Suku Jawa Banten
ꦮꦺꦴꦁꦗꦮꦧꦤꦠꦼꦊꦢꦶ Wong Jawa Banten, Wong Jawe Banten | |
|---|---|
Pakaian tradisional pengantin suku Jawa Banten. | |
| Jumlah populasi | |
| ca 500.000–750.000 (perkiraan) | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Banten (Kota Serang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, dan barat laut Kabupaten Tangerang) | |
| Bahasa | |
| B1: Jawa Serang (termasuk Jawa Mauk) B2: Sunda Banten, Betawi, dan Indonesia | |
| Agama | |
| Islam Sunni | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Jawa • Sunda (Sunda Banten) • Cirebon • Betawi |
Suku Jawa Banten (Jawa Serang: Wong Jawa Banten, Wong Jawe Banten) adalah kelompok etnis Jawa yang mendiami wilayah bagian utara provinsi Banten, terutama di Kota Serang, Kabupaten Serang (terutama di bagian tengah dan utara), Kota Cilegon, dan Kabupaten Tangerang (timur laut). Masyarakat Jawa Banten memiliki keunikan linguistik dan budaya yang membedakan mereka dari masyarakat Jawa di Jawa Tengah atau Jawa Timur, akibat interaksi berabad-abad dengan suku Sunda Banten dan pengaruh Kesultanan Banten yang masyarakatnya majemuk.[1]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Keberadaan masyarakat etnis Jawa di Banten tidak lepas dari sejarah perluasan kekuasaan Kesultanan Cirebon (dibantu oleh pasukan dari Kesultanan Demak) pada abad ke-16.[2] Dipimpin oleh Sunan Gunung Jati dan putranya Sultan Hasanuddin, pasukan gabungan Cirebon dan Demak menaklukkan pelabuhan Banten Girang dan Sunda Kalapa dari Kerajaan Sunda.
Para prajurit, ulama, dan bangsawan Jawa yang menetap di wilayah ini kemudian berasimiliasi dengan penduduk lokal yang merupakan etnis Sunda.[3] Seiring waktu, masyarakat Jawa yang menetap di wilayah tersebut kemudian membentuk identitas baru yang dikenal sebagai "Jawa Banten", yang menjadi pilar utama berdirinya Kesultanan Banten.[2]
Distribusi geografis
[sunting | sunting sumber]Masyarakat Jawa Banten sebagian besar terkonsentrasi di wilayah pesisir utara ujung barat Pulau Jawa, khususnya di provinsi Banten. Di wilayah ini, mereka tersebar merata di seluruh kecamatan yang ada di Kota Serang dan Kota Cilegon.[4] Selain itu, masyarakat Jawa Banten juga mendominasi wilayah bagian tengah dan utara Kabupaten Serang, meliputi daerah Puloampel, Bojonegara, Kramatwatu, Waringinkurung, Gunungsari (sebagian), Padarincang (sebagian), Mancak (sebagian), Anyar (sebagian), Pontang, Tirtayasa, Tanara, Ciruas, Lebakwangi, Carenang, Kragilan (sebagian), Kibin, Binuang, dan Cikande (sebagian).[4] Mereka juga mendiami wilayah bagian timur laut dan pesisir utara Kabupaten Tangerang (penutur bahasa Jawa Mauk), yang sebarannya mencakup kecamatan Mauk, Kresek, Kronjo, Mekar Baru, Gunung Kaler, serta sebagian wilayah kecamatan Kemiri, Sukadiri, Sukamulya, dan Rajeg.[5]
Selain di provinsi Banten, masyarakat Jawa Banten juga membentuk enklave etnis di provinsi Jawa Barat, tepatnya di wilayah utara Kabupaten Bekasi. Wilayah persebaran mereka meliputi kecamatan Sukatani, Tambelang, Sukakarya, Sukawangi, serta sebagian wilayah Cabangbungin, Pebayuran, Tambun Utara, Cibitung bagian utara, dan Karangbahagia. Di wilayah ini, bahasa Jawa dialek Banten yang dituturkan telah mengalami kontak bahasa yang intensif, sehingga bercampur dengan bahasa Betawi dialek Bekasi serta sebagian bahasa Sunda dialek Bekasi, terutama di kecamatan Pebayuran dan Karangbahagia.
Bahasa
[sunting | sunting sumber]Masyarakat Jawa Banten terutama menggunakan bahasa Jawa Serang (sering disebut sebagai basa Jawa Serang). Bahasa ini memiliki dua tingkatan utama:[6]
- Ngoko: Digunakan dalam percakapan sehari-hari antar-teman atau orang yang sudah akrab.
- Bebasan atau Krama: Digunakan kepada orang tua, tokoh masyarakat, atau dalam acara adat.
Secara fonetik dan kosakata, bahasa Jawa Serang mempertahankan bentuk dialek Jawa bagian barat (rumpun Banyumasan) dan menyerap banyak kosakata dari bahasa Sunda Banten serta bahasa Melayu (termasuk bahasa Betawi), sehingga memiliki ciri kebahasaan yang sangat berbeda dari dialek Surakarta–Yogyakarta sebagai ragam standar.[3][1]
Budaya dan kesenian
[sunting | sunting sumber]Kebudayaan Jawa Banten sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam yang kuat serta tradisi pertanian dan maritim era Kesultanan Banten. Beberapa kesenian khas meliputi:
- Debus: Kesenian bela diri yang menunjukkan kekebalan tubuh terhadap benda tajam, yang dahulu digunakan untuk memompa semangat perjuangan melawan penjajah.
- Dzikir Saman: Tarian ritual keagamaan yang memadukan lantunan selawat dengan gerakan tubuh yang ritmis.
- Tari Topeng Banten: Tarian tradisional yang menggunakan topeng, kerap dipentaskan dalam menyambut tamu kehormatan.
Lihat juga
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Humas FIB UGM. (2026). "Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa". Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Diakses 27 Oktober 2026.
- 1 2 Banten Press. (2026). "Sejarah dan Asal Usul Wong Jawa di Tanah Banten". @bantenpress via Instagram. Diakses 27 Oktober 2026.
- 1 2 Sulaeman, A. (2019). "Javanese Language of Banten Dialect". Journal of English Language and Literature (JELL), hlm. 117. Diakses 27 Oktober 2026.
- 1 2 Yuliana, dkk. (2023). "Internalisasi Identitas Banten Melalui Pembelajaran Bahasa Daerah Jawa Serang". Jurnal Holistika Universitas Muhammadiyah Jakarta, 7(1), hlm. 59. Diakses 27 Oktober 2026.
- ↑ Enawar, dkk. (2024). "Perbandingan Penggunaan Bahasa Jawa Serang dan Jawa Mauk pada Masyarakat Banten". Jurnal Ilmu Linguistik Universitas Muhammadiyah Tangerang, 3(2), hlm. 185. Diakses 27 Oktober 2026.
- ↑ Suryani, I., & Masduki, M. (2017). "Pengaruh Pemakaian Bahasa Daerah Terhadap Identitas Masyarakat Banten". Jurnal Membaca Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, 2(1), hlm. 36. Diakses 27 Oktober 2026.