Lompat ke isi

Pulau Bacan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bacan
Peta Pulau Bacan
Peta
Peta interaktif Bacan
Geografi
LokasiIndonesia
Koordinat0°40′0″LS, 127°30′0″BT
KepulauanKepulauan Maluku
Luas2.053 km2
Titik tertinggiGunung Sibela (2.111 m)
Pemerintahan
NegaraIndonesia
ProvinsiMaluku Utara
Kota terbesarLabuha (42.521 jiwa)
Kependudukan
Penduduk85.396 jiwa (31 Desember 2023[1])
Kepadatan42 jiwa/km2
Kelompok etnikSuku Bacan, Suku Galela, Suku Tobelo, Suku Makean, Suku Ternate, Suku Tidore, Suku Buton, Bugis,
Benteng Oldebarneveld di Bacan pada tahun 1880

Pulau Bacan adalah sebuah pulau yang terdapat di Kepulauan Maluku tepatnya di sebelah barat daya Pulau Halmahera, Indonesia. Secara administratif Pulau Bacan masuk ke dalam wilayah Kabupaten Halmahera Selatan, provinsi Maluku Utara mencakup 7 kecamatan di kabupaten tersebut. Di pulau Bacan inilah, Labuha, ibu kota Kabupaten Halmahera Selatan berada. Pulau Bacan memiliki luas 2.053 km² dengan Gunung Batusibela (2.111 Mdpl) sebagai titik tertingginya.

Perjalanan Alfred Russel Wallace

[sunting | sunting sumber]

Pulau Bacan menjadi salah satu tempat pengumpulan spesimen Alfred Russel Wallace di Maluku antara Oktober 1858 dan April 1859. Dalam The Malay Archipelago, Wallace menguraikan kegiatan di sekitar permukiman, jalan menuju tambang batu bara, kawasan hutan, dan beberapa tempat yang dicapainya melalui perjalanan dengan perahu. Catatannya meliputi pengumpulan burung dan serangga, tumbuhan yang diamati, serta pemanfaatan hasil hutan oleh penduduk.[2]

Tempat tinggal dan kegiatan lapangan

[sunting | sunting sumber]

Setelah tiba, Wallace menerima tawaran menggunakan rumah yang disediakan bagi Residen Ternate. Ia kemudian memilih rumah kecil milik sultan di luar permukiman karena letaknya lebih dekat dengan aliran air dan jalan menuju hutan. Bangunan itu terutama dibuat dari pelepah sagu yang disebut gaba-gaba. Atapnya diperbaiki, sedangkan perabot kerja dibuat atau disusun dari bambu, papan, dan bahan yang dibawanya.[2]

Jalan menuju tambang melewati dataran berawa, aliran sungai, dan lereng berhutan. Wallace mencatat bahwa pembukaan hutan dan jalan setapak menyediakan lokasi untuk mencari serangga. Ia juga menerangkan bahwa tambang awal telah ditinggalkan setelah mutu batu baranya dinilai tidak memadai untuk uji penggunaan pada kapal uap Belanda. Ketika dikunjungi, pekerjaan telah dimulai pada lokasi lain untuk mencari lapisan batu bara yang lebih baik.[2]

Pengumpulan burung dan kupu-kupu

[sunting | sunting sumber]

Pada awal masa tinggal di Bacan, Ali, salah satu asisten Wallace, membawa burung dengan bulu dada hijau dan dua pasang bulu putih memanjang dari bagian sayap. Wallace menguraikan spesimen tersebut sebagai bentuk cenderawasih yang berbeda dari burung yang telah dikenalnya. Buku mencatat penamaan burung itu sebagai Semioptera wallacei oleh George Robert Gray. Uraian tersebut menyebut peran Ali dalam memperoleh spesimen yang diperiksa Wallace.[2]

Wallace juga mengumpulkan kupu-kupu yang dinamainya Ornithoptera croesus. Pengamatan awal dilakukan di hutan, sedangkan penangkapan berikutnya berlangsung di sekitar tumbuhan Mussaenda dan sungai berbatu. Lahi membantu mencari spesimen di sungai ketika kondisi alirannya menyulitkan Wallace. Pengumpulan berlangsung selama beberapa bulan dan menghasilkan lebih dari seratus individu jantan serta betina, dengan kondisi spesimen yang beragam.[2]

Tumbuhan dan hasil hutan

[sunting | sunting sumber]

Dalam perjalanan ke Langundi dan lokasi lain di sekitar Bacan, Wallace mencatat beberapa bentuk pandan, pohon penghasil damar, kenari, dan berbagai palem. Daun pandan dimanfaatkan untuk tikar, sementara damar diolah menjadi bahan penerangan dengan memasukkannya ke dalam tabung daun palem. Ia mengamati pengumpulan damar oleh penduduk serta pengirimannya untuk pasar Ternate. Di kawasan lain, tumbuhan yang dicatat mencakup palem berbuah merah, paku memanjat, dan pisang liar. Wallace meninggalkan Bacan pada 13 April menggunakan perahu pemerintah yang datang membawa beras bagi pasukan.[2]

Tempat menarik

[sunting | sunting sumber]

Selain menjadi tempat ibu kota kabupaten, di pulau Bacan juga terdapat:

  • Bandar Udara Oesman Sadik
  • Keraton Sultan Bacan
  • Benteng Bernevald (dibangun Portugis untuk menahan serangan Spanyol)
  • Pantai Pawete
  • Sungai Inggoi
  • Cagar Alam
  • Gunung Batusibela (2.111 m dpl)
  • Masjid Sultan Bacan (berusia lebih dari satu abad)
  • Makam beberapa sultan dan para ulama dari negeri Jiran

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ↑ "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2023". Diakses tanggal 2024-05-27.
  2. 1 2 3 4 5 6 Wallace, Alfred Russel (2024). Sejarah Nusantara (The Malay Archipelago): Perjalanan, Penjelajahan, serta Kajian Manusia dan Alam Indonesia. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia. ISBN 978-623-164-492-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]