennett JM, Malarkey WB, Kiecolt-Glaser JK (2013). "Loneliness predicts pain, depression, and fatigue: Understanding the role of immune dysregulation". Psychoneuroendocrinology. 38 (8): 1310–1317. doi:10.1016/j.psyneuen.2012.11.016. PMC 3633610. PMID 23273678.
  105. Jaremka LM, Fagundes CP, Peng J, Bennett JM, Glaser R, Malarkey WB, et al. (2013). "Loneliness Promotes Inflammation During Acute Stress". Psychological Science. 24 (7): 1089–1097. doi:10.1177/0956797612464059. PMC 3825089. PMID 23630220.
  106. Ijzerman H. "Getting the cold shoulder". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Desember 2012. Diakses tanggal 1 November 2012.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  107. "Psychotherapy". Depression.com. Diarsipkan dari asli tanggal 17 Desember 2009. Diakses tanggal 29 Maret 2008.
  108. "The Truth About Antidepressants". WebMD. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Desember 2010. Diakses tanggal 30 Maret 2008.
  109. "Loneliness Annual Report: the first year". Pemerintah Britania Raya. 20 Januari 2020. Diakses tanggal 17 Mei 2020.
  110. Gerst-Emerson K, Jayawardhana J (2015). "Loneliness as a Public Health Issue: The Impact of Loneliness on Health Care Utilization Among Older Adults". American Journal of Public Health. 105 (5): 1013–1019. doi:10.2105/AJPH.2014.302427. PMC 4386514. PMID 25790413.
  111. Apter C (13 Maret 2019). "The benefits of social prescribing – and a word of warning". Mental Health Today. Diakses tanggal 20 Mei 2020.
  112. Haslam SA, Haslam C, Dingle G, et al. (April 2024). "Tackling loneliness together: A three-tier social identity framework for social prescribing". Group Processes & Intergroup Relations. 27 (5): 1128–1150. doi:10.1177/13684302241242434.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  113. Leavell MA, Leiferman JA, Gascon M, Braddick F, Gonzalez JC, et al. (Agustus 2024). "Connecting through nature: A systematic review of the effectiveness of nature-based social prescribing practices to combat loneliness". Landscape and Urban Planning. 248 105071: 0169–2046. Bibcode:2024LUrbP.24805071L. doi:10.1016/j.landurbplan.2024.105071. hdl:10230/60690.
  114. 1 2 3 Mills S (6 September 2017). "Loneliness: Do Interventions Help?" (PDF). University of Chester. Diakses tanggal 16 Mei 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  115. Wiles J, Morgan T, Moeke-Maxwell T, Black S, Park HJ, Dewes O, et al. (2019-10-03). "Befriending Services for Culturally Diverse Older People". Journal of Gerontological Social Work (dalam bahasa Inggris). 62 (7): 776–793. doi:10.1080/01634372.2019.1640333. ISSN 0163-4372. PMID 31296128.
  116. "Fillon lance la grande cause nationale 2011: la lutte contre la solitude". Le Point. 2024-12-22. Diakses tanggal 2024-09-04.
  117. Loneliness Annual Report: the first year (Laporan). Pemerintah Britania Raya. 20 Januari 2020. Diakses tanggal 18 Mei 2020.
  118. Birnstengel G (17 Januari 2020). "What Has the U.K.'s Minister of Loneliness Done to Date?". Next Avenue. Diakses tanggal 18 Mei 2020.
  119. Anderson J (9 Oktober 2018). "Loneliness is bad for our health. Now governments around the world are finally tackling it". Quartz. Diakses tanggal 18 Mei 2020.
  120. Viola Stefanello (19 Oktober 2019). "Lonely in Berlin: German capital mulls Commissioner for Loneliness". Euronews. Diakses tanggal 18 Mei 2020.
  121. Yi BL (22 Juli 2019). "Grey fingers: Ageing Singapore uses gardening to fight loneliness". Thomson Reuters Foundation. Diakses tanggal 18 Mei 2020.
  122. Blodgett JM, Tiley K, Harkness F, Musella M (2025). "What works to reduce loneliness: a rapid systematic review of 101 interventions". Journal of Public Health Policy. 46 (2): 245–268. doi:10.1057/s41271-025-00561-1. ISSN 0197-5897. PMC 12119363. PMID 40050496. Diakses tanggal 2026-04-12.
  123. Balch O (20 Mei 2020). "AI and me: friendship chatbots are on the rise, but is there a gendered design flaw?". The Guardian. Diakses tanggal 20 Mei 2020.
  124. Titcomb J (23 Februari 2020). "Meet the Saatchi heir building 'virtual friends' to combat loneliness". The Daily Telegraph. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Januari 2022. Diakses tanggal 20 Mei 2020.
  125. 1 2 Shah SG, Nogueras D, van Woerden HC, Kiparoglou V (4 Juni 2021). "Evaluation of the Effectiveness of Digital Technology Interventions to Reduce Loneliness in Older Adults: Systematic Review and Meta-analysis". Journal of Medical Internet Research (dalam bahasa Inggris). 23 (6) e24712. doi:10.2196/24712. ISSN 1438-8871. PMC 8214187. PMID 34085942.
  126. Scalfari E (1 Oktober 2013). "The Pope: how the Church will change". la Repubblica. Diakses tanggal 18 Mei 2020.
  127. Doman F, Le Roux A (2010). "Die oorsake van en bydraende faktore tot eensaamheid – 'n literatuuroorsig" [The causes of loneliness and the factors that contribute towards it  A literature review]. Tydskrift vir Geesteswetenskappe (dalam bahasa Afrikaans). 50: 216–228.
  128. Johnson DP, Mullins LC (1989). "Religiosity and Loneliness Among the Elderly". Journal of Applied Gerontology. 8: 110–131. doi:10.1177/073346488900800109. S2CID 145242343.
  129. Zhou X, Sedikides C, Wildschut T, Gao DG (2008). "Counteracting Loneliness: On the Restorative Function of Nostalgia" (PDF). Psychological Science. 19 (10): 1023–1029. doi:10.1111/j.1467-9280.2008.02194.x. PMID 19000213. S2CID 45398320.
  130. Menurut Hannah Arendt (Bab 13 dari The Origins of Totalitarianism), Epiktetos adalah orang pertama yang secara serius membahas perbedaan antara kesendirian (solitude) dan kesepian (loneliness), meskipun terdapat beberapa pernyataan terpisah yang bahkan lebih awal mengenai hal ini, seperti Kato yang menyatakan bahwa "ia tidak pernah merasa kurang kesepian selain saat ia berada dalam kesendirian".
  131. Mishra P (2017). Age of Anger. Penguin Books. hlm. 75, 172, 187–188, 269–270, 336–338. ISBN 978-0-14-198408-7.
  132. Sheldon J (1948). "The Social Medicine of Old Age. Report of an Enquiry in Wolverhampton". Journal of Gerontology. 3 (4): 306–308.
  133. Garfield E (3 Februari 1986). "The Loneliness Researcher Is Not so Lonely Anymore" (PDF). Essays of an information scientist. University of Pennsylvania. Diakses tanggal 1 Maret 2020.
  134. Anderson KA (2019). "The Virtual Care Farm: A Preliminary Evaluation of an Innovative Approach to Addressing Loneliness and Building Community through Nature and Technology". Activities, Adaptation & Aging. 43 (4): 334–344. doi:10.1080/01924788.2019.1581024. S2CID 86570263.

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]